Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Inspirasi Pembelajar Sejati

Inspirasi Pembelajar Sejati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kaskus.us)

dakwatuna.com Sesungguhnya samudera ilmu di dunia ini teramat luas untuk diselami. Hujan-hujan ilmu pengetahuan juga senantiasa mengucur deras dari langit hikmah. Embun-embun petunjuk dapat senantiasa dinikmati setiap harinya untuk menghilangkan kegersangan pikiran kita. Cahaya-cahaya ilmu tersedia tanpa batas buat menerangi kegelapangan pemahaman kita.

Setiap manusia punya kesempatan yang sama untuk menjadi pembelajar sejati. Pembelajar yang dapat mengobati kerinduannya akan ilmu pengetahuan. Pembelajar yang menyenangi proses dan upaya meningkatkan kualitas diri. Memperbanyak mencari tahu tentang apa saja yang belum diketahuinya. Memiliki semangat pantang menyerah sebelum ilmu yang diingini dikuasai. Bersabar jalani proses-prosesnya. Rendah hati dalam menjalaninya. Meskipun yang menyampaikan ilmu kepada nya seorang anak yang muda usia. Pembelajar sejati, belajar dari siapa saja.

Belajar Hingga Nafas Terhenti

Ada sebuah kisah menarik dari seorang yang bernama Abu Ar Raihan, seorang ahli falak, sejarawan sekaligus sastrawan. Abu Ar Raihan sakit keras di tengah usianya mencapai 78 tahun. Kala itu nafasnya terdengar mengorok di tenggorokan dan beliau terlihat susah bernafas. Dalam keadaan demikian, beliau mengatakan kepada Al Walwaji, seorang faqih di masanya sekaligus sahabatnya. ”Apa yang pernah engkau katakan kepadaku pada suatu hari, mengenai pembagian jaddat fasidah (nenek dari jalur ibu)?”

“Apakah dalam kondisi seperti ini pantas (membahas masalah itu)? Jawab Al Walwaji menaruh belas kasihan. ”Wahai Al Walwaji saya meninggalkan dunia dalam keadaan mengetahui masalah ini, lebih baik daripada saya meninggalkannya dalam keadaan jahil terhadapnya.”

Akhirnya Al Walwaji mengulang apa yang pernah beliau sampaikan sebelumnya kepada Abu Raihan. Dan beliau menghafalnya. Tidak lama kemudian Al Walwaji keluar, dan saat dijalan beliau mendengar teriakan yang mengabarkan kepergian sahabatnya itu. Abu Raihan telah wafat dalam keadaan menghafalkan ilmu. Sebuah episode akhir kehidupan yang mengagumkan.

Kisah di atas mengajarkan kita tentang aktivitas pembelajar sejati yang sangat mengagumkan, bahkan ketika detik-detik menjemput kematian pun masih dimanfaatkan untuk mencari ilmu dan menguasainya. Tarbiyah Madal Hayah. Belajar hingga menutup mata. Rasulullah SAW bersabda: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat” Hadits tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Long life education” atau pendidikan seumur hidup. Kehidupan di dunia ini tidak akan pernah sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Seandainya besok kita tahu akan datang kiamat pun, kita mesti belajar dan menanami pohon-pohon kebaikan sebanyak-banyaknya. Artinya kita harus mengambil manfaat dan menyebarkan manfaat dari siapa pun dan kepada siapa pun. Seperti Abu Raihan, jauh lebih indah meninggalkan dunia ini dalam keadaan mengetahui jawaban dari sesuatu daripada membawa rasa penasaran yang tak terjawab ke liang lahat.

Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya

Pembelajar sejati adalah mereka yang senantiasa melewati perputaran usianya untuk menambah ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan. Mereka tak pernah menyerah sebelum ilmu yang diinginkannya berhasil dikuasai. Pembelajar sejati amat sangat pelit dengan waktunya. Namanya Muhammad bin Sahnun (256 H). Dia adalah orang yang senantiasa menyibukkan waktunya untuk membaca, menelaah ilmu dan menulis. Aktivitas itu dia lakukan hingga larut malam. Mengetahui majikannya sibuk, pembantunya yang biasa dipanggil ummu Mudam menyediakan makanan, lalu mempersilakan Sahnun untuk makan. Akan tetapi Sahnun hanya menjawab, saya sedang sibuk”. Dia tetap asyik dengan tulisan dan sedikit pun tidak menyentuh makanan yang disediakan. Hal itu mendorong Ummu Mudam berinisiatif menyiapkan makanan itu ke mulut sang majikan. Suapan demi suapan ia berikan hingga makanan itu tandas. Saat Adzan subuh berkumandang, kepada pembantunya Sahnun mengatakan, saya telah menyibukkanmu tadi malam, Wahai Ummu Mudam. Sekarang mana makanan itu?”. Pembantu itu menjawab,” Demi Allah wahai Tuan, saya telah menyuapkannya kepada Anda.”Sahnun heran, “saya tidak merasa.”

Kisah di atas menggambarkan kepada kita, bahwa pembelajar sejati sangat pelit dengan waktunya, bahkan untuk makan sekalipun. Keasyikannya menelaah ilmu membuatnya seakan-akan melupakan aktivitas yang lain. Waktu baginya moment-moment yang sangat berharga dalam mengarungi samudera ilmu. Waktu adalah harta teramat mahal baginya untuk senantiasa dibelanjakan pada warung-warung ilmu di manapun dia menjumpainya. Waktu baginya adalah pedang yang setiap saat siap memenggal umurnya. Oleh karena itu ia akan senantiasa memanfaatnya untuk aktivitas mencari ilmu, menelaah, mengajarkan dan mewariskannya.

Hidup yang sesekali di dunia ini harus di sisi dengan aktivitas positif dan produktif. Ia harus di sisi dengan belajar. Jangan pernah sia-siakan waktu tanpa belajar. Belajarlah dari kisah Sulaim bin Ayyub ar Ra-zi. Ia adalah pembelajar sejati yang sangat menghargai waktu. Ia tidak mau membiarkan waktu yang dimiliki berlalu barang sebentar tanpa ada gunanya sama sekali. Ia biasa gunakan untuk menulis, belajar, membaca, dan seterusnya.

Suatu saat Sulaim bin Ayyub datang ke rumah muridnya, Syeikh Abu Faraj Al-Isfirayini. Ketika hendak pamit karena telah selesai keperluannya, Sulaim bin Ayyub berkata,” Dalam perjalananku ke sini tadi aku berhasil membaca satu juz.” Suatu hari yang lain Sulaim terlihat memperbaiki penanya yang patah ketika sedang dipakai untuk menulis, sementara sepasang bibirnya bergerak-gerak. Rupanya sambil memperbaiki penanya yang patah, Sulaim juga melakukan aktivitas membaca.

Ada juga kisah hebat pembelajar sejati bernama Ibnu Aqil Al Hanbali. Saya meringkas semaksimal mungkin waktu makan. Hingga saya memilih roti kering yang dicelup air dibanding khubz (roti lembab), karena perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk mengunyahnya.”

Jika waktu mengunyah saja amat diperhitungkan oleh Ibnu Aqil, tentu untuk perbuatan lain yang memakan waktu lebih lama akan dia perhatikan. Sekarang mari tanyakan kepada diri kita. Sudahkah kita memaksimalkan perputaran roda hari dalam kehidupan ini untuk belajar? Sudahkah waktu luang yang kita miliki digunakan untuk meningkatkan pengetahuan kita. Atau waktu luang itu kita gunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Ngerumpi tanpa juntrungan, menonton tanpa kenal waktu, atau bahkan diisi dengan melamunkan sesuatu yang tak jelas.

Pembelajar sejati tak rela hujan ilmu pengetahuan yang mengucur dari langit hikmah tak ditadahnya ke dalam relung-relung pikirannya. Setiap harinya dia akan menyelam di samudera ilmu dan berenang di kolam pengetahuan. Dia akan sibak kegelapan pikirannya dengan menggenggam cahaya ilmu yang disediakan mentari.

Menggandakan kesabaran

Seringkali selama proses belajar kita mendapatkan banyak tantangan dan godaan untuk menghentikan aktivitas belajar. Kita pun juga sering dihantui oleh perasaan putus asa akan kemampuan kita untuk menguasai ilmu yang sedang dipelajari. Ketahuilah pembelajar sejati senantiasa menggandakan kesabarannya. Melewati deraian-deraian air mata ujian dengan rasa optimis yang senantiasa membumbung tinggi. Tak akan menyerah sebelum apa yang diinginkan tergapai.

Imam Syafi’i pernah mengungkapkan ”Tidak mungkin menuntut ilmu bagi orang yang pembosan dan sering berubah pikiran, serta merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya. Akan tetapi menuntut ilmu itu harus dengan menahan diri, kesempitan hidup, dan berkhidmat untuk ilmu tersebut. Pasti ia akan beruntung.”

Kenal dengan Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie? Pastinya kita kena semua mengenalnya. Maestro dunia penerbangan dan teknologi dari Indonesia ini lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1939. Ia dikenal sabar dan tekun dalam menuntut ilmu. Setelah sempat kuliah di ITB Bandung (1954-1955). Beliau memperoleh beasiswa ke Jerman. Atas saran Prof M. Yamin dan ucapan Bung Karno tentang pentingnya penguasaan teknologi penerbangan, akhirnya ia memutuskan mengambil jurusan pesawat terbang.

Di Jerman, Habibie nyaris tak punya waktu santai. Ia terus belajar dan bekerja dengan tekun. Kuliah yang berat harus ditambah dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Maklum ongkos sehari-hari dan uang kuliah dibayar orang tuanya sendiri. Kadang seharian ia hanya makan beberapa keeping roti. Di Jerman, mantan presiden RI ke-3 ini, hidup dengan kondisi yang sangat sederhana.

Kondisi itu memompa semangatnya untuk segera menyelesaikan kuliahnya. Pada masa liburan dia tetap belajar. Hasilnya dalam waktu empat tahun dia berhasil menggondol gelar insinyur Dipl. Ing (Diploma Ingineur) dengan nilai akademik rata-rata 9,5 (summa cumlaude) pada usia 24 tahun. Prestasi itu dia peroleh dengan tetap aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan.

Belajar dari Habibi, Prestasi lahir dari kemampuan untuk bertahan. Menggandakan kesabaran di tengah kesulitan-kesulitan yang datang. Seorang pembelajar sejati akan merasakan bunga-bunga kesuksesan setelah dia mampu bertahan menyirami bunga-bunga itu dengan kegigihan-kegigihan tak berkesudahan.

Pembelajar Sejati Tinggalkan kampung halaman

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang. Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa. Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang. Bijih besi bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang. Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

(Imam Syafi’i)

Tak ada pembelajar sejati yang mengurung diri di kampung halamannya. Pembelajar sejati adalah pengembara yang selalu ingin mengobati dahaganya akan ilmu pengetahuan. Imam Bukhari, Shahih Bukharinya diselesaikan selama enam belas tahun setelah berkeliling dunia mencari hadits dari satu kota ke kota lainnya. Einstein juga meraih puncak kejayaannya setelah meninggalkan Jerman menuju Amerika Serikat. Habibi meraih prestasi mengagumkan karena meninggalkan tanah kelahirannya. Andrea Hirata menjelajahi dunia karena kesungguhannya dalam belajar dan kemauan yang keras mengubah nasib. Menyeberangi ganasnya terjangan ombak, meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang tak ada sanak saudara. Mengatasi kesulitan-kesulitan hidup. Akhirnya namanya harum menjadi penulis buku mega best seller Indonesia. Ibnu Batutah penjelajah dunia, namanya harum karena meninggalkan kampong halaman. Belajar dari universitas kehidupan yang ditemuinya di manapun dia menjejakkan kakinya. Masih banyak contoh para pembelajar sejati lainnya yang tak kan cukup berlembar-lembar tulisan menjelaskannya. Satu yang pasti, mereka semuanya adalah para pengembara, para musafir, para penjelajah, para hunter yang meninggalkan kampong halaman, menggapi cita-cita dan menggenapi keinginannya menguasai ilmu pengetahuan.

Pembelajar sejati,
tak pernah mau mati sebelum rasa penasarannya terobati
tak pernah mau menyerah akan kesulitan-kesulitan yang menggerogoti
tak pernah mau bermimpi yang tidak akan direalisasi

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Ilustrasi. (wikimedia.org)

Hari Terakhir Bersama Ayah

Organization