Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berawal dari Gerakan Hati

Berawal dari Gerakan Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ribuan alumni ESQ dari seluruh Indonesia mengikuti gerak jalan santai di di Silang Monumen Nasional, Jakarata, dalam rangka menuju Indonesia emas 2020. (hendro suhendra/dtc)
Ribuan alumni ESQ dari seluruh Indonesia mengikuti gerak jalan santai di di Silang Monumen Nasional, Jakarata, dalam rangka menuju Indonesia emas 2020. (hendro suhendra/dtc)

dakwatuna.com Ketika berbicara gerakan maka ada satu ciri yang tak boleh lekang di dalamnya, cirri tersebut adalah gerak itu sendiri. Kalau boleh saya beranggapan, ketika sebuah gerakan itu berhenti bergerak maka matilah gerakan itu. Namun ada hal substansi yang seharusnya ada ketika kita bergerak, agar tercerminlah gerakan itu menjadi sebuah gerakan yang sejati. Hal yang penting untuk membangun konsepsi dalam bergerak adalah tujuan, arah gerak, panduan gerak dan stasiun awal pemberangkatan sebuah amal gerak. Seiring berhembusnya angin bersama dalam kerangka perpindahan jarum jam waktu beberapa gerakan banyak yang tergerus oleh zaman hingga beberapa gerakan mati di tengah jalan atau kehilangan dari jati dirinya namun masih ada gerakan-gerakan pemuda yang masih bertahan bersama semangat zaman. Gerakan yang mampu bertahan ini adalah gerakan yang konsisten terhadap konsepsi gerakan itu sendiri ketika ia di bangun dan melakukan inovasi dan selalu memunculkan sebuah tradisi perbaikan di dalamnya. Dan tentunya ada esensi yang harus selalu di jaga agar mencirikan kehakikiannya dalam bergerak. Setiap gerakan harus paham tujuan apa yang hendak ia capai dalam setiap langkah geraknya dan ada tujuan utama yang harus senantiasa di capai yaitu tujuan hidup itu tersendiri yaitu tak lain hanya untuk menghambakan diri pada Rabb semesta alam Allah SWT, jadi tujuan sebuah gerakan harus bermuara menjadi sebuah nilai dan amal yang akan menjadikan subjek dan objek gerakan semakin dekat dengan Allah SWT. Kemudian sebuah gerakan perlu juga untuk merumuskan dan memahami arah dan panduan gerak dan kembali saya kemukakan untuk meraih keberhasilan hakiki dari sebuah gerakan maka belajarlah pada sebuah pesan-pesan nubuwah, dan mengaplikasikan pesan-pesan kenabian sesuai dengan konteks keadaan yang actual. Karena setiap perjuangan sebuah pergerakan secara hakiki akan melalui rintangan-rintangan yang sesungguhnya rintangan itu hanya berbeda versi saja dan tentunya pesan nubuwah ini menjadi sebuah panduan mendasar sebelum membuat panduan-panduan yang lainnya. Dan sebagaimana dalam kajian yang di tulis oleh Sa’id Hawwa dalam kajian ruhiyah manusia bahwa ada terminal pemberangkatan yang harus di perhatikan ketika manusia menjalani kehidupan ruhiyahnya terminal awal itu adalah hati dan hati adalah pusat garapan dari tarbiyah. Maka sebuah gerakan yang akan mengedepankan kesejatian dalam amal-amal geraknya harus menata kebersihan, kejernihan dan kelurusan dari terminal pemberangkatan sampai nanti akhir dari tujuan yang hendak di capai. Jika memang hati merupakan pusat garapan tarbiyah maka saya pun mengopinikan bahwa hati pulalah juga merupakan pusat garapan untuk bergerak dan peradaban yang kokoh dan kekal nan hakiki adalah gerakan yang di bangun dari hati. Mengutip salah satu perkataan Rasulullah SAW tentang gambaran fungsi hati: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Namun apabila ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati” (HR. Muslim) Dan tentulah akan hancur kesejatian sebuah gerakan jika gerakan itu berangkat dari terminal hati yang tidak ikhlas. Konsep nubuwah mengklasifikasikan macam-macam kondisi hati di antaranya hati yang buta, hati yang kasar, hati yang sakit hati yang terkunci dan tertutup, hati orang-orang kafir yang cenderung sejalan dengan langkah-langkah syetan, hati yang tercerahkan, hati yang mendapat ujian dan hati yang sehat dan cahayanya menyinari gerak kehidupan. Berangkat dari klasifikasi tersebut maka akumulasi dari kondisi hati orang-orang yang terjun sebagai aktivitas gerakan akan membentuk pula karakter gerakan. Dan nanti ada gerakan-gerakan yang sakit dan ada gerakan-gerakan yang akan membawa kehakikian dalam membangun peradaban yang menginspirasi tentunya cahayanya pula akan memberikan rahmat pada semesta alam. Belum lagi saya mengingatkan tentang konsep ikhlasunniyat dan konsep itqonul amal yang ujungnya membentuk tingkatan manusia tertinggi yaitu dalam beramal yaitu manusia-manusia ihsan sehingga sebuah gerakan harus mampu mengkondisikan untuk melahirkan generasi-generasi yang rabbani dan tentunya banyak dari kader gerakan itu yang telah mengoptimalkan konsep ihsan dalam beramal. Dan tentunya ini terlahir dari konsep iman dalam gerakan, sehingga gerakan pun harus di gerakan oleh orang-orang beriman yang mengawal arah gerakan dari hati yang ikhlas dan bergerak secara ihsan. Niscaya kemenangan dari pencapaian tujuan dari sebuah gerak amal akan menjadi sebuah batu-batu loncatan yang menjadikan eksistensi sebuah gerakan yang eksistensinya di bangun dengan komitmen yang kuat sehingga kemenangan pun akan semakin dekat dan semua pengorbanan akan menjadi saksi yang berharga.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eru Zain
Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto.

Lihat Juga

Hatiku Hanya Terpaut Untuk-Mu