Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mantan Ikhwah

Mantan Ikhwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Beberapa kali saya ditanya soal pendapat saya tentang mereka yang keluar jamaah atau istilahnya mantan ikhwah. Ya, sebutan bagi mereka yang dulunya aktif bersama dalam dakwah dalam bingkai organisasi yang sama. Jawaban saya adalah, asal jangan keluar dari Islam!

Ketika aktif di sebuah organisasi kemahasiswaan Islam sekitar lima belas tahun yang lalu, pertanyaan itu muncul. Tidak sama persis memang, namun intinya adalah bagaimana kita menghimpun kekuatan besar dakwah dalam satu organisasi yang teratur dan disiplin. Bahwa sebuah kebaikan haruslah terorganisasi dengan rapi karena kebaikan pun bisa hancur lumat dikalahkan oleh kejahatan jika ia tidak diurus dengan baik layaknya kata-kata Sayidina Ali bin Abi Thalib RA dulu: “Kejahatan yang terorganisasi bisa mengalahkan kebaikan yang tak terorganisasi. Jadi memang, bergerak dalam barisan dakwah harus dengan keteraturan dan disiplin. Dakwah tidak akan mampu diusung seorang diri. Jadi memang kita harus berjamaah untuk memenangkan Islam.

Alhamdulillah, Allah memberi saya rizki untuk bergabung dengan sebuah organisasi dakwah yang saya rindukan keberadaannya sejak lama. Berhimpun dalam satu barisan bersama orang-orang shalih untuk menegakkan kalimat Allah. Namun memang, berdiri dalam sebuah barisan panjang tidak sama dengan sendirian. Berada dalam kumpulan manusia berbeda dengan duduk seorang diri. Ada kalanya ide kita berbeda dengan kebijaksanaan organisasi. Tak jarang pula berbenturan pendapat dengan anggota yang lainnya. Harus sering sabar dan lapang dada berurusan dengan orang banyak. Namun di dalamnya terdapat keberkahan. Bukankah Baginda SAW pernah bersabda bahwa tangan Allah bersama jamaah?

Kesabaran dan lapang dada terkadang tak cukup stok untuk bertahan dari perbedaan pendapat dan gesekan pemahaman. Beberapa orang memilih pergi dan berjuang sendiri atau bergabung dengan organisasi lain. Bukan hanya ada satu organisasi Islam toh? Ada banyak saudara di luar sana yang juga berjuang untuk Islam. Mereka pun berhimpun dalam jamaah dengan keteraturan dan kedisiplinan. Jadi jangan mengklaim organisasi sendiri yang paling benar. Untuk ini saya teringat sebuah nasihat dari seorang Ustadz sederhana pada saat acara Daurah Marhalah III di Boyolali tahun 2000 silam. Beliau berpesan untuk bersabar dan rela untuk diatur karena ketika tidak cocok dengan ‘rumah’ kita yang sekarang, belum tentu juga kita nyaman dengan ‘rumah’ yang lain. Seorang Akh yang lain juga pernah memberi masukan bahwa tidak ada jaminan orang yang keluar dari jamaah akan menjadi lebih baik. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa para ‘single fighter’ ini tidak menjadi lebih baik berjuang di luar rumah. Tak sedikit yang kemudian lebur dan membaur dengan orang kebanyakan. Tak bersisa celupan Rabbani selama tinggal di rumah dakwah. Tak jarang pula mereka mempunyai keahlian baru, yaitu sebagai komentator dan konsultan tentang dakwah dan jamaah, tentang qiyadah wal jundiyah,   tentang al wala dan al bara’ padahal mereka tak punya rumah untuk mengamalkan.

Ketika beberapa waktu yang lalu saya ditanya kembali tentang orang-orang seperti ini. Jawaban saya tetap sama, asalkan jangan keluar dari Islam. Di organisasi manapun yang bertujuan menegakkan Islam, maka mereka saudara saya. Namun ketika sudah menemukan rumah baru maka jangan pernah menjelek-jelekkan rumah lama dan penghuninya serta tetaplah istiqamah. Di antara mereka ada guru-guru saya, kawan-kawan lama seperjuangan dan teman-teman penguat hati. Bisa jadi, ketidakcocokan itu bermula dari kita sendiri. Oleh karenanya jangan garang dan kasar agar hati lembut tak berubah menjadi benci. Jadi mari berprestasi dengan amal terbaik untuk Allah. Mari berlomba memberi yang terbaik untuk Allah.

Baru saja sore kemarin suami saya menunjuk gambar seorang Ustadz tenar di negeri kita dan berujar,” Dia mantan ikhwah. Dia dulu ketua ikhwah Mekah.”  Tangannya menunjuk gambar seseorang berpeci yang sedang memegang mikrofon di atas panggung. Entah kenapa, tiba-tiba mata saya kabur. Hati saya menjerit perlahan dan menyeru ke langit, “Jangan jadikan saya bagian dari mereka ya Rabb…Biarpun sesak dada dan harus ekstra bersabar, saya ingin kelak dibangkitkan di hadapan Allah bersama kafilah dakwah ini. Tak peduli apakah di barisan yang paling belakang sekalipun sebagai anggota yang dianggap paling sedikit kontribusinya dalam dakwah ini…”

Saya tidak mau memiliki gelar itu.

 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (43 votes, average: 9,49 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.
  • annisa kha

    :)

  • roda dakwah akan terus berputar, kadangkala kita menjumpai manisnya namun tidah kalah pulas getirnya. bila kita berhenti, maka akan selalu ada generasi yang baik yang akan melanjutkan dakwah ini…. bismillahi tawakkalna

  • Dakwah ini akan selalu hidup ada atau tiada anda dan anda akan mati jika tidak bersama dakwah

  • Jodi Prakoso

    Assalamu ‘alaikum…
    Bagus sekali artikel yang di tulis. Ana sungguh terenyuh dalam hati.
    Semoga bermanfaat yang membacanya & semoga amal mengalir bagi si penulis & yang mempublikasikannya.
    Nb: Nama penulis hampir sama dengan nama anak saya. Mohon do’anya agar anak saya bisa mengikuti jejak da’wah penulis.
    Wassalam.

  • kalau disebut mantan sebaiknya membuat perahu baru dan melengkapi perahunya saja tidak usah mengurusi perahu lama

  • Nursayyidah

    ;(

  • iya saya mantan ikhwah… sudah lebur dan membaur dengan lingkungan… yg dikatakan penulis memang benar kebanyakan dari kami akan hilang cahayanya… berusaha mencari sumber cahaya yg ada di majelis dari masjid ke masjid agar paling tidak masih bisa merasakan kehangatan ruhani

  • mungkin saya dapat dikatakan mantan ikhwah atau ikhwah gagal. berbaur dan melebur dengan lingkungan seperti yang dikatakan penulis. tidak mudah mempertahankan apa yang sudah tertanam bila ada di luar ‘rumah’ memang benar. tapi saya masih mencoba tidak kehilangan apa yang sudah tertanam dengan masih mencoba belajar walaupun mandiri

  • mb Qonitatillah yang semoga dirahmati Allah..kita tidak pernah tahu siapa yang paling diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala..sehingga sebaiknya do’a kita adalah semoga saat kelak kita dibangkitkan oleh Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap kita sebagai bagian dari ummatnya sebab selama hidup di dunia kita ittiba’ kepadanya, mengambil hukum hanya dari Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman beliau serta orang2 yg berjuang bersama beliau. Karena Allah pasti mengabulkan do’a2 kita dan karena kita tidak pernah tahu apakah “dakwah ini” betul2 diridhoi oleh Nya, maka berdoalah agar kita selalu diberi petunjuk dan taufiq olehnya selama hidup..dan agar kita dibangkitkan bersama orang2 yang ikhlas, yang diakui Rasulullah sebagai ummatnya..sekali lagi, bukan “dakwah ini” yang harus kita ikuti, tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..InsyaAllah, petunjuk itu akan datang menghampiri kita..dimulai dari do’a yang benar..
    wallahu a’lam..

  • :'(

  • bang utray

    Kalo sy harapannya bgini; “Biarpun sesak dada dan harus ekstra bersabar, saya ingin kelak dibangkitkan di hadapan Allah bersama org2 yg istiqamah di agama ini.”

Lihat Juga

Protes terhadap sikap rasis Trump. (aljazeera)

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir

Organization