Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Misi Pemuda

Misi Pemuda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Setelah Agustus Ramadhan ini, teriak nurani membuncah kembali. Menyeru pemuda-pemuda negeri yang berselimut dan berdiam diri. Untuk berkata seperti mereka di tahun 45 berkata “Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji, aku sudah cukup lama dengan bicaramu, dipanggang di atas apimu, digarami lautmu… Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu…“ kata Chairil Anwar.

Karena pemuda adalah nafas negeri ini. Sebanyak dan sekuat apa mereka sepanjang itu umur negeri kita. Karena pemuda kata Hasan al-Banna ‘‘di setiap umat adalah rahasia kebangkitannya; di setiap kebangkitan mereka adalah rahasia kekuatannya; dan di setiap ideologi mereka adalah para pengusung panjinya”.

Mereka mungkin masih sangat muda. Mungkin di bawah usia 40, atau 30, atau 25, tapi perubahan yang mereka ciptakan melebihi abad hidupnya, atau tercatat di memori sejarah bumi ini, atau bahkan terukir di dinding istana langit yang abadi.

Usia 24 bagi Muhammad al-Fâtih adalah realisasi mimpi delapan abad umat Islam membebaskan Konstantinopel. Reruntuhan Daulah Umawiyyah kembali berdiri menjulang di Andalus oleh pemuda 25 tahun, Abdurrahman ad-Dâkhil. Dua puluh dua tahun bagi Hârûn ar-Rasyîd adalah awal pemerintahan Dinasti Islam terbesar sepanjang sejarah hingga mencapai puncaknya, Daulah Abbasiyyah di Baghdad.  Sembilan belas tahun bagi Usamah bin Zaid adalah kematangan kepemimpinan untuk mengomandoi pasukan senior sahabat melawan Imperium raksasa Roma. Dan sepuluh tahunnya Ali bin Abi Thâlib adalah kesiapan menjadi dai khusus Islam yang membawa misi super rahasia di awal fase dakwah Mekah. Dan 25 tahun seorang Jenderal Sudirman, dalam sakit parahnya di hutan tetap membakar energi perlawanan di seluruh tanah air hingga melahirkan cikal bakal TNI.

Mereka lahir seperti pemuda zaman ini lahir, sama-sama menjalani durasi hidup yang belum lama dan mungkin tumbuh dalam situasi yang tidak sebaik sekarang, dengan segudang fasilitas hidup, dan setumpuk sarana belajar. Tapi mata mereka melihat dunia dengan pandangan yang lain. Sehingga saat Mu’awiyyah kecil ditanya mengapa tidak bermain-main seperti anak lainnya ia menjawab “aku tidak dilahirkan untuk itu”.

Ada misi besar yang selalu memanaskan hati mereka untuk bergerak. Bahwa kerja-kerja sebesar mitos yang dibaca di buku-buku sejarah dan pahlawan selalu menginspirasi mereka. Bahwa mengumpulkan ratusan ribu hadits shahih Nabi itu sesuatu yang mungkin di benak Imam Bukhari muda dan merumuskan ilmu baru, Ushul Fiqih untuk memahami Fiqih menghidupkan adrenalin Imam Syafi’i muda untuk ekstra keras belajar pada Imam Malik.

Misi-misi besar yang oleh sebagian besar orang dianggap mustahil menjadi hobi mereka. Dan semakin mereka gagal, semakin mereka tertantang mencoba sembari berkata kepada dirinya, tugas besar itu milikku, tangan ini yang akan menuntaskan. Mereka yakin bahwa kerja-kerja besar itu mungkin mereka lakukan.

Dari batu fondasi keyakinan terhadap misi-misi besar itulah menjulang bangunan kepribadian mereka yang seakan mustahil dibaca pemuda zaman ini. Seperti kekuatan belajar Abû Ayyûb al-Anshâri yang berjalan dari Madinah ke Mesir untuk mencatat satu hadits untuk kemudian langsung kembali ke Madinah tanpa turun dari untanya. Atau Ibnu Rusyd yang sejak muda hingga matinya, di malam-malamnya matanya tidak pernah lepas dari buku, atau Bukhari yang dalam semalam perlu menghabiskan 20 lilin untuk belajarnya.

Dari keyakinan itu juga lahir keterarahan hidup. Karena mimpi-mimpi yang dirangkai terasa mungkin di dalam pikiran maka semua panca indera menerjemahkan kemungkinan itu. Jadilah mata dan telinganya fungsional di jalan idealismenya, lidah dan pikirannya produktif untuk berkarya, dan hatinya selalu menyala menerangi langkah masa depannya. Sehingga saat semua siswa SMA itu hampir lulus Sang Guru memberi tugas mengarang cita-cita. Dan hanya Hasan al-Banna yang mengagetkan sekolahannya saat menulis mimpi terbesarnya adalah “untuk kejayaan agamaku, negeraku dan negeri-negeri Islam”, dan lebih mengagetkan lagi seluruh dunia karena pemuda yang syahid di usia 43 tahun itu telah merealisasikan mimpinya dan menanamkan ruh kebangkitan Islam di puluhan negeri Muslim.

Misi-misi besar itulah yang sekarang sedang mengantri. Sudah lama mereka menanti para pemuda yang akan menjemputnya. Kerja mempersiapkan kepemimpinan nasional yang selama ini mandul, kerja menata sistem negara yang boros, reformasi birokrasi yang rumit, HAM, solusi kemiskinan, optimalisasi sumber daya negara yang sering dicuri, perlindungan warga yang terabaikan di luar negeri, buruh, reformasi pendidikan, peningkatan kesehatan, bahkan solidaritas revolusi negara-negara Muslim, dan kemerdekaan Palestina.

Terlalu lama tema-tema tersebut tertutup rapat dalam ensiklopedi perpustakaan, atau dibahas di meja-meja rapat pejabat pemerintahan. Kurangilah beban orang tua yang sejak dulu berberat bahu. Karena saat ini, pemuda yang akan kembali memegang kendali. Kerja-kerja besar itu adalah proyek kami sekarang ini. Proyek pemuda. Karena kami tidak tahan lagi melihat saudara sendiri menangis kembali. Cukup sudah rakyat menunggu sejak dahulu. Tak ingin lagi pertanyaan-pertanyaan kami ‘‘membentur meja kekuasaan yang macet, dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan’’ seperti kata Rendra.

Karena itulah kita para pemuda hadir, karena dalam Sajak Sebatang Lisongnya Rendra melanjutkan ‘‘kita sendiri mesti merumuskan keadaan. Kita mesti keluar ke jalan raya, keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, dan menghayati persoalan yang nyata’’.

Inilah misi-misi kita para pemuda. Di mana lagi waktu untuk berleha dan berfikir hal-hal kecil? Masih adakah waktu lepas berbincang tanpa batas? Atau mengumbar naluri muda di mall-mall, cafe dan taman kota?

Pemuda pemikul misi-misi besar itu bukan mitos, dan pernah ada. Tangan pemuda zaman inilah yang akan membuatnya kembali ada atau menjadi sekadar legenda. Tidak ada yang membedakan antara Muhammad al-Fâtih,

Abdurrahman ad-Dâkhil, Hârûn ar-Rasyîd, Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thâlib, Jenderal Sudirman dan kita pemuda zaman ini. Kecuali firman Allah bahwa ‘‘mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhan-Nya, sehingga Kami tambah mereka petunjuk’’.

 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Elvandi, Lc
Muhammad Elvandi lahir di Bandung hari Sabtu tanggal 15 November 1986.Ia memulai pendidikannya di SDN Cibuntu 5 Bandung, selesai tahun 1998, SLTPN 25 Bandung selesai tahun 2001, hingga menuntaskan pendidikan dasarnya di SMUN 9 Bandung tahun 2004.Bahasa Arab mulai dikenalnya dari dasar selama dua setengah tahun di institut Bahasa Arab dan Studi Islam, Mahad Al Imarat Bandung dari tahun 2005-2007. Juga bahasa Inggris di LBPP-LIA selama sembilan bulan.Pengalaman menulis pertamanya adalah sebuah novel epic timur tengah zaman perang salib yang diselesaikan tahun 2006, Syair Cinta Pejuang Damaskus, diterbitkan pertama kali oleh As-Syamil kemudian oleh penerbit Pro-U.Pengalaman mengajar ia dapatkan ketika menjadi guru bahasa Inggris di SMU 11 Maret Bandung tahun 2006-2007 dan pelatih English Conversation untuk guru-guru SDIT Fitrah Insani Bandung Barat.Pertengahan tahun 2007 mendapatkan beasiswa kuliah S-1 di Universitas al-Azhar Mesir, dan mulai belajar di Cairo bulan November 2007, di fakultas Ushuluddn, jurusan Dawah wa Tsaqfah al-Islmiyyah.Selama menjadi mahasiswa di Mesir kembali menekuni aktivitas kepenulisan di beberapa buletin dan majalah mahasiswa. Juga terjun dalam aktivitas organisasi. Dan aktif juga menjadi pembicara materi keislaman dan trainer Leadership, Public Speaking dan kepenulisan di berbagai komunitas dan organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir.Buku keduanya terbit tahun 2010 berjudul Inilah Politikku oleh penerbit Era Intermedia.Bulan Oktober 2010, Elvandi menikahi seorang muslimah Prancis keturunan Turki, Neslihan Keles. Dikaruniai seorang putra bernama Alperenhan Fatih Cakrawala.Sekarang sedang melanjutkan pendidikan master di Institut Europen des Sciences Humaines (I.E.S.H.) de Paris Perancis, juga mengembangkan situs kajiannya

Lihat Juga

Ilustrasi (photobucket.com)

Menggenggam Janji Syawal