Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Melaju Bersama Sirah Nabi

Melaju Bersama Sirah Nabi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sejarah, apa ia akan senantiasa tentang perjuangan tahun 45, 65 atau penumpasan gerakan separatis? Nanti apakah sejarah akan selalu mengulang tentang kejadian persiapan kemerdekaan, atau kalau ditilik lagi ada bab-bab tentang hewan-hewan purba, taman gantung di Babylonia, ilmuwan-ilmuwan Yunani yang menginspirasi ilmu terapan. Apakah sejarah itu akan terus kita ulang kala duduk di bangku sekolah? Sepertinya ada yang kurang, agaknya ada yang masih diperlukan dalam tahap meresapi i’tibar sejarah, mengambil pengajaran dari tiap kejadiannya, seperti Ramadhan Al-Buthi menjelaskannya secara apik dalam tajuk sirah Nabawiyah atau bagaimana dengan Syaikh Munir al-ghadban kala Sirah yang jelas dan rinci itu diambil hikmahnya dari sisi pergerakan.

Agaknya ada yang kurang kalau segmen sejarah tentang manusia paling berpengaruh di muka bumi hanya dicerna sekilas, bolehkah kita sebentar duduk mengamati lagi bagaimana dengan 23 tahun saja Ia mampu merubah keyakinan paganis, melenyapkan simbol-simbol paganis di rumah-rumah, menghancurluluhkan berhala-hala tiada makna di Baitullah?. Sebuah sejarah tentang Rasulullah saw, dalam menghadapi ujian yang multi-variant, kadang ujian itu hadir dari cemoohan, kadang ujian itu hadir dari “haditsul ifki”, kadang ujian itu hadir dari kenikmatan harta rampasan kala pasukan ahli panah terbaik di bawah komando Abdullah bin Jubair Al-Ansori diaduk hatinya apakah taat atau turun mengambil ghanimah, kadang ujian hadir dari kedengkian, kadang ada pula ujian yang hadir dari amanah yang berturut kala ghazwah “Mu’tah” menuntut keberanian melawan pasukan Heraklius Roma.

Sudikah sebentar merenung, sudikah sebentar menghayati sejarah yang sudah sepatutnya dipelajari, keberanian yang disalurkan untuk kebenaran, ketangguhan dan ketawadhuan yang ditujukan pada sang Khaliq, pengorbanan yang ditasbihkan pada penggenggam ‘arasy. Apakah patut kita meninggalkannya, dalam fase-fase awal para pemuda Islam hari ini menempuh studinya? Apakah tidak patut generasi hari ini mengenal ahli panah Sa’d bin abi waqqash, ahli diplomasi sekelas Ja’far dalam melunakkan keyakinan Najasyi, ahli strategi yang ditakuti kutub dunia seperti Khalid “Saifullah”.

Selepasnya, mungkin kala roda itu makin berputar cepat, kala Islam menunjukkan cahayanya kembali, makin bersinar makin menyilaukan pandangan…

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidir