Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tinjauan Puasa dari Segi Kesehatan Sosial

Tinjauan Puasa dari Segi Kesehatan Sosial

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (thenotesonmyblog.blogspot.com)

dakwatuna.comTidak terasa bulan Ramadhan hampir di ambang pintu. Bulan yang penuh berkah ini akan pergi meninggalkan umat Islam yang ada di seluruh penjuru dunia, tidak hanya kepada orang-orang kuat, orang-orang lemah juga merasa kehilangan bulan yang paling dimuliakan oleh Allah SWT. Pada prinsipnya puasa lebih menekankan diri kita pada menahan diri dari segala hawa nafsu yang dapat membatalkan puasa, dalam bahasa lain puasa itu lebih diartikan “berdiam diri”. Selain itu juga puasa mengajarkan kita untuk lebih dekat kepada Allah SWT baik dalam berbagai aspek kehidupan, melalui sedekah, infak, interaksi sosial dan lain sebagainya, sehingga begitu siap Ramadhan kita selaku orang-orang mukmin akan menjadi mukmin yang ramadhani.

Dalam kesehatan jasmani, puasa sangat berfungsi dalam merecovery kembali imunitas tubuh dari serangan berbagai macam penyakit. Berbagai macam penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan dunia bahwa fungsi dari berpuasa dapat mengembalikan sel-sel yang tidak berfungsi pada manusia kembali berfungsi dan dapat membantu badan dalam membuang sel-sel yang dianggap rusak dan juga dapat membuang sel-sel atau hormon ataupun zat-zat kimia yang melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh dan juga dalam berbagai penelitian yang dilakukan secara ilmiah dan terperinci pada organ tubuh manusia, maka didapatkan puasa merupakan hal yang seharusnya dilakukan oleh tubuh manusia, karena dengan berpuasa maka aktivitas tubuh akan didapatkan lebih baik dan puasa memang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia dalam hal menjaga kesehatan. Tetapi pada dasarnya pengetahuan dari kedokteran kontemporer belum bisa mengungkapkan hakikat dari berpuasa.

Nah, kemudian mengenai kesehatan rohani. Dalam kebiasaan agama Hindu dan Budha, mereka beranggapan dalam menyerap energi dari bumi banyak melakukan “semedi”, baik di tengah sungai, pinggir pantai, di pegunungan ataupun di tempat-tempat yang mereka anggap sakral. Menurut pemahaman mereka berdiam diri seperti inilah yang dapat membawa kekuatan lebih besar dalam pengabdian mereka kepada Tuhan dan makhluk sekitarnya. Begitu pun juga dengan kita selaku orang-orang mukmin, berpuasa lebih membawa kita kepada energi positif untuk lebih dekat kepada Allah dan sesama makhluk Allah. Oleh karena itu mari kita tingkatkan energi positif kita dalam menggapai pahala yang banyak.

Di sini penulis tidak berbicara terlalu luas mengenai hakikat puasa segi medis, tetapi penulis lebih menekankan kepada kesehatan sosial/interaksi sosial. Berbicara interaksi sosial pada bulan Ramadhan, kita teringat tidak lain hanya kepada shadaqah, infak dan zakat. Sedangkan shadaqah dan infak sering kita lakukan baik di kala ada kemudahan ataupun tidak, tetapi mengenai zakat yang wajib diberikan oleh setiap kepala keluarga adalah zakat fitrah ada tidak ada harus memang harus ada, ini memang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq pernah berkata akan memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat, terbuktikan, kalau zakat itu suatu kewajiban yang memang harus ditunaikan oleh setiap muslim.

Nah, seandainya interaksi-interaksi sosial ini kita lakukan dengan tanpa paksaan maka kehidupan orang-orang miskin akan terjamin dari kelaparan. Dan kita tidak mau melihat ada sanak saudara kita di hari yang fitri ini ternoda dengan pinta-pinta/rengekan mereka. Maka dari situlah mari kita bangun kebersamaan dalam mewujudkan kehidupan yang bermartabat dan saling menyayangi di antara kita bersama.

Wallahu a`lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 4,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Syifa Saputra
Lahir tahun 1987 di Aceh, 1 dari 6 bersaudara. Pada tahun 2011 mennyelesaikan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Biologi di Universitas Almuslim salah satu Universitas swasta yang ada di Aceh. Semasa kuliah penulis pernah aktif di LDK kampus sebagai ketua dan KAMMI Komisariat Bireuen di Bidang Kebijakan Publik. Di tahun 2010 penulis menikah dengan Erlina Zakaria dan Alhamdullillah akhir 2011 dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Muhammad Sulthan Almusawwa. Kemudian pada tahun 2011 penulis melanjutkan kuliah ke jenjang Megister Pendidikan Biologi Universitas Syiah Kuala.

Lihat Juga

hewan kurban yang sehat dan tidak bisa diketahui secara kasat mata. (kompas.com)

Bagimana Ciri-Ciri Hewan Kurban yang Sehat?