Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Memaknai Sang Waktu

Memaknai Sang Waktu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Akh, afwan ya ana telat untuk hadir syura ini”

“Oh ya tak apa silakan duduk” sesaat kemudian lalu hening….

“Sekadar untuk mengingatkan kembali Terima kasih kepada semua para pejuang-pejuang dakwah yang telah dengan susah payah untuk hadir syura ini dan juga sangat berterima kasih kembali kepada saudara kita yang terlambat karena dengan keterlambatan Anda kemenangan dakwah di kampus ini pun ikut terlambat/terhambat”

dakwatuna.com – Sahabat, jika kita kembali meresapi secuil hikmah di atas sungguh sangat menampar sekali jiwa ini. Pengalaman di atas penulis dapat dari sahabat ketika waktu di SMK dahulu, walaupun tidak mengalaminya secara langsung tetapi ketika mendengarnya hati ini serasa kembali diingatkan tentang diri ini yang selalu lalai dengan sang waktu.

Betapa tidak kita sadari bahwa keterlambatan-keterlambatan kita pada agenda kebaikan bisa jadi itulah akumulasi terlambatnya kemenangan dakwah ini untuk datang menghampiri. Kelalaian yang tanpa sadar kita pelihara yang seakan menganggap bahwa kitalah orang yang paling dibutuhkan yang dengan seenaknya bisa datang kapan pun kita mau.

Sahabat, tentu kita mengenal 10 muwashafat tarbiyah yang di mana salah satu isinya yaitu Haritsun ‘ala Waqtihi yaitu manajemen waktu. Allah memberikan kita waktu 24 jam, sama, dari zaman Nabi Adam hingga hari ini yang harus kita gunakan sebaik mungkin dan seefisien mungkin.

Ada sebait kisah menarik dari Imam Sulaim Ar Razi, salah seorang ulama Syafi’ah yang meninggal tahun 447 H. Seperti yang diceritakan oleh Muammil bin Hasan bahwa pada suatu hari ia melihat pena Sulaim Ar Razi rusak dan tumpul, ketika ia memperbaiki penanya tersebut terlihat ia menggerak-gerakkan mulutnya, setelah diselidiki ternyata di membaca Al Qur’an di sela-sela memperbaiki penanya, dengan tujuan agar tidak terbuang begitu saja waktunya dengan sia-sia

Sahabat, masih segar dalam ingatan kita perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna, “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Gunakanlah skala prioritas dalam menentukan suatu aktivitas dimulai dari yang penting & mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi tidak mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak.

Kita juga tentu mengetahui bahwa Allah pun bersumpah dalam beberapa waktu yaitu “Demi Dhuha”, Demi Fajar, Demi Subuh, Demi cahaya merah pada waktu senja, Demi Malam, Demi Siang, dan Demi Masa.” Sumpah Allah yang berulang kali atas nama waktu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Sahabat, mari kita mulai kembali untuk menata waktu-waktu kita yang tercecer begitu banyak untuk hal yang sia-sia. Semoga kita termasuk hamba-nya yang bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin untuk sesuatu yang bermanfaat. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi. (Abdullah Syarif)

Karena…