01:01 - Sabtu, 29 November 2014
Najwa Fahrini

Mari Belajar Dari Proses Mutasi DNA

Rubrik: Pengetahuan | Oleh: Najwa Fahrini - 27/08/12 | 10:30 | 09 Shawwal 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kita sering mendengar istilah ini dalam dunia kedokteran. Mutasi dapat diartikan sejumlah perubahan rangkaian basa DNA yang terjadi karena kesalahan saat terjadi replikasi atau perbaikan DNA. Produk yang dihasilkan karena proses ini biasanya abnormal. Bila mengenai sel induk, mutasi akan diteruskan kepada generasi sel berikutnya di dalam organisme. Begitu agung Allah tunjukkan agar manusia mengambil hikmah melalui ilmu pengetahuan tentang karakteristik DNA ini. Sebagaimana DNA yang membentuk rangkaian kromosom penyusun tubuh manusia, saya melihat adanya korelasi antara Ramadhan kemarin dengan proses mutasi ini.

Meningkatnya laju mutasi dalam rangkaian DNA bisa terjadi karena beberapa faktor di antaranya virus, zat kimia, sinar ultraviolet, dan radiasi pengion. Ramadhan tak serta merta membuat manusia, baik sebelum dan saat menjalani ibadah di dalamnya akan menghasilkan manusia unggulan ketika keluar darinya yaitu memiliki hati yang cerdas (qolbun salimun) dan berpikiran global (berwawasan jauh ke depan).

Cerdas ketika manusia tersebut dapat menahan dari yang halal namun diharamkan Allah selama berpuasa, dari mulai terbit fajar sampai matahari terbenam. Sadar dengan wawasannya yang global, berpikir jauh untuk hari esok (di akhirat) dari hikmah sahur. Ia yakin bahwa perjalanannya membutuhkan bekal dan semua pasti ada kesudahannya. Lapar dan dahaganya di dunia akan dibalas dengan kedamaian naungan surga.

Mutasi pada karakter manusia, apa penyebabnya?

Virus-virus hati

Riya’, ujub, hasut, iri, dan yang lain. Mungkin kita sudah pernah terpapar virus ini sebelum Ramadhan tiba. Berusaha untuk bangkit tapi seringnya jatuh lagi. Hal ini bisa jadi disebabkan kurangnya imunitas yang kita miliki. Tak introspeksi dan membekali diri (persiapan menyambut Ramadhan) menyebabkan mudah bagi virus-virus itu untuk menyerang kembali. Begitu lembut merasuk dan mengelabui system pertahanan tubuh. Walaupun tak kasat mata tapi masih bisa dirasa.

Zat kimia berbahaya

Saya tahu Ramadhan adalah bulan berkah bagi para penjual ta’jil dan warung-warung yang menjual menu berbuka. Tapi karena ganasnya virus hati yang menyerang tadi akhirnya membuat para pedagang itu menggunakan trik licik agar tak kalah dalam omset penjualannya dengan pedagang yang lain. Apalagi kalau tidak dengan memasukkan bahan kimia yang berbahaya bagi konsumen. Aji mumpung. Dan seringnya sebagai konsumen pun menyepelekan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Asal telan, asal kenyang, harganya? Yang pasti asal pas di kantong. Akibatnya? Bukan hanya mutasi keluhuran hati yang menyerang para pedagang, tapi juga mutasi komposisi tubuh manusia yang akan terkena imbasnya. Sehingga puasa yang seharusnya membuat tubuh kita sehat, ketika keluar puasa kita malah jadi pesakitan.

Sinar Ultraviolet (Keduniawian)

Saya katakan sinar ini berbahaya. Untuk jasad, ruhani, dan pikir juga. Terangnya kemilau surga dunia yang ditawarkan dari kemewahan public figure menyambut Ramadhan, pusat perbelanjaan dan iming-iming iklan ternyata cukup menyita perhatian masyarakat kebanyakan. Jadilah kantong para pemilik industri itu jauh lebih berisi ketimbang baitul maal dan kotak-kotak yang bertengger di masjid. Kalau cahaya keberkahan Ramadhan yang begitu terang tak bisa menandingi sinar ini, bagaimana 11 bulan berikutnya?

Radiasi Lingkungan Sekitar

Inilah pentingnya mengkondisikan keluarga kita saat memasuki Ramadhan. Saya banyak belajar dari seseorang yang begitu menginspirasi. Menjelang Ramadhan kemarin beliau bersama suami dan ke 4 putranya menghias rumah. Menempel dinding ruang tamunya dengan berbagai pernik dan kertas warna warni. Tak lupa ucapan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” belum cukup sampai di situ ada satu penggalan kata lagi di bawahnya “Sampai Maghrib”. Masya Allah, haru saya melihatnya. Sehingga dengan antisipasi kita dalam keluarga setidaknya cukup menjadi proteksi. Anak-anak tak akan terpengaruh dengan anak tetangga yang pamer baju barunya. Atau di 10 hari terakhir mereka yang justru sibuk meningkatkan mobilitas di pasar dan dapur untuk mempersiapkan hidangan lebaran, sementara rumah kita semakin ramai seperti dengungan lebah dengan target khataman Al Quran.

Perlahan akan tampak dalam 11 bulan ke depan manusia-manusia yang mengalami mutasi baik jasad, ruhiyah, dan fikriyahnya karena kegagalan proses replikasi DNA kebaikan di bulan Ramadhan kemarin. Bagaimana dengan DNA itu sendiri? Sesuai dengan tuntunan Rabbnya, ketika terjadi mutasi DNA-DNA itu lantas melakukan perbaikan. Perbaikan yang paling krusial adalah dengan memelihara integritas informasi di dalam molekul DNA, yang memiliki fungsi teramat penting bagi kelangsungan hidup suatu organisme dan spesiesnya. Begitu pun manusia sebagai satu struktur komplek DNA dan sebagai spesies yang berhasil hidup, harusnya dapat mengembangkan mekanisme untuk memperbaiki kerusakan DNA kebaikan yang terjadi akibat kekeliruan replikasi atau akibat pengaruh lingkungannya.

Najwa Fahrini

Tentang Najwa Fahrini

Dentist, blogger, city walker. Aktif sebagai blogger detik.com. Kini tercatat sebagai relawan korps kedokteran Gigi Bulan Sabit Merah Indonesia cabang Surabaya. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 9,57 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
109 queries in 1,822 seconds.