04:11 - Minggu, 26 Mei 2013

Cerita? Untuk Apa Kawan?

Rubrik: Essay | Oleh: Ibnu Islami - 14/08/12 | 14:30 | 26 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Lagi sedih, tulis di status. Lagi senang tulis di status. Dapat uang, tulis di status. Benci dengan orang tulis di status. Makan bakso, pedas rasanya, dibayarin makan, ulang tahun, makan sendirian, di tulis di status. Kehujanan, tidak dapat kendaraan, lembur, bos marah – marah, dikejar deadline, di tulis di status. Besok ujian, nilai bagus atau jelek di tulis juga di status. Abis jalan – jalan, melihat sunrise, main air di pantai, itupun ditulis di status. Berselisih dengan kakak, tidak dikasih uang oleh orangtua, kehabisan bensin di jalan, ban bocor, bahkan abis ditabrak orang lagi naik motor masih sempat tulis status. Mau mandi, sabun di rumah habis, entah di status pun tetap di update.

Belum maksiat yang ditulis juga, abis pacaran, lagi marahan sama pacar, kangen dia, dia selingkuh, abis putus terus nyambung lagi. Kalah taruhan bola, aib orang pun dibuka, keluarga kebun binatang keluar semua.

Kawan, untuk apa?

Untuk orang lain tahu? Untuk apa, kawan?

Kebaikan pun tak kalah bahkan sepertinya lebih giat tulis status.

Niat awal berdakwah, setan begitu halus melintas di depan niat, terbesit meskipun sangat sedikit supaya orang lain tahu kebaikan yang kita lakukan. Tenang rasanya, habis baca Quran. Waktunya Malam Jumat ngaji di majelis masjid. Kenapa harus menunjukkan bahwa kita telah melakukannya? Ya Allah, hafalan tidak nambah – nambah. Kenapa kalimat itu menunjukkan kita sebagai penghafal Quran? Sedih rasanya, ketinggalan shalat berjamaah. Kenapa? Kenapa tulis di status kalau kita biasa shalat berjamaah? Tengah malam tulis status, ayo shalat tahajud. Kenapa pada saat tengah malam, di saat orang dapat mengetahui bahwa kita termasuk orang yang telah bangun di tengah malam dan orang lain dapat mengambil kesimpulan kita adalah orang yang mendirikan malam? Alhamdulillah habis buka puasa dengan seadanya. Kenapa harus bilang habis puasa? Dan berbuka dengan seadanya? Upload foto jadi pemenang lomba, lagi ikut pelatihan atau majelis yang acaranya luar biasa. Rasanya, “sesuatu” itu tidak perlu kita tulis di status tapi entah kenapa kita tulis juga.

Cerita itu? Untuk apa, kawan?

Untuk apa, kawan?

Untuk Allah? Entahlah, bagaimana niat kita dan menjaganya? Setan begitu halus. Cukup seperti meniupkan angin yang lemah di daun, bergoyang sedikit daun itu dan hati kita dicoba terus, digoyang hingga sedikit demi sedikit berpindah dari posisi sebenarnya.

Tipu muslihat, menampakkan keburukan sebagai kebaikan. Tertipu daya, seolah itu adalah kebaikan, tanpa disadari ternyata ada keriyaan, ada keujuban, ada kesombongan, ada rasa supaya orang tahu bahwa diri kita sedang menyesal dalam melakukan dosa, supaya orang tahu kita sudah melakukan amal ini dan itu, tapi rasanya tidak ada tujuan untuk itu padahal kita terjebak dalam keriaan, terjebak ingin mendapatkan perhatian dari orang lain, ingin orang lain ikut mengomentari status, ingin untuk di-like.

Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah”. Wallahu a`lam.

Tentang Ibnu Islami

Mahasiswa Aktif Fisika UGM 2010 @adamputras Selengkapnya.

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (35 orang menilai, rata-rata: 9,71 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/rahim.sese Rahim Sese

    Ente sendiri menulis di FB, untuk apa kawan ? apa merasa lebih suci dr yg lain, ?

    • andi nerazzuri

      Y ela.. Masa membritahu orang2 yang nulis status di FB menulis di twitter? :nohope

      Bukannya TS berlagak sok suci, sebagai sesama muslim hanya saling mengingatkan…

      Klo g suka, y g usah di baca dan g usah di gubris… Gt aj koq repot.. Heran ma org2 kek gini

    • deny

      nulis di fb untuk kebaikan… kawan,,untuk mengingatkan… kawan,, itu yg dianjurkan kepada setiap muslim kawan,.. bukan berarti saudara kita yg menulis artikel diatas sok suci kawan….alangkah baiknya berprasangka yg baik,.. ente santai aja…kalau mau update status d FB ya silahkan tidak ada yg larang kok… sekali lagi artikel ini cuman mengingat aja kok…

    • riky

      @facebook-100001406418182:disqus santai aja bro kalo merasa gt..sebagai sesama muslim sudah menjdi kewajiban untak saling mengingatkan

  • http://www.facebook.com/namira.batubara Namira Batubara

    MasyaAllah.. ngenaknya..

Iklan negatif? Laporkan!
48 queries in 0,596 seconds.