15:21 - Jumat, 18 April 2014
Muhammad Sholich Mubarok

Siapa Penculik Sandal Gesit?

Rubrik: Cerpen | Oleh: Muhammad Sholich Mubarok - 09/08/12 | 14:30 | 21 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Hari itu adalah hari yang panas di bulan Ramadhan. Aku sedang berjalan ketika tiba-tiba ada sesuatu yang ganjil dalam pikiran. Astaghfirullah! Aku lupa bawa duit. Kacau deh, padahal udah mau nyampe pasar Bintoro. Pasar tradisional terbesar di kota kecil ini. Tinggal lima langkah lagi. Bayangkan, lima langkah. Duh, tenggorokan makin mendayu-dayu berharap basah. Berharap ada setetes air dingin yang membasahi sisi yang kerontang. Setetes saja. Stop! Ini kan lagi puasa, plis deh, jangan kolokan jadi santri.

Dengan langkah kaki yang gontai bin lunglai, aku pun ke pondok. Ambil duit yang hanya-untuk-beli-bumbu-dapur. Perjalanan ke pondok yang 0,5 kilo lumayan membuatku layaknya manusia yang perlu disubsidi beras miskin oleh pak SBY. Memang sih ada transportasi umum namun nanggung banget—lebih tepatnya ngirit. Setelah penuh perjuangan berdarah-darah, menggugurkan segala keringat dan tampilan diriku seperti mayat hidup (Ok, berlebihan!) akhirnya nyampe lagi ke pondok.

“Ketinggalan ya duitnya?” Kata Fikri, teman sekamarku, ketika aku masuk kamar. Aku hanya mengangguk. Malas ngomong. Bibir bawah sama atas nempel seperti kekurangan cairan.

“Udah, nggak perlu ke pasar. Kang Luky sudah beli kok di warung. Itu dia bumbunya,” ujar laki-laki berperawakan sedang dengan perut agak buncit itu sambil nunjuk bumbu dapur di pojokan bawah lemari.

Oh, syukur deh. Alhamdulillah, paling tidak aku bisa sedikit bernafas lega. Tadi sebelum ke pasar, kulihat koperasi kehabisan stok dagangan bumbu.

“Aduh… di mana ya?”

Aku mengorek-orek rak sandal. Di bagian atas kosong. Di tengah hanya ada sepatu anak-anak sekolah. Bagian bawah nggak ada juga. Nihil. Nggak ada satupun sandal yang bertengger di rak. Yang berserakan di latar pondok pun nggak ada, ada sih, sandal kotor setengah pasang kecil, setengah pasang lagi besar mana sebelah kanan semua dan lagi, jepitnya lepas satu.

Pffuh…

“Cepeet…Gesit! Bawa sini bumbunya. Nasinya sudah matang…!” Teriak Luky yang ada di dapur sana sambil membawa centong di tangan. Dapur dan kamar kami berjarak oleh jalan gang dan halaman pondok.

Aku memandang temanku sesaat, pandanganku kembali merayap ke rak, siapa tahu ada yang keselip. Bisa dibilang jumlah penghuni pondok lebih banyak dari pada sandalnya. Jomplang. Padahal sudah ada tulisan “Dilarang goshob sandal!” yang dibuat oleh pengurus. Tapi sepertinya selembar kertas harimau itu tidak mempan. Larangan goshob sudah pernah dijalankan. Barang siapa yang ketahuan goshob akan ditakzir. Nah, itu kalau ketahuan, kalau yang nggak ketahuan ya nggak di takzir.

“Kang Gesit…!!” teriak Luky lagi dengan suaranya agak bagusan dari panci.

 

“Ya…!!”

Hap! Aku melompat, bertelanjang kaki. Nyeker. Membiarkan kaki dilucuti panas yang menjadi.

“Nih…” Akui menyerahkan bumbu di wadah yang berisi bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah dan kemiri. Bumbu rupanya sudah dikupas. Mungkin Luky tadi yang beli di koperasi. Sebungkus bumbu campuran seharga Rp.3.500,-itu sekali beli hanya untuk sekali masak. Ngirit. Aman pula, nggak ada yang minta-minta. Biasanya kalau kamar lain bumbunya habis pada suka minta. Ya gitulah prinsip ekonomi yang berlaku di pesantren ini. Prinsip yang aneh dan mengada-ada.

“Ya… ulek kamu dong, aku mau ngiris tempe” suruh Luky–yang bernama asli Lukman–minta gantian. Selesai mengangkat kendil nasi, Luky melepas selang yang ada di dalam minyak tanah dan kompor. Di sini tak memakai gas elpiji.

Aku mengiyakan. Sambil mengulek, pandanganku mengedar dari satu kaki ke kaki yang lain. Siapa tahu ada yang membawa sandalnya.

Itu… bukan, yang itu juga bukan, yang dipakai Luky apalagi. Siapa ya… yang pakai? Aku berpikir keras sekeras ulekan bumbu di cobek. Sudah empat sandal jepitku raib. Entah siapa yang menculik, entah dibawa santri lain, kelupaan, trus hilang atau entah ke mana nasib sandal-sandal itu.

“Aku dulu juga begitu pas jadi santri enggal (baru). Lagi baru-barunya beli, dipakai sehari eh… sudah digoshob” ucap kang Hasan.

“Goshob menggoshob, sadar atau nggak kita bisa ketularan virus goshob juga,” timpal kang Amad nggak mau kalah, saat Aku curhat tentang sandalku yang digoshob.

Ugh, sandal… sandal.. di mana engkau berada? Masa uang makanku hanya untuk beli sandal. Meskipun kedudukannya diinjak-injak, sandal tetap sangat krusial.

Jum’at lalu saja ia nyeker saat pergi Jum’atan. Bisa kebayang kan gimana panasnya aspal jalan dan batako di halaman Masjid Agung Demak. Bikin lonjak-lonjak.

“Sandalmu ilang lagi?” Luky memotong perjalanan mataku mencari alas kaki, Luky mulai menyalakan kompor lagi, sebenarnya tadi mau membiarkan kompor menyala, melihat tempe belum diiris dan bumbu belum diulek ya terpaksa dimatikan menghemat minyak tanah yang tinggal sedikit.

Aku mengangguk lemah dan bangkit dari jongkok, mengambil wajan untuk menumis bumbu yang tadi ia ulek dan menuangkan sedikit minyak goreng.

Kemarin dan hari ini adalah tugas piket masak kami berdua untuk temen sekelompok yang terdiri dari enam orang.

“Padahal sandalku sudah ku kasih nama biar nggak hilang,” gerutuku sembari memasukkan bumbu. Setelah harum kutambahkan sedikit air dan diaduk dengan sodet.

“Kalau ngasih nama itu pake bubur merah putih, biar kalau dipanggil itu datang he-he-he…” Luky coba menghiburku yang lagi bete tingkat dekan.

“Nah…, kamu pake sandal siapa? Kok pincangan?” Ketusku melihat sandal Luky yang beda warnanya antara kanan dan kiri.

“Embuh…, sandal siapa ini? Sudah dihibahkan kali buat umum,” Luky ngeles.

“Kalau nggak ada ditempatnya mendingan kamu bawa saja sandal yang ada di depan mata,” tambahnya, irisan tempe ia ceburkan ke “kolam” tumisan. Plung.

“Goshob dong?!”

“Kalau nggak ketahuan yang punya ya nggak papa, kalau ketahuan,, ya… pinjam sebentar gitu,” enteng Luky menjawabnya. Sebenarnya penggoshob sandal yang tertangkap basah nggak hanya ditakzir tapi juga dikenakan dam berupa uang yang besarnya tiga kali lipat dari harga sandal, lumayan berat sanksinya. Seiring berjalannya waktu menguap sudah peraturan itu, goshob pun sering terjadi. Mungkin kesibukan yang menyebabkannya.

Aku menaruh setetes kuah ke telapak tangan, eh lagi puasa ding, sementara itu Luky memindahkan nasi dari kendil liwet ke nampan.

“Eh… peraturannya kok nggak digalakkan lagi, ya?” Suaraku. Luky hanya menggidikkan bahu.

Jangan sampai goshob, deh. Biar bagaimanapun goshob alias pinjam tanpa ijin itu kan nggak baik. Lagi pula aku sudah merasakan gimana paniknya dan panasnya kaki akibat kehilangan sandal. Iya kalau yang empunya kaya, ia bisa beli lagi kalau empunya orang nggak punya ‘kan kasihan.

Sering terjadi ketika tamu, atau orang tua santri yang menengok anaknya, bisa dipastikan pulang dalam keadaan nyeker.

Lauk sudah matang, nasi sudah siap di nampan, Aku beranjak dan membawa masakan ke kamar untuk buka nanti, meskipun saat ini jam satu menuju jam setengah dua, tetap saja kami harus masak sekarang karena sore nanti dapurnya dipakai kelompok lain. Yah semacama shift-shiftan. Usai masak jam dua ada jadwal mengkaji kitab kuning dan jam usai itu sampai ngaos alias ngaji sama kyai. Jadi waktu memasak sangat sempit.

Langkah kakiku terhenti, ada sesuatu yang membuat mataku macam terbelalak. Betapa tidak, aku gembira melihat barang yang kucari berserak d pelataran. Bentuknya kotor dan dekil. Langsung saja kucuci di keran. Setelah itu akan kusimpan di lemari. Mengeluarkan sandal kalau perlu saja. Nggak boleh ada yang pinjam. Titik!

* * * * *

Seusai jama’ah tarawih, biasanya para santri leyeh-leyeh di teras atau di dalam kamar bersendau gurau atau juga mengisi kekosongan waktu dengan mempersiapkan pelajaran nanti usai tarawih.

Walinashbi khomsu ‘alamatin : Alfathatu, walalifu, walkasrotu, walyau wahadzfun nuni.

“Pinjam sandalnya, Kang? Mau ke koperasi sebentar,” ijin Rizki yang tadi siang melihatku meletakkan sandal di lemari. Aku hanya mengangguk. Mataku sesekali merem-melek. Mulutku komat-kamit, mengulang-ulang hafalan jurumiah, nanti ada setoran. Aku tidak mau berdiri di depan kelas lagi seperti sehari lalu.

Faammal fathatu fatakumu ‘alamatan linashbi fi salasati mawa… “Oh iya, berasmu masih sedikit kang Gesit,” ucap Luky yang sedang menggantungkan baju, mengingatkan.

Beras? Mataku melek, oh iya… berasku kan tinggal sedikit. Hanya cukup untuk sekali masak. Menunggu kiriman dari kampung belum datang-datang, besok deh aku akan pulang, meminta beras. Salahku sendiri sih disuruh bawa beras banyak oleh ibuku akunya emoh.

Lima hari sudah aku mesantren di sini. Jujur saja, awalnya aku menolak mengisi Ramadhan dengan mesantren di Pondok Pesantren Al Istiqomah-Demak ini, pasalnya banyak sekali kegiatan keislaman di kampusku di daerah Tembalang, Semarang. Yah, mau gimana lagi, ini perintah orang tua. Ada semacam bargaining position antara aku dan orang tua. Jika aku ikut event besar di ITB  yang bernama International Moslem Students Summit (IMSS) syaratnya bulan puasa harus di pesantren. Ini semacam posisi orang Jakarta yang harus memilih cagub-cawagub DKI Jakarta antara Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Dilematis. Sebagai aktifis dakwah di kampus, aku perlu juga asupan ilmu agar tak jadi aktifis yang kopong melompong dan keputusan ini akhirnya kuambil.

“Aduh… sampai mana tadi?.” gumamku, kelimpungan, membuka lagi kitab jurumiah. Aku mengulangi lagi dari awal, biar hafal diluar kepala, Ngelotok. Kalau hapalan lancar, ustaz biasanya diam saja tidak berkutik sekalipun ada yang salah.

Tapi perutku melilit seperti ada yang nusuk-nusuk. Jangan-jangan karena masakanku yang tak enak lagi. Cita-citaku detik ini hanya satu: pingin BAB. Ditahan-tahan, aku makin tak tahan. Tidak bisa diajak kompromi. Aku pun berhambur menuju WC yang ada di pojok belakang, kurang lima menit lagi jam sembilan.

Di WC, aku teringat sandal yang dipinjam oleh Rizki.

“Dikembalikan di tempatnya atau ditinggal ya?” pikirku resah. Buru-buru aku menyudahi ‘cita-citaku’. Takut sandalku digoshob, bisa nyeker nih kalau ke madrasah. Malukan dilihat para santriwati dari jendela kamar mereka yang dekat madrasah.

Hhh… untung  masih ada, sandalku dikembalikan dilemari, utuh dengan plastik pembungkus.

Selepas sowan di ndalem Kyai, aku keluar rumahnya, aku merasa beruntung karena Kyai belum istirahat siang. Karena kalau tidur siang, artinya aku harus menunggu hingga beliau bangun. Nggak kebayangkan bakal diuji habis kesabaranku di bulan puasa. Aku pulang untuk waktu sehari saja, itu aku rasa cukup. Sekedar melepas kerinduan pada emak dan bapak di kampung (padahal baru beberapa hari tak ketemu tapi sudah kangen gila) Tentu saja meminta beras dan uang saku juga.

Aku mengambil tas yang berisi sedikit pakaian yang ditaruh di teras ndalem lalu akan mengenakan sandal jepit.

Sandal?… S-sandalku mana? ucapku pelan nan panik, aku mencari-cari, siapa tahu lupa naruh tadi. Tapi yang kucari tidak ada. Tak menampakkan batang jepitnya. Aku menunggu dan menunggu, barangkali dibawa Khodim kyai yang sedari tadi wara-wiri nyuci mobil. Lelah menunggu, aku kembali ke pondok mencari sandal yang raib. Nihil juga, pondok pun kosong. Nggak ada se-nyawa santripun. Mereka mungkin ada di gedung madrasah, memusyawarahkan pelajaran semalam.

Ada satu sandal di sana, bukan sandal jepit melainkan sandal Carvil. Aku melototi sandal itu sejenak.

Jangan pakai. Itu bukan hak kamu, kasihan yang punya nanti kebingungan nyari. Nuraniku mengatakan demikian. Lagi pula aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukan seperti yang orang lakukan padanya. Ini bulan puasa, sob!

Pakai saja, bilangnya nanti kalau sudah balik. Yang penting pakai dulu, masa naik bus nyeker. Apa nggak malu? Beli sandal? Nanti ongkos bus gimana.. hayo?

Nafsu membisikiku. Terlihat matahari yang bertengger dilangit sangat terik dan sinarnya memantul ke plesteran, mengkilap dan menyilaukan. Aku melototi lagi sandal bagus itu. Bukan karena bentuknya yang keren. Tapi karena aku sangat butuh sandal dan yang ada hanya itu. Kakiku hampir menjangkau itu benda.

Apa kamu nggak kasihan pada orang tua yang susah-susah biayain kamu mondok agar kamu menjadi anak yang soleh. Bukan anak saleh. Nurani itu berkoar-koar lagi. Aku mengurungkan niat, tanpa ba-bi-bu lagi, aku melompat, “Auw… Auw… Auw…panas-panas, kakiku seakan melepuh. Panas sekali pelataran ini.

Makanya aku bilang juga apa! Pakai saja, dari pada kepanasan. Kasihan kakimu, kaki kan juga amanah.

Nafsu nggak menyerah untuk merayu. Aku menoleh kanan kiri. nggak ada orang. Aman.

* * * * *

Sehari sudah aku pulang kampung. Saat mau berangkat aku dipeseni orang tuaku untuk belajar yang rajin, takdhim terhadap perintah kyai dan jangan lupa untuk mengembalikan…sandal yang kupakai.

Tiba digerbang pondok. Langkahku sedikit terhenti saat melihat keramaian di halaman pondok. Para santri berkerubung. Riuh rendah tawa diselingi tepukan tangan tak lepas-lepas di sana. Keramaian itu memancing keingintahuankui.

Penasaran yang mengusik, aku pun makin melangkahkan kaki dan mendekati ke sumber.

Disela-sela keramaian, aku menyusup dari belakang ingin melihat apa yang dilihat mereka. Kepalaku mendongak-dongak tapi tak terlihat juga. Maklum tinggi badanku hanya 160an lebih pendek dibandingkan yang lain.

“Ada apa tho Kang, kok ramai-ramai?” Tanyaku pada seorang santri yang berdiri membelakangiku.

“Goshob”

“Goshob?!” keningku berkerut.

“Iya… goshob,” santriwan itu menatapku yang menjinjing beras setengah karung kecil dan tas yang ada dipunggung berisi sedikit IN (inuk-inuk alias cemilan, istilah ini tenar di kalangan santri sini).

“Ketahuan goshob sandal. Sekarang kan peraturannya digalakkan lagi,” lanjutnya tanpa kuminta.

Akui manggut-manggut. Sembari menggotong beras, aku mencari celah yang cukup untuk membuatku leluasa mengintip.

“Hah?… Luky, Fikri, Hasan…?!” desisku, heran. Menyaksikan ketiga teman sekamarku dan lima santri lain sedang keliling memunguti sampah dengan mendorong gerobak. Leher mereka dikalungkan sandal yang mereka goshob. Dan di sana, barang ‘berhargaku’, sandal, menjadi salah satu yang dikalungkan. Dipakai oleh… Luky! Aku kaget. Kok?

“Ketahuannya kapan tho, Kang?” Selidikku, banyak tanya macam wartawan. Yang ditanya pun sedikit gerah tapi tetap ditanggapi.

“Ada yang tadi malam, ada yang kemarin. Pokoknya semenjak ustadz Abu Topan kehilangan sandal Carvil-nya.”

Aku meng-o-kan, sembari mengangguk. Tunggu! Sandal C-a-r-v-i-l? Glek! Aku menatap kedua kaki.

Bola mataku menyenter ke sekeliling mencari celah untuk aman. Ketahuan? Duh gusti, aku hanya bisa pasrah menghadapi hukuman atas perbuatanku. Oh, Ramadhanku.

 

Mengenang masa indah di pesantren

Jazakallah buat teman-teman Komunitas Sajadah Detikcom.

Muhammad Sholich Mubarok

Tentang Muhammad Sholich Mubarok

Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (7 orang menilai, rata-rata: 8,43 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
93 queries in 1,156 seconds.