21:56 - Rabu, 27 Agustus 2014
Abdullah Mujaddidi

Sarjana Ramadhan

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Abdullah Mujaddidi - 24/08/12 | 19:20 | 06 Shawwal 1433 H

(Maulana Ikhsan)

dakwatuna.com – Ramadhan telah meninggalkan kita, tanpa kita sadari apa hikmah yang bisa ambil dari Ramadhan tahun ini. Berbagai target telah direncanakan ketika awal Ramadhan, pelaksanaannya yang menjadi bukti. Tiga puluh hari itu menjadi bukti bagaimana keadaan iman kita sebenarnya. Waktu yang cukup lama untuk memperjuangkan konsistensi ibadah menyediakan waktu bagi kita untuk terus mengevaluasi kinerja dan konsep ibadah. Berbagai usaha kita lakukan untuk menggapai derajat pemenang di bulan mulia ini.

Dan semua pun akan berakhir, begitu pula Ramadhan. Di sini puncak ujian kita sebagai seorang hamba, mampukah kita menghadirkan ibadah terbaik selama sebulan penuh kepada Allah? Padahal semua ibadah adalah untuk kita sendiri kecuali satu, ibadah puasa. Kepasrahan kita dalam menyerahkan hadiah ini kepada Allah sangat mempengaruhi amalan sehari-hari. Banyak orang yang berpuasa tapi dirinya tidak mendapat apa-apa selain lapar dan haus. Sungguh amat disesalkan ketika ibadah spesial ini kita lewati dengan kesia-siaan.

Pelajaran berharga ini akan memberikan kita pengalaman yang berharga bagi diri sendiri di waktu yang akan datang. Kekuatan iman akan kembali diuji tatkala konsistensi amal ibadah kita digoyahkan dengan tiada keutamaan di waktu kita melaksanakannya. Sebenarnya pada masa itulah kita mendapat kemuliaan yang lebih sebagai seorang hamba sekaligus seorang ahli ibadah. Karena pada saat Ramadhan, dengan begitu mulianya bulan ini ditambah begitu semangatnya umat muslim lain dalam menjalankan ibadah, maka ketinggian nilai ibadah akan terasa wajar. Berbeda jika kita melakukan hal itu di hari-hari biasa.

Puncak ibadah terjadi ketika bulan Ramadhan, di hari biasa kebanyakan orang mengurangi kuantitas ibadahnya dan lebih fokus dalam urusan dunia. Atas sebab itu, maka tidak ada perbedaan secara realistis antara bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya. Ramadhan hanya bonus yang diberikan Allah untuk merangsang hamba-Nya dalam melakukan amalan ibadah. Ramadhan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas keimanan sehingga setelah Ramadhan keimanan kita bisa lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Setelah sebulan penuh kita memberikan hadiah ibadah kepada Allah, kini giliran Allah yang membalas. Allah berikan sebuah hari yang sangat istimewa, yang Allah jadikan hari itu sebagai perayaan atas kemenangan umat Islam dalam mengalahkan hawa nafsunya. Hari yang menandakan kelulusan atas perjuangan kita. Dengan kata lain, Allah telah mewisuda kita di hari itu. Sebuah wisuda atas keberhasilan kita dalam kesempurnaan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Maka patut bagi kita untuk menyandang sebuah gelar yang sangat istimewa, Sarjana Ramadhan. Layaknya seorang sarjana, maka hal terberat yang akan dihadapi adalah pasca kelulusan. Fakta di lapangan akan membuktikan apakah kita mampu menerapkan hasil sarjana, atau kemudian kita hanya menjadi pengangguran yang tak tentu arah.

Semua ini sangat tergantung pada keimanan yang telah membuat kita berkarya menjadi Sarjana Ramadhan. Seorang sarjana akan sangat berguna apabila hasil karyanya mampu menyumbangkan hal yang positif bagi sekitar. Maka apa yang kita lakukan seharusnya bisa berdampak positif dan semakin meningkat dalam hubungan kepada Allah dan juga sesama manusia.

Abdullah Mujaddidi

Tentang Abdullah Mujaddidi

Pengamat dan penikmat media. Media dan Opini BEM FEB UGM. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (3 orang menilai, rata-rata: 9,33 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
107 queries in 1,703 seconds.