Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islam Is Our Choice (Part 2)

Islam Is Our Choice (Part 2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Apapun alasan yang ada, saya memang senang menulis dan saya akan memenuhi keinginan saya untuk tetap menulis. Jika apa yang saya tulis adalah sesuatu yang benar maka alhamdulillah, tetapi jika tidak maka astaghfirullah. Aku yakin, kalaupun tulisan ini tidak bermanfaat, insya Allah, tetap tidak akan membawa mudharat. Namun kebaikanlah yang saya inginkan dan Allah sajalah yang dapat memberi taufik”. (Hasan Al-Banna)

Ada sebuah kisah menarik setelah wafatnya Rasulullah SAW, saat kaum Anshar dan Muhajirin berselisih terkait siapakah pemimpin yang akan melanjutkan tonggak amanah dakwah Rasulullah. Saat itu ada Abu Bakar Ashidiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah. Abu bakar yang kemudian berdiri menjelaskan duduk persoalan pergantian itu. Ia tahu bahwa bangsa Arab tidak mau tunduk kecuali kepada orang Quraisy, kemudian beliau menyampaikan pujian kepada kaum Anshar. Beliau mengakui keutamaan mereka dalam masuk Islam. Kemudian beliau pun mengingatkan keutamaan dari Muhajirin pula, bahwa kaum Muhajirin pun memiliki keutamaan dalam Islam.  Kemudian abu bakar mengatakan “Aku merelakan dua orang ini untuk menjadi pemimpin bagi kalian, yaitu Umar bin Khattab dan abu Ubaidah”. Kemudian Umar berkata, “Abu Bakar! Siapakah yang akan menentangmu, sedangkan Rasulullah telah merelakanmu untuk memimpin kami dalam urusan agama kami?” kemudian Umar mengambil tangan abu bakar dan membaiatnya pun abu Ubaidah melakukan hal sama seperti Umar.

Sahabat, kaum Anshar beralasan dengan pengorbanan yang mereka lakukan, sedangkan Muhajirin beralasan dengan lebih awal mereka dalam memeluk agama Islam.  Kita ketahui mereka berselisih bukan lantaran karena hawa nafsu dan kedengkian di hati, tetapi mereka berselisih karena Allah, bersatu karena Allah, dan mengambil petunjuk dari Allah. Cinta mereka karena Allah, benci mereka karena Allah. Tidak ada ambisi untuk berkuasa pada diri mereka. Karena itu, mudahlah bagi mereka mengadakan pendekatan dan persatuan.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Di atas keimanan itulah kita saling memberikan kesempatan dan kepercayaan yang begitu mahal. Marilah bersama-sama untuk mengembalikan pesona model manusia, mengembalikan ruh perjuangan yang menggelora, mengembalikan gemilang keemasan terdahulu. Bukan berbicara apa yang kita dapatkan dari Allah, tapi apakah yang telah kita berikan untuk Allah. Bukanlah berbicara jabatan, tetapi berbicara fungsional. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bukan yang menjabat.

Mari membangun generasi pemenang, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Alon–alon asal kalakon. Sedikit demi sedikit yang penting kontinuitas.

Teringat pengantar dari K.H. Hilmi Aminudin, bahwa kemenangan itu ada khomsah syuruuth istihqaqin najah, ada lima syarat untuk menuju kemenangan; winning value/nilai-nilai yang membuat kita pantas menang, winning concept, winning system, winning team, dan winning goal.

“Kita akan menang dengan sarana yang sangat sederhana, sekalipun dunia akan menyaksikan sesuatu yang belum pernah disaksikan sebelumnya.” (Hasan Al-Banna)

Wallahu’alam

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Kemenangan Trump dan Pengaruhnya Terhadap Mesir