Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menjemput Kenangan

Menjemput Kenangan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com Hari libur yang sangat menyenangkan bersama saudara baru di Bogor khususnya para pementor dan mentee menuju Taman Nasional Gunung Halimun Salak baik yang ikhwan maupun akhwat. Sungguh Indah pesonanya pagi itu, di daerah Ciampea-Bogor Jawa Barat. Tempat wisata ini sangat recommended, masya Allah, keren banget. Pemandangannya takjub hanya nama IndahNya yang aku lantunkan, sambil memandangi dedaunan yang masih segar dan hijau serta pepohonan yang rindang di antaranya yang aku tahu pohon damar (Agathis dammara), pohon pinus (Pinus perkusii), pohon cemara(Casuarina junghuniana) yang sangat tinggi, dan beberapa pohon lainnya. Selain itu juga ada beberapa panorama bukit yang terdapat sumber mata air dan air terjun atau orang menyebutnya curug yang menjadi tempat wisata andalan karena paling banyak dikunjungi orang.

Curug yang paling dikunjungi di sini adalah curug Seribu di antara curug lainnya serta banyak tempat penginapan juga atau Villa yang menjadi pilihan orang-orang untuk stay sejenak di sini. Moment yang pas untuk mengisi liburan sehingga cukup ramai tempat ini terutama dari Jakarta dengan keluarganya untuk melepaskan penatnya di Villa. Serta rumah sederhana dan warung-warung kecil yang didirikan oleh warga aslinya yang tinggal menetap di sana, terlihat juga ladang hijau dengan beraneka ragam botaninya. Tak ketinggalan juga tempat ibadah juga ada di sini yaitu Mushalla yang bersih dan nyaman.

Selain oke tempatnya suasananya pun dingin nan asri, tak lupa sweater tebal selalu aku kenakan. Pokoknya dingin banget deh suasananya. Kegiatan yang di adakan panitia benar-benar full refreshing di dalamnya ada training motivasi, diskusi, dan outbound. Sungguh menyenangkan bagi panitia maupun peserta terlihat ekspresi yang bahagia. Tapi ada yang membuat aku sedih ketika acara ini berlangsung karena mengingatkanku pada sahabatku, dan adik-adikku yang ada di Serang dan di Cilegon. Menjemput kenangan bersamanya karena suasananya pernah aku alami bersama sahabatku dan adik-adikku di sana. Dilantunkannya nasyid semangat. Flashback pengalamanku bersamanya.

Ketika itu aku terjebak dalam organisasi Islam di kampus pada tingkat pertama namanya Lembaga Dakwah Kampus Baabussalam Untirta. Benar-benar bersyukur aku bisa terjebak di Lembaga ini bertemu dengan saudara tercinta yang punya semangat tinggi, harapan dan cita-cita yang luar biasa dan saling mendekatkan kita kepada Allah SWT. Rindu rasanya untuk berkumpul lagi dengan mereka, saling senyum, saling sapa, saling bercanda, dan saling memberi motivasi. Bila ada kegiatan kami pun terlibat aktif menjadi peserta atau pun panitianya, dengan pemateri yang luar biasa dihadirkan membuat kita semua termotivasi hingga kita terus memperbaiki dan meluruskan niatan kita untuk mengharapkan cinta yang indah dariNya. Tanpa sengaja air mata bening menetes di wajahku yang sulit aku tahan dan kami pun terpisah dalam satu lingkaran yang indah (halaqah) bersama murabbi dan sahabat.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, kedua kata yang selalu sulit dipisahkan. Seperti orang yang kita sayangi ketika dipanggil untuk menghadapNya selama-lamanya.  Kini yang aku alami sekarang, dengan saudara baru, murabbiyah baru, materi baru, amanah baru, targetan baru, suasana baru, lingkungan baru dan serba baru. Ohhh sahabatku, adik-adikku aku rindu dan rindu padamu.

Ya Allah kenapa Kau pisahkan aku dengan mereka….
Sebenarnya aku tak sanggup untuk berpisah

Aku sayang mereka….
Mereka adalah sahabat terbaik yang aku miliki….

Yang memberi aku ilmu, cerita, canda, tawa, kesedihan, kebahagiaan, ketenangan, dan motivasi

Kalau pun Kau menggantikan mereka
Tidak ada yang sama dengan sahabatku ini

Ya Robb jangan pisahkan kami…
Tolong jangan pisahkan…
Aku rindu lingkaran itu….

“Aku Rindu”
Dikutip dari ustadz kita (alm. Ust. Rahmat Abdullah)

Aku Rindu Zaman…

Ketika Halaqah adalah Kenikmatan,
Bukan Sekadar Sambilan Apalagi Hiburan

Aku Rindu Zaman….
Ketika Membina adalah Kewajiban,
Bukan Pilihan Apalagi Beban dan Paksaan

Aku Rindu Zaman…
Ketika Daurah Menjadi Kebiasaan,
Bukan Sekadar Pelengkap Pengisi Program yang Dipaksakan

Aku Rindu Zaman…
Ketika Tsiqah Menjadi Kekuatan,
Bukan Keraguan Apalagi Kecurigaan

Aku Rindu Zaman…
Ketika Tarbiyah adalah Pengorbanan,
Bukan Tuntutan, Hujatan dan Objekan

Aku Rindu Zaman…
Ketika Nasihat Menjadi Kesenangan,
Bukan Su’udzhon atau Menjatuhkan

Aku Rindu Zaman…
Ketika Kita Semua Memberikan Segalanya Untuk Dakwah Ini

Aku Rindu Zaman…
Ketika Nasyid Ghuraba Menjadi Lagu Keseharian

Aku Rindu Zaman…
Ketika Hadir Liqa adalah Kerinduan dan Terlambat adalah Kelalaian

Aku Rindu Zaman…
Ketika Malam Gerimis Pergi ke Puncak Mengisi Daurah dengan Ongkos Terbatas dan Peta Tak Jelas

Aku Rindu Zaman…
Ketika Seorang Ikhwah Benar-benar Berjalan Kaki 2 jam di Malam Buta Sepulang Tabligh Dakwah di Desa Sebelah

 Aku Rindu Zaman…
Ketika Pergi Liqa Selalu Membawa Infaq, Alat Tulis, Buku Catatan dan Qur’an Terjemah ditambah Sedikit Hafalan

 Aku Rindu Zaman…
 Ketika Binaan Menangis Karena Tak Bisa Hadir di Liqa

 Aku Rindu Zaman…
Ketika Tengah Malam Pintu Diketuk untuk Mendapat Berita Kumpul di Subuh Harinya

Aku Rindu Zaman…
Ketika Seorang Ikhwah Berangkat Liqa dengan Uang Belanja Esok Hari untuk Keluarganya

Aku Rindu Zaman…
Ketika Seorang Murabbi Sakit dan Harus dirawat, Para Binaan Patungan Mengumpulkan Dana Apa Adanya

Aku Rindu Zaman Itu…
Yaa Robb… Jangan Kau Buang Kenikmatan Berdakwah dari Hati Kami

Yaa Robb… Karuniakanlah Kepada Kami, Keistiqamahan di Jalan Dakwah Ini

Ada kata yang membuat aku survive “Selalulah bersama kebenaran, walaupun engkau sendirian, teruskan perjuanganmu, jadilah yang terbaik.”

Afwan jadi melow hiks…hiks…hiks. Jazakillah khair sudah membaca curhatan penulis. Hehe.

Penulis sedang rindu dengan sahabat-sahabatnya dalam lingkaran halaqah serta adik-adikku yang manis penuh semangat dalam mencari ilmu. Aku sayang kalian semua karena Allah swt semoga Allah senantiasa menjaga keistiqamahan kita, di manapun kita berada. Aamiin ya Robbal’alamin.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alzena Valdis Rahayu
Alzena Valdis Rahayu, bernama asli Ririn Rahayu. Lahir di kota Serang 5 September 1988. Selama di kampus dulu ia aktif di berbagai organisasi internal dan eksternal salah satunya UKM TRAS (Tirtayasa Research Academic and Society), LDK Baabussalam, Himagron, Bem Faperta, KAMMI Untirta, dan FLP Serang. Selain itu juga penulis hobinya menulis, membaca, diskusi, dan travelling. Alumni Agroekoteknologi UNTIRTA. Aktivitas sekarang penulis sedang menempuh S2 Alhamdulillah penulis mendapatkan Beasiswa Unggulan Kemdiknas 2011 di Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi IPB. Motto hidupnya Selalu Belajar Sungguh-sungguh dan Berdoa.
  • Allahu Akbar,..sejuk hati ini membaca kutipan ustadz rahmat,.
    Ya Rabb, berikan kami kekuatan tuk tetap istiqomah di jalanMu,.

Lihat Juga

Ilustrasi. (instagram.com/dawah.doodle)

Ibu, Takkan Pernah Terpisah dari Sang Anak