Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Salman Al-Farisi Versi Modern

Salman Al-Farisi Versi Modern

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Kamis pagi, setelah sahur, shalat subuh dan dzikir al-ma’tsurat saya sedikit tertarik dengan tayangan di salah satu stasiun TV swasta. Di tayangan tersebut, menceritakan perjalanan seorang reporter di sebuah Negara, Negara itu adalah Korea Selatan dan menceritakan kisah para muallaf di sana. Bisa kita bayangkan, bagaimana kuantitas dan keadaan umat muslim di negara seperti Korsel tersebut. Muslim di sana sangatlah minoritas, situasi dan kondisi di sana seakan tidak mendukung keberadaan seorang umat muslim. Gak perlu kita berpikir jauh-jauh untuk berdakwah secara bebas di sana seperti layaknya di Indonesia, untuk mereka mencari makanan yang halal dan thayyib saja sangatlah sulit… inilah sebagian potret keadaan saudara seiman kita di sana.

Sang reporter pun mengunjungi salah satu masjid yang ada di sana, masjid tersebut sangat ramai oleh para umat muslim bermata sipit. Ternyata di masjid tersebut terdapat kegiatan seperti kajian Islam, pada kajian itu dihadiri oleh para umat muslim yang berusia antar 17 tahun s/d 30 tahun. Wajah mereka sangat antusias mengikut kajian tersebut, kajian tersebut rutin tiap pekannya. Di dalam kajian ada banyak hal yang dibahas oleh moderator, dari ilmu fiqih, sharing antar muallaf sampai games sehingga tidak membosankan. Yang uniknya lagi, para peserta berasal dari seluruh penjuru dunia (tidak semuanya orang Korea) tapi itu bukan berarti menjadi kendala dalam kajian tersebut. Karena ada moderator yang menerjemahkan bahasa pembicara, baik ke bahasa Korea maupun bahasa Inggris.

Selepas reporter mengikuti kajian tersebut, reporter mewawancarai beberapa muallaf. Muallaf yang pertama bernama, sebut saja Abdullah (nama setelah muallaf). Pada awalnya Abdullah hanya mengkaji kisah seorang manusia yang bernama Muhammad SAW, ia tertarik sehingga ia terus mencari tahu. Pada awalnya, yang ia tahu nama Muhammad hanyalah sebuah tulisan Arab, tidak lebih. Namun, setelah ia mengkaji lebih lanjut ternyata Muhammad SAW adalah sosok Nabi dan sosok suri tauladan yang baik. Kemudian ia memutuskan untuk segera memeluk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini pun ia beri tahu kepada keluarganya yang menganut agama Katolik yang alim, pada awalnya keluarga Abdullah kecewa dengan keputusannya, tapi Alhamdulillah akhirnya menghargai akan keputusan itu. Jika Abdullah sedang beribadah-pun keluarganya tidak ada yang mengganggu. “Ini adalah tugas saya, saya harus memberitahukan kepada keluarga saya, bahwa hanya ajaran Islam-lah yang benar dan Islam adalah sebaik-baik agama” pernyataan ini sungguh membuat saya tersentuh dan malu, begitu kuat tekad seorang muallaf ini padahal ia ‘baru saja’ mengenal Islam. Kemudian ia berkata “Asyhadu alla ilaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” ini adalah dua kalimat syahadat yang berfungsi sebagai pengingat bahwa ia adalah seorang muslim. Subhanallah…

Kemudian reporter bertemu dengan seorang muslimah Korea yang seorang muallaf juga, Isro namanya. Kini ia berusia 17 tahun, usia yang masih sangat belia untuk mengambil keputusan pindah agama. Tapi ketika hidayah Allah sudah datang, maka tak satu pun yang dapat mencegahnya. Isro kini bersekolah di sekolah Kristen, hingga saat ini pun ia masih merahasiakan status keislamannya pada keluarga dan teman-teman sekolah. Lalu di berujar “saya akan mengatakan hal ini pada keluarga saya, karena ini adalah tugas saya” dengan senyuman ia berkata seperti itu. Saat ini-pun ia memutuskan untuk menggunakan kerudung ia berkata “dengan menggunakan kerudung, saya lebih terlindungi dan saya lebih dikenal sebagai seorang muslimah” subhanallah begitu mantap tanpa rasa ragu dan malu Isro berkata seperti itu. Tapi, sayangnya ia hanya bisa menggunakan kerudung di luar rumah dan di luar sekolah. Karena keluarga belum ada yang tahu mengenai hal ini, tapi jujur…saya sungguh sangat salut dan kagum pada seorang Isro. Dan ia juga berkata “saya ingin menikah dengan seorang muslim, agar saya bisa bebas menggunakan kerudung” semoga impianmu terkabul saudaraku.

Inilah potret Salman Al-Farisi era modern, kedua orang muallaf tadi dengan bangga, tanpa rasa malu mengatakan bahwa mereka adalah seorang muslim. Dengan tekad yang kuat pula mereka terus belajar, belajar dan belajar mengenai Islam. Mereka juga terus bertahan di tengah keadaan yang sangat minoritas di sana, dengan keadaan keluarga mereka yang sangat bertolak belakang dengan jalan yang mereka pilih.

Potret saudara kita yang di sana bisa menjadi cambukan khusus untuk kita sendiri. Sudahkah kita bangga dengan status keislaman kita? Sudahkah kita bangga dengan kerudung yang kita gunakan saat ini? Sudahkah kita bersyukur atas agama yang kita tempuh atas dasar nasab orang tua kita? Dan apakah Islam hanya menjadi status saja atau tidak??? Semua pertanyaan ini wajib kita renungi saudaraku…

Allah-pun berfirman dalam surat cintaNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Qs. Al-Fushshilat: 30)

Wallahu’alam bisshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nadhia Dwi Lestari
Muslimah. Mawar haroki KAMMI Sumedang. Mahasiswi. Indonesian.

Lihat Juga

Love, Cinta, Valentine

Cinta Sebagai Energi Kemenangan

Organization