Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Sepotong Senja untuk Istriku

Sepotong Senja untuk Istriku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com
Pada suatu senja saat kemarau mengering
Engkau bertutur tentang liku hidup
Penuh senyap dan sinar redup
Kubilang, “Itu masa lalu, segeralah berpaling!”

Pada suatu senja saat angin mengirim dingin
Tiang-tiang kokoh itu menjadi saksi
Bahwa hidup tak harus terus diratapi
Tidak selalu datang apa yang kita ingin

Pada suatu senja saat bougenvile berguguran
Kepastian bukan milik manusia
Melainkan Allah-lah yang menetapkan
Sebanding kekhusyukan dalam berusaha

Pada suatu senja saat musim enggan beranjak
Kehidupan akan selalu menyisakan jejak
Bahagia yang membuat kita lupa
Atau lara yang menyadarkan, pun sebaliknya

Pada suatu senja saat matamu berkaca-kaca
Kukatakan, aku bukan siapa-siapa
Bukan malaikat, bukan juga dewa
Akan selalu ada yang tak sempurna

Pada suatu senja ingin kuhentikan waktu
Lalu kuhadiahkan sepotong senja itu
Untukmu, ya untukmu….
Istriku…..

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

E Hamdani
Seorang lelaki dusun, eks pedagang kerupuk singkong keliling yang bercita-cita menjadi jurnalis. Pernah magang menjadi wartawan Harian Solopos, tetapi ternyata menjadi wartawan bukanlah jiwanya. Maka hobi menulisnya disalurkan dengan menulis artikel lepas di beberapa media dan menulis buku.

Lihat Juga

Reaktualisasi Pengamalan Sila Pertama Pancasila dalam Kehidupan Sosial