Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pemimpin yang Mengilhami

Pemimpin yang Mengilhami

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin” (Umar Bin Khattab)

Seketika padang pasir Harrah; salah satu kota dekat madinah pun tenang dalam malamnya, angin semilir yang dingin membuat setiap anak manusia tertidur lelap. Akan tetapi anak manusia ini tidak tenang untuk tertidur dalam malam. Terlihat dari arah gunung cahaya api yang menyala-nyala dengan seseorang yang sedang meniup-niup tungku yang diisi kayu bakarnya. Sang khalifah berkata kepada pembantunya Aslam “mungkin itu suatu kafilah yang kemalaman yang tidak sampai ke kota, dan mereka menunggu di sana di luar kota, mari kita lihat keadaan mereka”. Umar pun berjalan menuju sumber cahaya yang dikira adalah suatu kafilah yang menunda perjalanannya. Setibanya di sana, Umar pun terkejut karena yang beliau kira suatu kafilah, adalah seorang wanita yang sedang meniup-niup tungku bersama beberapa anak kecil yang sedang menangis.

Umar pun memberikan salam kepada wanita tadi dan mendekatinya

“Mengapa anak-anak ini menangis?” Umar bertanya kepada wanita tadi.

“Mereka menangis karena mereka belum mendapatkan makanan sedikit pun dan belum makan sedikit pun makanan” jawab wanita tadi kepada Umar.

“Apa yang sedang engkau masak dalam panci itu? Apakah engkau sedang memasakkan makanan untuk mereka? Umar melanjutkan pembicaraannya.

Wanita itu menjawab “panci ini ku penuhi dengan air, aku mencoba menghibur anak-anak agar mereka senang dengan menyangka aku sedang memasakan sesuatu untuk mereka sampai mereka terlelap tidur. Semoga Allah menghukum amirul mukminin Umar, yang tidak mau tahu dengan kesempitanku ini”.

Umar pun menangis, bibirnya bergetar, hatinya menjadi sesak dan berkata “semoga Allah merahmatimu, tetapi bagaimana khalifah dapat mengetahui keadaanmu?”

“Dia itu adalah pemimpin kami, tetapi tidak memperhatikan keadaan kami” wanita itu langsung menyambut pertanyaan Umar.

Aslam dan Umar pun kembali ke madinah dengan segera, kemudian mengeluarkan sekarung gandum, kurma, lemak, dan beberapa potong pakaian juga beberapa dirham dari Baitul maal. “Wahai Aslam, letakkan karung ini di pundakku!” Umar menyuruh aslam dengan nada yang tegas. “Biarkan aku yang membawanya ya amirul mukminin” Aslam mencoba ingin membawanya. Sahut Umar “Tidak!! Letakkan di pundakku!!” Aslam mencoba beberapa kali menawarkan agar ia membawanya, akan tetapi akhirnya Umar yang membawanya dan Umar berkata kepada Aslam “apakah kamu akan memikul dosa dosaku kelak di hari kiamat? Tidak, aku sendiri yang akan memikulnya, dan aku juga yang bertanggung jawab atas hal ini”. Segera Umar pun berjalan kembali menuju wanita tadi.

Tungku yang sempat padam itu, kembali Umar nyalakan. Kemudian Umar mengeluarkan makanan dari karung bahan makanan yang dibawanya dan memasaknya. Asap yang mengenai janggut dan membuat sakit mata Umar, tidak menjadi penghalang untuk beliau terus memasak dan menghidangkan makanan itu dan mereka pun makan. Selesai makan, wanita itu berkata “Semoga Allah memberimu balasan yang baik, seharusnya kamu lebih berhak menjadi khalifah daripada Umar”. Umar pun tersenyum dan berkata “Jika kamu menjumpai khalifah, maka kamu akan menjumpaiku di sana”.

“Aku tadi duduk sebentar karena aku telah melihat mereka menangis, dan hatiku ingin duduk sebentar menyaksikan mereka tertawa” Kemudian Umar dan aslam pun kembali ke madinah.

Begitu keteladanan yang Amirul mukminin ajarkan kepada kita semua, seorang pemimpin yang benar-benar mampu menaungi, mengilhami dan meneduhkan rakyatnya dengan sepenuh hati, mengetahui setiap pelik yang dirasakan rakyatnya. Karena amanah yang teramat besar itu adalah amanah yang berat. Bahkan langit, bumi, gunung-gunung enggan akan amanah ini.

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah ini oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh” (QS. Al Ahzab: 72)

Kiranya saat ini, pemimpin juga menghadirkan peran seperti amirul mukminin yang memperhatikan rakyatnya dengan baik, dan ketika ia tahu rakyatnya sedang mengalami kesempitan ia selesaikan kesempitan itu, bahkan hingga dengan tangannya sendiri.

Suatu hari imam Al Ghazali pernah bertanya kepada murid-muridnya, apakah yang paling berat di muka bumi ini? Semua jawaban dikeluarkan oleh murid-muridnya gunung, gajah, besi, dan lain-lain. Beliau katakan semua itu belum benar. Imam Al Ghazali kemudian menyampaikan kepada murid-muridnya bahwa yang paling berat di muka bumi ini adalah “Amanah”.

Mari kita jernihkan pikiran dan hati kita, sebetulnya apa yang ada dalam benak para pemimpin saat ini. Apakah status dan jabatan kekuasaan diinginkan dengan mengira itu mereka temui dengan penuh keindahan dan kesenangan belaka. Padahal kita tahu bahwa setiap sesuatu akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga kata Rhenald Kasali.

Indonesia Negara demokrasi, rakyat ikut menentukan ke mana arah pembangunan Negara digerakkan, memiliki prinsip dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat, maka pelayanan, kepentingan dan kesejahteraan kembalikan kepada rakyat. Karena seyogianya pemimpin adalah khodimuhul umat, pelayan bagi umat manusia.

“Kejujuran akan menyelamatkan kamu walaupun kamu takut padanya, dan kebohongan akan mencelakakan kamu walaupun kamu tenteram karenanya”. (Ali Bin Abi Thalib)

Semoga para pemimpin kita selalu Allah bombing, berkahi, Rahmati, diberikan cahaya dalam hatinya, dan Allah tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus bukan jalan orang-orang yang sesat.  Pemimpin yang mengilhami seperti Umar kepada wanita itu meskipun wanita itu tidak tahu bahwa yang datang adalah amirul mukminin. Wallahu’alam

Advertisements

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

“Waa Islaamaah”, Buah Kepemimpinan Shalih Saifuddin Quthuz dan Erdogan

Organization