Home / Berita / Silaturahim / Khatib Idul Fitri di Aberdeen Ajak Muslim Aberdeen Berkontribusi untuk Komunitasnya

Khatib Idul Fitri di Aberdeen Ajak Muslim Aberdeen Berkontribusi untuk Komunitasnya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Refreshment selepas shalat. (Yos Ritzal)

dakwatuna.com “We are Aberdeen Muslim. There are thousands of us. What is our contribution to our community? Do we have a good mosque for pray, Islamic School for our children and Halal Slaughter House? Brothers and sisters, we need to do this initiative.”

Demikian salah satu otokritik dan himbauan yang disampaikan oleh khatib dalam khutbah Eid di Kota Aberdeen yang dipusatkan di Beach Leisure Centre, Kota Aberdeen, United Kingdom.

Ribuan jamaah memadati hall basket di komplek yang berlokasi di pinggir pantai tersebut. Kegembiraan terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Memakai pakaian terbaiknya, mereka bersalaman, berangkulan dan saling mendoakan dalam suasana penuh keakraban. Beberapa Muslim asal Indonesia juga terlihat di antara jamaah.

“Alhamdulillah, saya bisa berjumpa dengan teman-teman dari Indonesia di sini.” kata Luthfi. Tenaga kerja asal Indonesia yang baru pindah ke Aberdeen tiga bulan lalu. “Saya sudah tiga bulan di sini, namun baru kali ini bias komunitas Indonesia. Saya bertugas di lepas pantai dan baru ke darat sebulan ini.”

Sementara itu, Fitria Heny, muslim Indonesia yang berdomisili di Newcastle tampak keheranan, “Kok shalatnya di hall ya, padahal kan di luar ada lapangan luas dengan rumput yang sangat rapi.” Dokter asal Payakumbuh ini mengaku sengaja datang ke Aberdeen bersama keluarganya untuk membayar utang silaturahim dengan saudara di Aberdeen, sekalian ingin merasakan suasana I’tikaf dan shalat eid di sana.

“Ini adalah kali ketiga shalat Eid dilaksanakan di Beach Leisure Centre.” jelas Denny, salah seorang tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di salah satu perusahaan top di sana. Beliau menambahkan, “Pelaksanaan shalat Eid di gedung seperti sekarang lebih praktis dan murah dari segi biaya. Jika menyewa lapangan, selain biaya sewanya tinggi, panitia tetap mesti menyiapkan tenda dan alas di atas rumput untuk mengantisipasi cuaca yang sering tak menentu. Akibatnya biaya yang dikeluarkan menjadi sangat tinggi.”

Problem Muslim Aberdeen

Kota Aberdeen adalah kota ketiga terbesar di Scotland dan terkenal sebagai kota minyak dan kota granit. Menurut data dari Islamic Association of Aberdeen & North East of Scotland, di kota ini terdapat sekitar 5000 muslim beserta keluarganya dan umumnya bekerja di perusahaan minyak atau sebagai pelajar.

Menurut Dolly, salah seorang penggerak pengajian Indonesia di Aberdeen, Muslim Aberdeen hingga saat ini belum memiliki satu bangunan pun yang layak disebut Masjid dan bisa menampung banyak jamaah. Yang ada baru berupa ruangan rumah yang disulap menjadi tempat shalat.

Di bandingkan kota lainnya di United Kingdom, masjid di Aberdeen memang sangat memprihatinkan. Penulis hanya menemukan dua masjid saja di Aberdeen dan itupun hanya berupa rumah yang dimodifikasi yakni Aberdeen Mosque dekat Aberdeen University dan Crown Terrace Mosque yang berada dekat Aberdeen Rail Station. Keduanya sangat sempit dan tidak sanggup menampung jamaah.

“Tanah kabarnya sudah tersedia, tapi izin pembangunan belum keluar dari City Council karena masih ada kendala yang belum terselesaikan.” ujar Dolly tanpa menjelaskan kendala dimaksud.

Halal bi halal Muslim Indonesia di Aberdeen

Selepas melaksanakan shalat Eid, puluhan Muslim asal Indonesia beserta keluarga berkumpul di rumah salah satu warga untuk melaksanakan halal bi halal. Acara dipandu oleh Rizal Yaya, mahasiswa PhD bidang kebijakan publik di Aberdeen University dan diisi dengan kegiatan ceramah oleh Ustadz Hulail dan pembagian hadiah kepada anak-anak.

“Kita memberikan hadiah kepada anak-anak kita sebagai bentuk apresiasi kita terhadap prestasi dan effort dari mereka dalam menjalankan ibadah Ramadhan.” kata Rizal Yaya. Pemberian hadiah di awali dengan sharing kemajuan anak dari masing-masing orang tua.

Beberapa ibu-ibu juga mendapatkan hadiah kejutan dari tim tahsin karena berhasil menjawab quiz beberapa waktu sebelumnya.

Menutup kegiatan pengajian, Rizal Yaya mengingatkan, “Pengajian rutin kita adalah salah satu wadah kita untuk saling mengingatkan dan saling menasihati. Semoga Allah kita ini kelak dikumpulkan kembali oleh Allah di surga.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Yosritzal
Dosen Universitas Andalas, saat ini sedang menempuh study S3 di Newcastle University Inggris. Pernah menjabat sebagai Ketua Keluarga Islam Indonesia Britania Raya (Kibar) Periode 2010-2011.

Lihat Juga

Pauline Hanson dalam pidatonya yang bernada Islamofobia di Parlemen Australia, Rabu (14/9/2016). (abc.net.au)

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim