Home / Berita / Silaturahim / LPI Dompet Dhuafa Peduli Pendidikan Melalui Sekolah Guru Indonesia

LPI Dompet Dhuafa Peduli Pendidikan Melalui Sekolah Guru Indonesia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
32 Peserta SGI Angkatan 3 dari Sebelas Propinsi. (Dasnah)

dakwatuna.comBanyak cara untuk membuktikan kepada publik bahwa kita peduli dengan pendidikan yang ada di Indonesia. Bahkan, siapa pun mampu mewujudkan kepedulian itu. Termasuk instansi atau lembaga. Salah satu lembaga yang mengusung cita-cita pendidikan Indonesia adalah Dompet Dhuafa, sebuah lembaga zakat yang dikelola oleh orang-orang kreatif hingga melahirkan ide kreatif.

Pernahkah Anda mendengar Sekolah Guru Indonesia? Sepertinya sangat asing bukan? Program tersebut berada di bawah naungan Dompet Dhuafa. Rintisan jejaring Dompet Dhuafa, Lembaga Pengembangan Insani.  Sekolah Guru Indonesia dikhususkan bagi seluruh sarjana muda (fresh graduate) yang siap dididik dan diasramakan selama 6 bulan untuk menjadi calon guru model.

Sekolah Guru Indonesia (SGI) Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa. Program ini sudah meluluskan tiga angkatan. Dari angkatan pertama hingga angkatan ketiga terus mengalami perbaikan. SGI I yang berjumlah 63 orang (2009) waktu itu masih di bawah naungan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa memprioritaskan guru honor yang tengah mengabdi di  sekolah dasar untuk dibekali dengan profesionalisme keguruan yang mumpuni, nantinya mereka kembali ke sekolah masing-masing untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama bergabung dengan SGI. Perkuliahan selama enam bulan dengan tenaga dosen serta trainer handal dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, seperti Asep Sapa’at, Rina Fatimah, Agung Pardini, Evi Afifah Hurriyah, serta trainer tamu seperti Jamil Azzaini siap menggodok para calon guru professional. Tentu tim SGI masih merasakan adanya kekurangan dari sistem yang diterapkan pada SGI I hingga tim SGI pada umumnya di bawah pimpinan Evi Afifah Hurriyah, M.Si. mencoba memodifikasi program yang telah ada.

Tahun 2010, SGI II sebanyak 30 orang yang direkrut adalah sarjana lulusan universitas negeri maupun swasta berasal dari berbagai propinsi yang ada di Indonesia. Mereka yang tergabung ke dalam SGI II diseleksi dengan indikator kriteria yang telah ditentukan oleh Tim SGI, work shop selama 5 bulan dengan fasilitas bea studi berasrama, berbagai pembekalan yang memadai tentang profesionalisme guru serta kegiatan asrama yang mampu mengarahkan calon guru tersebut menjadi guru berkarakter. Setelah melalui tahapan hingga 5 bulan lamanya, para calon guru SGI pun siap ditempatkan di berbagai pelosok daerah  seperti, Pulau Rote dan Kupang (NTT), Banjarmasin, Natuna, Merauke, Bengkulu, Bengkayang dan lain-lain. Setiap daerah terpilih terdiri atas satu utusan guru SGI. Mereka pun bersinergi dengan pemerintah setempat untuk memajukan pendidikan yang ada di penempatan. Adapun program guru SGI ini adalah: pelatihan atau work shop mereka gelar untuk meningkatkan kualitas guru, aktivitas menulis pun terus mereka galakkan, bahkan program pengembangan sekolah seperti ceruk ilmu serta melakukan Penelitian Tindakan Kelas pun merupakan program yang harus dijalani. Pun masih banyak bentuk kegiatan sosial lain, seperti pemberdayaan masyarakat di lokasi penempatan yang terus mereka lakukan guna mengabdikan diri secara total pada bangsa, terkhusus di daerah penempatan mereka.

Pada tahun 2011, Tim SGI masih merasa perlu perbaikan untuk calon guru yang akan ditempatkan di daerah pilihan. Modifikasi pun masih tetap dilakukan, sarjana yang direkrut melalui proses seleksi ketat, mulai dari seleksi berkas, seleksi keterampilan menulis, FGD, dan wawancara. Akhirnya, terpilihlah 32 orang peserta dari 11 propinsi ke bergabung dalam SGI III dengan semboyan “Bangga Jadi Guru, Guru Berkarakter, Menggenggam Indonesia”.

32 peserta SGI Angkatan 3 pada saat latihan “Militery Super Camp”. (Dasnah)

Keseriusan Tim SGI Dompet Dhuafa dalam dunia pendidikan terbukti dengan terus melakukan modifikasi terhadap program sekolah guru ini. Bukti real yang diterapkan oleh tim adalah dengan melakukan pembentukan kedisiplinan ala militer, ditangani langsung oleh TNI dengan nama program “Militery Super Camp” yang berlangsung selama 7 hari (sepekan), masa orientasi, yakni pengenalan terhadap struktur serta jejaring Dompet Dhuafa yang ada di Lembaga Pengembangan Insani, pembekalan selama 6 bulan.

Perkuliahan atau work shop selama 3 bulan melalui bimbingan dosen dari dalam SGI, seperti Evi Afifah Hurriyah, Asep Sapa’at, Rina Fatimah, Amru Asykari, Agung Pardini serta menghadirkan dosen tamu seperti Djauharah Bawazir, psikolog dan konselor ahli penemu metode Pendidikan Bunyan, pakar politik pengusung Character Building, Eri Sudewo, presenter TV professional, Alvito Deanova. Tak hanya itu, pakar psikologi masyarakat, master forensic pertama di Indonesia, Reza Indragiri, social entrepreneur yang juga dosen UI, Imam Prasodjo, peneliti dan penulis buku, Wijaya Kusumah, serta masih banyak dosen tamu lain turut dihadirkan untuk menggembleng calon guru yang akan dikirim ke daerah pilihan.

Aktivitas wawasan keilmuan dari segi kemasyarakatan pun diberikan sebagai bekal kepada mereka yang terpilih. Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan selama 1 bulan di desa Tambleug, Lebak, Banten dengan menerapkan berbagai program kerja 3 bidang, pendidikan, pemuda, dan ekonomi. Pasca KKN, SGI III ini pun kembali dibekali dengan micro teaching serta magang selama 2 bulan di sekolah elite yang ada di Bogor, seperti Madania School, bertaraf international, SDIT Birrul Waalidain, SDIT At-Taufik, SDN Polisi 04, SDIT Aliya, SDIT Ummul Quro dengan spesifikasi kelas multiple intelligence, SDN Bantar Jati Sembilan, SD 03 Sukadamai, Sekolah alam, Kreatifa, dan SDS Pelita Insani,  Jawa Barat. Sekolah tempat magang pun salah satu bentuk serius dari Tim SGI, kalau SGI II dimagangkan di sekolah negeri, SGI III sebaliknya. Hal itu dimaksudkan agar mereka menyerap dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari sekolah elit tersebut. Tempat magang mereka juga merupakan tempat untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk dijadikan sebuah karya ilmiah sebagai syarat kelulusan di Sekolah Guru Indonesia.

Tidak hanya itu, pembekalan dan pembinaan karakter sangat ditanamkan selama kegiatan berasrama. Hal itu terbukti dengan dipilihnya dua pembina asrama muda (fellow residence) berpengalaman, khusus untuk putra dan putri yang disiapkan untuk menggembleng karakter para calon guru, tentu saja dengan kurikulum asrama yang sangat membangun karakter, seperti disiplin ibadah dan olahraga, social gathering, saling mengajar, kajian sejarah nabi, kajian ilmu fiqih, dan lain-lain .

Saat ini, 32 guru muda yang terpilih tengah berada di daerah penempatan, namun mereka tidak diutus sendirian sebagaimana sistem SGI II, mereka dikirim secara kolektif atau per tim di tiap daerah, terdiri atas leader dan anggota. Daerah terpilih untuk bekerja sama dengan tim SGI, yakni, Buton (Sulawesi Tenggara), Sambas (Kaltim), Dompu (NTB), Belitong (Babel), Waykanan (Lampung), dan Lebak (Banten). Mereka yang tersebar di daerah tersebut, diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan pendidikan di sekolah penempatan pada khususnya, serta kabupaten pada umumnya. Tentunya tak lepas dari kerja sama dengan dinas setempat. Program unggulan LPI Dompet Dhuafa di bidang pendidikan ini merupakan langkah kecil yang diharapkan nantinya akan membesar hingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh propinsi yang ada di seluruh Indonesia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dasnah, SPd.
Fasilitator Komunitas Guru Gugus SGI Dompet Dhuafa. Bantaeng, Sulsel.

Lihat Juga

Wakaf Sebagai Solusi Pengembangan Infrastruktur di Indonesia