Home / Berita / Opini / Ketokohan adalah Tanggung Jawab

Ketokohan adalah Tanggung Jawab

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Saya yakin setiap dari kita sangat mafhum, bahwa seorang pemimpin, di manapun dia berada, di level apapun dia memimpin, atau dalam waktu apapun pasti akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin, akan dievaluasi kebijakan-kebijakan yang telah ditelurkan selama melaksanakan bebannya. Itulah keniscayaan seorang pemimpin.

Berat memang…karena memang pemimpin itu adalah posisi yang menarik. Harga yang setimpal atas rasa penghormatan dan ketaatan anggota-anggotanya. Inilah kiranya yang membuat kepemimpinan adalah skill yang istimewa dan harga yang mahal. Di pundaknya diberikan beban yang tidak mudah atas tanggung jawab…

Tapi nanti dulu, jangan dipikir bahwa perkara beban dan pertanggungjawaban hanya ada pada bahasan kepemimpinan. Sesungguhnya perihal ini juga secara otomatis melekat pada ketokohan. Tanggung jawab ini harusnya disadari benar oleh para sosok tokoh itu, di manapun dia berada…

Layaknya seorang pemimpin, sosok tokoh akan dilihat oleh banyak orang. Ia ibarat buah yang ranum di atas pohon yang warnanya mengkilat-kilat mencuri pandang siapa pun yang melewatinya. Memang di sanalah sosok tokoh itu, dia berada di tempat-tempat khusus yang banyak dipandang manusia. Kita bisa mempelajarinya dari desain stadion sepak bola atau konser musik sekalipun.

Karena seorang tokoh selalu dilihat banyak manusia, maka banyak hal pula yang terinfiltrasi olehnya. Manusia mulai mengambil dan mempelajari coraknya. Corak rambutnya, corak pakaiannya, atau corak sepatunya. Dalam perkara social, maka manusia akan mengambil pola pikirnya, gaya bicaranya, pola interaksinya, dan masih banyak lagi.

Ketika manusia sudah merasa cocok dan yakin, maka semua corak itu kemudian akan ditiru. Sedikit demi sedikit mulai dicoba pada dirinya sendiri. Gaya rambutnya, gaya pakaiannya, gaya bicaranya, caranya menyapa, bahkan mungkin sekadar caranya melambaikan tangan atau caranya membalas senyuman.

Kesatuan dari semua corak yang membentuk penampilan/performance ini kemudian (mungkin) bisa disebut sebagai kharisma. Kharisma akan memberikan pengaruh kepada siapa saja yang terkena sinarnya. Memang pilihan tetap pada penonton, tapi kekuatan penetrasi ada pada empunya kharisma. Baginilah pola-pola adaptasi dimulai…

Lalu di mana perkara tanggung jawabnya…? Seperti kisah di atas, seorang tokoh mempunyai peluang penetrasi dan pengaruh yang sangat besar. Seorang tokoh bisa menghipnotis ribuan pasang mata dengan karya-karya besarnya, dengan pola pikirnya, pula dengan tampilan fisik yang lain… Bukankah pak Karno pernah membuktikan dengan gaya orasinya yang memukau? Artis bisa membuktikannya dengan gaya aktingnya bukan? Seorang musisi bisa membuktikannya pula dengan cara bermain gitarnya… Hal yang sama juga terjadi pada pola pikir dan sudut pandang.

Seorang tokoh bisa dengan sangat leluasa menyebarkan cara berpikirnya kepada khalayak. Seorang tokoh bisa dengan mudah menyebarkan cara pandangnya terkait suatu hal kepada banyak orang. Selanjutnya dari cara berpikir akan membentuk opini. Dari sanalah kemudian banyak terjadi perubahan tingkah laku. Hal ini terjadi pada hal yang sifatnya positif dan juga negatif. Kurang lebih sama metodologinya…

Alangkah baiknya jika yang disebarkan adalah perkara kebaikan, tapi bagaimana jika yang disebar adalah perkara negatif?? Semua akan menerimanya jika tidak punya alasan yang kuat untuk tidak menerima. Lalu akan menirunya dan sedikit demi sedikit mengaplikasikan pada dirinya. Bisa jadi disebarkan lagi ke teman-temannya, keluarganya, tetangganya, dan masih banyak lagi. Maka jangan terkejut, jika kelak keburukan ini akan mewabah. Mempunyai pola jaringan yang tersistematis, dan susah untuk ditumbangkan. Sosok tokoh menjadi begitu fenomenal bukan…??

Di sinilah letak tanggung jawab itu berada. Seorang tokoh apapun dan di manapun selalu menjadi pusat perhatian. Tokoh itu bisa berupa dosen teladan, artis, presiden, manager, ketua RT, kepala polisi atau yang lain. Di pundaknya terdapat beban sekaligus peluang itu.

Maka tokoh adalah penyebar yang sangat potensial. Ia dapat menyebarkan apapun dengan cara yang mudah dan efektif. Misal, Seorang artis yang sering nongol di TV berperan sebagai banci, bisa jadi akan membuat para penggemarnya merasa tidak risih jika dengan perihal itu. Lama-lama ia akan diterima dan dianggap sebagai suatu yang biasa saja. Sesuatu yang tadinya hanya ada dalam TV dan tidak jauh dari perkara peran, bisa jadi menjadi pembolehan atas perkara yang nyata di kehidupan yang sebenarnya. Hal yang sama bisa jadi terjadi atas perkara penyimpangan-penyimpangan yang dianggap wajar lainnya. Perkara pembacokan, pembunuhan, pencabulan, atau yang lain, bukankah karena sudah ada tokoh yang mengawali?

Pilihannya kini kembali pada kita masing-masing. Mau menjadi tokoh seperti apakah kita? Nilai-nilai apa yang akan kita sebar? Pengaruh apakah yang akan kita berikan kepada lingkungan kita? Sedangkan ketokohan tiap manusia pada dasarnya selalu diberikan ruangnya. Dengan kata lain, tiap kita akan mengambil porsi tokoh itu. Dalam sekup yang kecil ataukah lebih besar lagi… mari menentukan yang terbaik…!

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dimasagil
Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik UGM. Pernah tergabung di Pramuka ketika SMP, kemudian mengenal Rohis saat SMA, dan pernah aktif di BEM saat kuliah. Pernah menghadiri konferensi di bidang IT di luar negeri.

Lihat Juga

Tokoh Bangsa Turut Berduka Atas Meninggalnya Bang Buyung