Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Lima Kali Patah Hati

Lima Kali Patah Hati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bocah lelaki itu menarik-narik gamis Ibunya yang sedang membereskan sesuatu di Ruang Guru. Dengan aba-aba kepala dan tangan, ia meminta uang sambil menunjuk-nunjuk ke kotak di dekat tangga. “Buat infaq, Ummi!” pintanya pelan. “Itu bukan kotak amal, Nak!” jawab Ibunya sembari tersenyum dan membelai kepala anaknya, lalu menjelaskan perihal kantin kejujuran di salah satu pojok SMP Islam Terpadu itu.

Di serambi depan sebuah masjid kampus, suatu sore, bocah lelaki yang lain sedang berjalan selangkah demi selangkah. Di tangannya teracung kemasan bekas makanan ringan. Dengan gumamnya yang kurang jelas di telinga orang dewasa, ia berulang kali mengatakan sesuatu. Kemudian ia turuni anak tangga satu demi satu, hati-hati, pelan-pelan, karena panjang tungkai kakinya nyaris sama dengan tinggi anak tangga itu. Tak sedikit pun raut kerut kerepotan tertampak di wajahnya. Sedikit kemudian ia berjalan lagi, hingga tiba ke tempat tujuannya. Tujuannya tak lain ternyata tempat sampah besar di pojok sana. Lalu ia buang kemasan makanan yang tadi diacung-acungkannya, tentu saja ke dalam tempat sampah itu. Ayahnya tersenyum saja dari pojok dalam serambi masjid. Sang Ayah terus saja menyampaikan materi kajian, kepada sekelompok mahasiswa yang melingkar bersama-sama.

Bocah perempuan itu berjalan bersama Ibunya, hendak memasuki gedung tempat berlangsungnya sebuah walimahan. Begitu mendekati pintu masuk gedung, ia dengan segera memandu Ibunya, “Ummi ke sana. Ummi ke sana,” ujarnya yakin. Sepertinya ia melihat situasi, dan membaca jelas meja bertuliskan ‘Ikhwan’, lalu memandu perempuan berkerudung yang dipanggilnya Ummi itu menuju meja tamu bertuliskan ‘Akhwat’.

Bocah lelaki itu termangu melihat anak sepantarannya duduk begitu saja di dekat pintu angkutan kota, di tempat orang-orang menginjakkan alas kaki. Ia berhenti mengunyah makanannya ketika mendengar suara nyanyian dari anak jalanan dengan pakaian kumal itu. Tanpa menunggu lama, ia meminta sesuatu kepada orang tuanya. Uang pemberian orang tuanya itu lalu digenggamnya erat. Lalu diserahkannya dengan bersemangat begitu si pengamen kecil selesai bernyanyi.

Bocah perempuan itu sedang bermain dengan adiknya. Mereka memanfaatkan selendang yang diikatkan ke tiang, di sebuah warung Tegal di pinggir jalan raya. Saban hari warung nasi itu ramai oleh pekerja yang sedang mengerjakan pelebaran jalan. Suatu malam, Bapaknya tersenyum ketika menceritakan bahwa bocah itulah yang menempelkan kertas di dinding bertuliskan “Jangan Merokok Di sini”. Foto bocah itu manis terpampang di dinding dalam. Ia berkerudung dan bertoga. “Foto waktu lulus dari TPA,” kata Bapaknya sambil tersenyum bangga

Bocah-bocah itu tentu belum pernah membaca sekian ratus buku, apalagi menuliskan buku-buku. Tapi indahnya kebenaran seperti melekat dalam kepolosan jiwa mereka. Sumber ilmu yang mereka dapatkan tentulah dari keteladanan, atau perkataan baik. Barangkali dari guru di sekolah, atau dari guru ngaji, atau dari sedikit bacaan yang mereka santap. Tapi terutama tentu dari guru (yang idealnya) paling dekat dan paling akrab: kedua orang tua, ibu dan bapak. Berbahagialah mereka, orang tua dan guru, yang diberi kesempatan membesarkan dan mendidik anak dengan keshalihan yang menginspirasi, sekaligus membuat orang lain tersenyum.

Demikianlah lima kisah bocah yang usianya tak jauh dari kisaran lima tahun. Lima kisah yang membuat saya patah hati. Hati yang memang harus patah atau dipatahkan, agar tidak menjadi lebih keras lagi. Hati yang harus dihujam, ditohok, dan ditumbuk kembali, agar tak lupa begitu saja bahwa setiap kita pernah menjadi bocah kecil, menjadi anak manusia yang tak sekalipun berpikir untuk menyepelekan akhlak terpuji. Hati yang masih harus dipaksa mengingat, bahwa menyisakan “bocah kecil” dalam sebagian diri kita, berarti peluang untuk bersikap lebih sederhana, pemberani, suka berbuat, dan bermartabat. Peluang yang biasanya lebih kecil jika memakai kerumitan berpikir dan merasa ‘dewasa’, yang kerap kali menjerumuskan ke dalam jurang permisivitas, atas berbagai kesalahan dan dosa. Wallaahu a’lam bishshawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,11 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Anggota FLP Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi. (plus.google.com)

Surat dari Seseorang yang Salah Meletakkan Cinta pada Sebuah Hati