Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Adam (dan Hawa)

Adam (dan Hawa)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com
Bagaimana kabar Ayah pagi hari ini?
Pagi ini, Aku sangat ingin menyapamu, menanyakan kabarmu, menanyakan rencana Ayah hari ini,
Apakah Ayah sudah sarapan? Apakah Ayah sehat?
Apakah Ayah baik-baik saja? Kenapa aku terus bertanya dan selalu ingin tahu tentang keadaanmu, Ayah?

Ayah,
Aku masih belum bertemu denganmu
Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seseorang
Aku merasa dia adalah engkau
Ternyata dia bukanlah engkau
Hingga seseorang datang
Entahlah, hati kecilku mengatakan dia bukan dirimu

Ayah, di manakah engkau berada?
Ayah, apakah engkau juga mencariku?
Sama seperti aku mencarimu?

Ayah, kenapa kita harus saling mencari?
Ayah, kenapa ini seperti kisah Adam dan Hawa?
Ayah, adakah yang salah di antara kita?
Apakah kita sedang dalam ujian-Nya?

Ayah,
Apakah karena dosa-dosa kita?
Apakah karena kita sudah melupakan-Nya?
Apakah karena kita tidak menghadirkan Dia dalam tiap waktu kita?
Apakah kita memang belum pantas untuk saling bertemu?
Ayah, apakah Ayah tahu jawabannya?

Ayah,
Pagi ini aku kembali merindukanmu
Perasaan rindu ini tidak seharusnya hadir sekarang
Mungkinkah Dia benar-benar hendak mengujiku, akankah aku memikirkanmu seorang atau aku tetap menjaga hatiku untuk-Nya?

Ayah,
Biarkan aku menyembunyikan perasaan rindu ini dalam diri
Aku menumpahkan perasaan rindu ini dalam malam-malam sunyi, dalam kepasrahan sujudku, dalam linangan airmata doaku

Ayah,
Maafkan aku.
Mungkin, karena dosa-dosaku kita masih terhalang untuk bertemu.
Mungkin, aku memang belum pantas untuk bertemu denganmu.

Ayah,
Aku baru menyadari ternyata aku memang belum pantas
Aku terlalu sibuk mencarimu
Tapi, aku tidak melihat diriku sendiri
Aku terlalu sibuk memantaskan diri untukmu, untuk dunia
Aku masih terlalu meng’hamba’ kepada makhluk ciptaan-Nya, meng’hamba’ kepada dunia ciptaan-Nya, bukan benar-benar kepada-Nya, kepada Sang Rabb

Sekarang,
Pagi ini dan pagi berikutnya aku memutuskan untuk tidak mencarimu lagi
Aku akan memurnikan niatku untuk bertemu denganmu
Aku akan mempersiapkan diriku sebaik-baiknya
Aku akan berusaha untuk benar-benar menjadi hamba yang ’pantas’ di hadapan-Nya

Ayah,
Aku tahu dan engkau pun tahu,
Nama kita berdua telah ditulis di Lauh Mahfudz-Nya
Seperti Adam dan Hawa, kita sudah ditakdirkan untuk bertemu
Kelak (entah) bertemu di dunia atau di akhirat

Ayah,
Bersabarlah, hingga akhirnya Dia mengizinkan kita untuk saling bertemu
Bertemu dan bersatu untuk lebih dan lebih menghamba kepada-Nya
Bertemu dan bersatu untuk saling melengkapi perjalanan meraih mahabbah cinta-Nya

Ayah,
Semoga kelak ketika Dia mempertemukan kita,
Kita berada dalam kerinduan yang fitri
Keistiqamahan menjaga diri,
Dalam ikatan suci yang bernaung doa dari para malaikat-Nya,
Dalam limpahan keberkahan dan kebarokahan-Nya
Ayah, Mohonkan doa untuk kita, untuk masa depan keluarga kita, untuk keturunan kita kelak

Selamat pagi Ayah,
Doaku menyertaimu selalu wahai (calon) Ayah anak-anakku.

Salam,
(Calon) Bunda anak-anakmu

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • curhatan pribadi seorang akhwat yang ingin menikah….cuma bis mendoakan semoga cepat mendapatkan sang pemilik tulang rusuk…amien

Lihat Juga

Ilustrasi. (wikimedia.org)

Hari Terakhir Bersama Ayah

Organization