Home / Ramadhan / Renungan / Generasi Lalat dan Lebah

Generasi Lalat dan Lebah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segala puji hanya bagi Allah swt. Allah ciptakan kepada kita ayat-ayat-Nya di penjuru langit dan di ufuk bumi, bahkan dalam diri kita sendiri. Allah ciptakan kepada kita matahari yang mengajarkan kepada kita untuk percaya diri dan tepat janji datang di pagi hari dengan sinar yang berseri. Dan Allah ciptakan kepada kita juga purnama yang mengajarkan kepada kita untuk bersinar lembut dan bijaksana. Purnama sinarnya lembut tapi penuh cinta dan pesona. Purnama sinarnya lembut tapi tidak pernah kehilangan kharisma.

Muslim itu harus seperti matahari, berani dan punya nyali. Tapi muslim juga harus seperti purnama, lembut dan bijaksana. Berani tapi penuh kelembutan, lembut tapi penuh keberanian.

Suatu ketika Nabi berkata, “Amin, amin, amin.” Sahabat bertanya, “Kenapa ya Rasulullah?” “Sesungguhnya Jibril telah berdoa. Di antara doanya adalah: Celaka seorang hamba yang Ramadhan berlalu dari padanya tapi dosanya belum diampunkan juga. Celaka! Ramadhan pergi dia belum berubah jadi lebih baik, celaka! Ramadhan pergi tapi dosanya tidak berkurang, celaka! Ramadhan pergi dia belum bisa menjadi manusia yang makin dekat dengan Allah SWT maka dia celaka.

Makanya ketika orang sampai kepada Idul Fitri, hari kemenangan, ulama mengingatkan yang namanya hari raya bukan karena bajunya baru, hari raya karena taatnya makin nambah, makin dekat sama Allah. Harusnya terjadi perubahan yang kilat. Yang sebelumnya funky sekarang ngaji. Yang sebelumnya ngawur sekarang dekat kepada ta’lim. Yang awalnya gila harta sekarang cinta dengan surga. Yang tadinya lupa dengan agama sekarang bangga dengan agama Allah swt.

Yang awalnya jadi generasi lalat, sekarang berubah jadi generasi lebah. Bagaimana generasi lalat? Ternyata banyak sekali generasi sekarang, orang tua dan anak muda yang kayak lalat. Yang pacarannya pegang-pegangan, peluk-pelukan, gendong-gendongan, sikat-sikatan, banting-bantingan, cekik-cekikikan. Yang pakaiannya ala kadarnya, yang percaya dengan mistik, percaya dengan ramalan. Percaya dengan dukun.

Muncul generasi lalat. Lalat itu nongkrongnya di tempat yang jelek-jelek. Kalau pejabat suka korupsi, kenapa bisa begitu? Lalat. Lalat itu hobinya nongkrong di tempat yang jelek-jelek. Nongkrongnya di koreng, di sampah. Banyak manusia sekarang yang hobinya nongkrong di tempat yang jelek-jelek. Tempat maksiat, ngambil hak orang.

Banyak generasi sekarang yang kelakuannya seperti lalat. Lalat itu makannya yang jelek-jelek. Lalat itu makannya dari kotoran manusia, dari sampah. Banyak orang sekarang yang makannya yang jelek-jelek. Minuman yang haram, makanan yang haram, yang memabukkan, yang ngerusak dirinya. Tujuh puluh persen artis terlibat narkoba.

Lalat itu hobinya yang jelek-jelek, menyebarkan penyakit. Banyak manusia sekarang hobi yang jelek-jelek. Uang habis cuma untuk pesta pora. Hura-hura. Uang abis untuk beli film-film yang tidak beres. Tapi kalau untuk disuruh sedekah, luar biasa beratnya. Ini generasi lalat.

Sedangkan generasi lebah adalah generasi yang hobinya baik-baik. Lebah hobinya nongkrong di tempat yang baik-baik. Lebah nongkrongnya di pepohanan taman bunga. Jadilah generasi yang Ramadhan ini yang nongkrongnya di sekitar kebaikan. Masjid.

Hobinya kebaikan, ibadah. Zaman Rasul orang shalat nangis. Kalau ibadah separo hartanya, seluruh hartanya. Bahkan hartanya diwakafkan untuk umat. Berapa banyak sekarang pejabat kaya, pemimpin kaya? Boro-boro mau berwakaf, ibadah saja malas.

Jadilah generasi lebah yang hobinya di sekitar kebaikan. Yang hobinya berbuat kebaikan. Lebah itu hobinya menyebarkan kebaikan, madu. Dan menyembuhkan penyakit. Jadilah manusia yang jadi sumber solusi, sumber kedamaian, sumber pencerahan buat umat. Hadirin sekalian, pemirsa sekalian, saatnya kita berubah menjadi generasi-generasi yang Islami. Dengan cara apa? Dengan cara optimalkan Ramadhan kita supaya jadi manusia-manusia takwa.

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Menjemput Baiknya Kematian