Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yuk! Perbanyak Saat Indah Bersama Ramadhan

Yuk! Perbanyak Saat Indah Bersama Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Mendapatkan sesuatu yang telah lama didambakan tentu merupakan suatu kebahagiaan. Khususnya jika sesuatu itu didapat melalui suatu proses perjuangan ataupun kendala. Tinggi gunung bukan halangan, terjal lembah bukan rintangan. Selagi di akhirnya barang yang diinginkan tercapai, tentu akan bahagia. Meski mungkin kebahagiaan itu tak bertahan lama, namun kenangan indah perjuangan untuk mencapainya akan terus membekas di hati.

Dengan beralasan mencari kebahagiaan, tak salah jika di Jepang, orang-orang akan berani beramai-ramai mengantri panjang di sebuah toko yang memasang label “Big Sale” “Big Bargain” atau label lain sejenis. Dari pagi buta, tak peduli hujan lebat ataupun angin kencang, mereka rela berdiri berderet panjang hanya sekadar untuk mendapatkan barang yang didamba. Apalagi jika barang tersebut barang-barang export, bermerek terkenal ataupun elektronik keluaran baru yang biasanya harganya mahal. Dan tak salah pula, jika di akhir acara “Sale”, ada yang menangis, kesal ataupun menyesal, karena merasa sedih kehilangan kesempatan mendapatkan barang-barang yang diinginkan.

Ramadhan bersanding dengan kebahagiaan dan kesedihan adalah kenikmatan yang saling melengkapi tak terpisahkan. Ada ikatan hakikat satu dengan yang lainnya.

Kebahagiaan? Karena Ramadhan tidak hanya semata berisi tentang ibadah puasa. Bukan pula sekadar menahan lapar dan nafsu. Di dalamnya terdapat bulan ampunan, bulan rahmat, bulan diijabah segala doa. Semua amalan baik, akan dilipatgandakan menjadi minimal 70 kali lipat. Bulan “Big Sale,” semua amalan shalih. Allah “obral” pahala sebanyak-banyaknya bagi hamba-Nya yang berpuasa. Pun tidurnya orang puasa, ia kan menjadi ”Big Sale” dikategorikan ibadah… Masya Allah.

Siapa pula yang tidak bahagia?  Jika dalam bulan Ramadhan Allah menjanjikan sebuah malam yang lebih dari seribu bulan. Malam di mana Allah pun turun ke bumi, dan mendatangi hamba-hambanya yang menghidupkan malam lailatul Qadr. Lalu di akhir Ramadhan, Allah berikan hadiah “Real Estate” termewah dengan segala isinya, yang tiada bandingannya berupa bangunan megah bernama surga Ar Rayyan. Yang selama Ramadhan, bangunan tersebut akan terus dipercantik dan dipercantik oleh tangan Allah langsung sebagai persiapan “Parcel Lebaran” bagi umatnya yang lulus melaksanakan ibadah puasa.

Seperti Rasulullah saw sampaikan “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan seraya berjanji pada dirinya bahwa setelah Ramadhan berlalu tidak akan bermaksiat kepada Allah, maka ia akan masuk surge tanpa pertanyaan dan hisab”

Betapa indahnya di penghujung umur, jika terpilih menjadi orang-orang yang mendapatkan surganya Allah.

Kesedihan? Saya teringat SMS tadi pagi dari salah sahabat teman muslimah Jepang. Isinya singkat, seperti ini “Ramadhan mo nokori sukunai, sabishiku kagiri…” (Ramadhan tinggal tersisa sedikit, terasa sedih banget ya…).

Membaca petikan tersebut, tak terasa roman bulu kunduk saya berdiri. Ada kesyahduan tersendiri membaca kalimat tersebut. Terlebih jika membayangkan, teman muslimah tersebut adalah seorang mualaf. Kecintaannya pada Allah, menghantarkan pada rasa kesedihan akan kehilangan bulan penuh berkah, Ramadhan.

Kesedihan akan kehilangan malam-malam khusyuk berkumpul dengan teman antar negara dalam shalat tarawih. Kesedihan akan kehilangan bulan penuh “Big Sale” pahala dari Allah. Kesedihan akan kehilangan pekan-pekan penuh keakraban dalam berbuka puasa bersama di setiap Ahad. Kesedihan akan kehilangan hari-hari “ngabuburit” mengunjungi beberapa masjid di Jepang bersama para mujahidah mualaf Jepang.  Ternyata, betul seperti mail dari sahabat di atas. Ada banyak kesedihan yang terasa ketika Ramadhan akan segera berakhir. Kesedihan yang sebetulnya mungkin menjadi kenangan indah dalam menjalani kehidupan.

Dan terlebih, betapa sedihnya jika selama Ramadhan, ampunan dan rahmat Allah tidak kita dapatkan. Penyesalan yang mungkin akan dirasakan saat harus kembali ke kampung akhirat. Dengan amalan yang standar ataupun minim, bagaimana kita mampu merebut “simpati” Allah untuk mendapatkan bangunan termegah bernama Surga?

Sebelum segalanya berakhir….

Ramadhan mungkin tinggal di penghujungnya. Sepuluh malam terakhir pun sudah beberapa hari terlewati. Selagi segalanya sebelum berakhir, sebelum penyesalan datang, di sisa Ramadhan yang hanya tinggal hitungan jari, mari kita perbanyak hari-hari indah bersama Ramadhan, dalam doa, dzikir dan ibadah.

Saat indah yang mungkin akan jadi kenangan manis bagi umur kita. Sebab pada akhirnya, saat-saat indah bersama Ramadhan itulah yang akan membuat kita bahagia. Kebahagiaan yang telah dijanjikan, yaitu dapat bertemu “Kekasih” tercinta Allah subhanawata a`la.

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun yang menyukai permohonan ampun, maka ampunilah aku). [HR Tirmidzi]

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengajar taman kanak-kanak dan guru bahasa Jepang di Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Lihat Juga

Hari Terakhir Bersama Ayah