Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Step to Move On

Step to Move On

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kita sepakat bahwa kehidupan tidak selalu diisi dengan sesuatu yang indah. Terkadang beberapa kegagalan, kesedihan, ataupun peristiwa pahit lainnya pasti pernah menghampiri kehidupan seorang manusia. Biasanya kegagalan maupun kesedihan yang menyesakkan itu berkisar tentang cinta, kematian, karir dan pengkhianatan (persahabatan). Peristiwa seperti itu akan membekas dalam ingatan kita, mau atau tidak mau, karena kita punya hati dan akal pikiran. Masalahnya adalah kebanyakan orang lebih suka ‘bermesraan’ dengan masa lalu seperti itu, baik disengaja ataupun tidak.

Mungkin akan sulit atau bahkan mustahil jika kita menuntut diri kita untuk melupakan masa lalu seperti itu. Kenapa mustahil? Pertama, karena hal itu sudah terjadi dan tidak akan bisa dihapus. Sampai saat ini tidak ada satu pun manusia yang bisa menghapus masa lalunya, walaupun hanya untuk satu detik saja. Jadi kalau Anda berharap bahwa Anda bisa menghapus masa lalu Anda tersebut maka itu sungguh tindakan yang bodoh. Kedua, semakin Anda berusaha untuk melupakan, sejatinya Anda sedang bekerja keras untuk mengingatnya. Kehidupan ini bergerak mengikuti hukum alam. Salah satu hukum alam yang pasti berlaku adalah gaya dorong. Setiap benda di alam ini pada dasarnya mempunyai sifat untuk mempertahankan posisinya. Jadi ketika Anda mencoba mendorong sesuatu, maka sesuatu tersebut sebenarnya sedang mendorong Anda juga. Pun demikian dengan masa lalu. Semakin kuat dorongan Anda untuk menyingkirkannya dalam kehidupan, pada kenyataannya ia juga akan mendorong Anda agar ia bisa tetap eksis dalam kehidupan Anda.

Jadi kalau masa lalu itu tidak bisa dihapus dan dilupakan, bagaimana kita bisa nyaman menjalani hidup? Satu hal yang perlu kita sadari adalah kita telah berutang banyak pada masa lalu. Kita berutang pada semua masa lalu, entah itu kenangan yang membahagiakan, menyesakkan dada, mengharubirukan perasaan bahkan juga pada kenangan yang sangat menyakitkan. Berkat masa lalu tersebut kita masih bisa hidup sampai saat ini, kita bisa menjadi diri kita saat ini, dan masa lalu itu juga membentuk sifat-sifat kita saat ini. Dia telah memberikan kita sebuah identitas serta sifat, entah identitas yang kita inginkan atau bukan, sifat yang kita harapkan atau tidak. Yang jelas masa lalu telah memberikan kita jiwa. Karena manusia tanpa identitas dan masa lalu, maka kita menganggap bahwa dia tidak pernah hidup sebelumnya. Maka, hal pertama yang harus kita lakukan adalah berterimakasih pada masa lalu kita.

Tidak pernah ada satu pun manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan. Coba Anda baca biografi tokoh-tokoh yang berpengaruh di dunia, pasti tak ada satu pun tokoh yang hidupnya 100% selalu sukses. Bahkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam pun pernah mengalami kegagalan ketika perang Uhud. Jadi sebenarnya kegagalan itu adalah hal yang lumrah, biasa, dan lazim dalam kehidupan. Jika mereka yang besar dan hebat saja masih mempunyai catatan kegagalan, apalagi kita yang masih merangkak menuju kedewasaan. Yang membuat perbedaan kita dengan orang-orang sukses tersebut adalah bahwa tokoh-tokoh tersebut berusaha untuk berdamai dan merasa memiliki masa lalu mereka. Mereka tidak sibuk untuk melawan masa lalu melainkan senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan. Mereka bersahabat dengan masa lalu mereka, karena mereka paham jika mereka tak bersahabat dengan masa lalu sesungguhnya mereka akan menjadi musuh bagi masa lalunya. Ketika mereka bersahabat dengan masa lalu tersebut, mereka tidak punya waktu untuk mengutuknya, alih-alih mengutuknya mereka justru belajar dan berinteraksi dengan kenangan-kenangan tadi agar bisa menjadi pribadi yang lebih hebat di masa datang. Jadi, langkah kedua yang harus kita lakukan adalah berdamai dan bersahabat dengan masa lalu kita.

Kegagalan adalah cara Allah memberitahumu bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Kebanyakan dari kita menghakimi masa lalu yang pahit sebagai kutukan pada kehidupan kita. Padahal bukan itu yang diinginkan oleh Dia Yang Maha Penyanyang. Dia Yang Maha Baik, tidak mungkin memberi kegagalan pada makhlukNya dengan maksud agar makhlukNya tersebut dibenamkan pada kehancuran. Namun banyak manusia menganggap bahwa kegagalan mereka adalah sebuah rencana Allah untuk menjerumuskannya pada kebinasaan. Maka banyak kita lihat manusia yang mengutuk kehidupannya berakhir dengan tragis hanya karena persangkaan dirinya sendiri. Maka cobalah untuk bersangka baik. Ya, bersangka baik pada masa lalu adalah langkah ketiga untuk terus melaju dalam kehidupan yang indah ini. Bersangka baik pada masa lalu kita justru akan membuat kita lebih siap menghadapi masa depan. Bahkan lebih dari itu, dengan bersangka baik sesungguhnya kita akan membuka pintu-pintu hikmah yang tak bisa terlihat oleh mereka yang meratap dan bersu’udzhon pada hidupnya. Umar Ibnu Khattab radhiyallah ‘anhu tidak akan pernah menemukan dirinya berada pada 10 orang yang dijamin masuk surga jika beliau terus menerus menyalahkan masa lalunya yang kelam. Thomas Alfa Edisson tak akan pernah menemukan bola lampu jika dia selalu mengutuk kegagalan-kegagalan yang dialaminya. Albert Einstein tak akan pernah bisa semasyhur saat ini jika dia bersangka buruk pada kehidupan masa kecilnya. Begitu pun kita, jika tak pernah memiliki perasaan yang baik pada apa yang telah kita lalui, maka selamanya kita akan terkekang dalam keburukan masa lalu kita.

Setelah kita berterimakasih pada masa lalu kita, berdamai dan bersahabat dengannya, lalu bersangka baik padanya, maka hal terakhir yang harus dan sungguh harus kita lakukan adalah melanjutkan hidup kita dengan sebaik-baiknya. Meminjam istilah anak muda saat ini, maka kita harus move on, beralih pada fokus hidup kita yang lain. Terlalu lama berinteraksi dengan masa lalu kita hanya akan menimbulkan penyesalan yang mendalam tanpa menghasilkan apapun. Mengingat keindahan masa lalu itu baik jika hanya untuk menumbuhkan motivasi. Namun yang lebih penting dari itu adalah menyiapkan diri untuk menghadapi masa depan.

Untuk menyiapkan masa depan maka Anda butuh mind set atau pola pikir. Lalu untuk menyiapkan pola pikir tersebut, Anda butuh masa lalu Anda sebagai informasi. Cukuplah masa lalu Anda dihadirkan sebagai informan, bukan sebagai tujuan. Setelah Anda menetapkan pola pikir yang Anda butuhkan, maka Anda siap untuk memulai hidup Anda yang baru.

Meminjam salah satu kata bijak yang saya temukan di dunia maya, saya berharap kita bisa memanfaatkan masa lalu kita untuk kehidupan yang lebih baik. Karena sejatinya, memang masa lalu diciptakan untuk menyokong masa depan kita, bukan untuk meruntuhkan impian kita. Selamat move on. Semoga kita semua selalu dimudahkan dalam kebaikan.

“Kegagalan adalah peluang untuk hal yang lebih baik. Kegagalan adalah batu loncatan untuk pengalaman yang berharga. Suatu hari nanti Anda akan bersyukur untuk beberapa kegagalan yang Anda alami. Percayalah, ketika satu pintu tertutup untuk Anda, sebenarnya pintu yang lain selalu terbuka”.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,36 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Pegawai di salah satu Lembaga Bimbingan Belajar Islami, lulusan S1 Ilmu Komunikasi Stikom Bandung.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Surat Cinta dari Mahasiswa untuk MUI