Home / Pemuda / Cerpen / Epilog buat Iwan

Epilog buat Iwan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sore Iwan, apa kabarmu hari ini? Tentunya kau di sana tak melihat mendung yang saat ini menggantung di kelam sore. Sepertinya mau turun hujan. Sore ini rasanya aku kangen dengan sebuah jalan yang biasa kulewati sepulang kuliah. Jalan yang ramai dengan orang yang berjualan dan biasanya kutemukan senyummu di salah satu penjual nasi kucing langgananmu. Rasanya baru kemarin, aku lewati jalan itu. Lalu aku menyapamu bersama teman-temanmu, kau dan teman-teman pun membalas dengan lambaian tangan “Ya Mbak!”

Dek, kau masih ingat tidak ketika kita kali pertama bertemu. Aku masih ingat, di kampus ungu ketika aku dan teman-teman sedang mencari generasi baru untuk memperjuangkan Islam. Di antara ratusan undangan yang kami berikan hanya segelintir mahasiswa baru yang mau datang, termasuk kau. Mulanya beberapa orang temanku khawatir melihat potongan kalian yang ‘nyentrik’ kaos oblong, celana jeans, senyum yang selalu mengembang. Tidak salah, menurutku. Hanya saja potongan itu tidak dimiliki teman-temanku.

Kau mulai babak baru bergabung di dakwah kampus dengan sebuah pementasan teater berjudul ‘Afwan’ sebuah teater besutanku dan sahabatku, Indah. Karena jumlah ikhwan yang limited edition di jurusan kita, maka mahasiswa baru yang seharusnya jadi penonton kupaksa jadi pemain.

Mulanya aku sempat khawatir, setelah itu kau dan teman-temanmu lalu bubar seperti yang sudah-sudah. Tapi, aku bersyukur kalian masih bersama kami hingga Ramadhan. Untuk semangat kalian, aku memasukkan kalian menjadi panitia Ramadhan. Alhamdulillah kegiatan lancar. Saat Ramadhan itulah, kau ungkapkan keinginanmu untuk menjadi ketua Rohis. Aku hanya tertawa, kuselipkan doa pada Allah lewat hujan sore itu ‘amin’

Rupanya kau tak hanya aktif di Rohis tapi juga di HIMA (Himpunan Mahasiswa), termasuk teman-temanmu yang lainnya yang aktif di LK (Lembaga Kemahasiswaan) lain. Aku ingat suatu hari di sanggar Pramuka, kau mengajakku sharing tentang HIMA, betapa kau resah di HIMA dengan kondisinya. Aku hanya mengatakan padamu, dakwah tidak hanya di Rohis, di lembaga dakwah kampus saja tetapi di manapun kita berada, kapan pun, dengan siapa pun. Karena kita dai sebelum apapun.

Di awal kepengurusan Rohis baru, kita bersama-sama rihlah di pantai Ujung Segara, Batang. Entahlah, aku tidak suka ketika mobil kita ditulisi ‘takziah’ kita kan mau rihlah. Dengan bersungut-sungut aku masuk mobil. Sesampai di Ujungsegara, kita out bond, game, tafakur alam, dan pelantikan pengurus Rohis baru.

Awalnya aku merasa yakin semua akan baik-baik saja hingga suatu hari aku dengar, kau dekat dengan seorang gadis, ya gadis yang manis berambut panjang sepinggul. Tak hanya kau, pengurus Rohis yang lain pun rupanya sedang jumud, tak bersemangat. Lalu kubuat saja surat cinta, undangan untuk sharing, makan bubur kacang hijau bersama di sore hari. Ada Pipit, Indah, dan aku sebagai dalangnya karena kami tidak ingin pejuang dakwah berguguran.

Suatu hari aku dengar kau sakit, satu bulan karena tipes. Lama tidak masuk kuliah membuat kami khawatir. Tiba-tiba kau masuk kuliah lagi, dengan tubuh yang masih lemas dan wajah pucat. Aku sengaja memberimu jeda setelah memberi pinjaman buku ‘Kala Cinta Datang Menggoda’ dan “Pacaran Tidak Ada dalam Islam’. Aku ingin kau merenung.

“Trims ya Mbak.” ucapmu penuh arti ketika kupinjami. Allahu, bawa ia kembali ke jalan-Mu, pintaku dalam hati.

Beberapa waktu kemudian, kita bertemu lagi di lorong kampus gedung B1. Usai aku membagikan surat tadzkirah tentang cinta, cinta kepada Allah kepada semua pengurus Rohis, aku lupa belum memberimu.

“Mbak!” panggilmu sumringah.

“Ya.” aku menoleh.

“Iwan baru sakit nih, kemarin jatuh.” kau pegangi pelipismu.

Aku melihat kepalamu yang diperban. “Hati-hati ya Dek.”

“Ya Mbak.”

Aku baru saja hendak memberikan tadzkirah lalu datang gadis itu, ia menengok ke arah kita. Lalu tanpa kata setengah berlari pergi ke arah tangga.”

Hei!” kau berseru gadis itu menoleh. “Tunggu! Mbak, aku kuliah dulu ya.”

“Ini dari Rohis.” aku menyerahkan surat tadzkirah.

“Makasih Mbak.” kau menyusul gadis itu.

“Dek!” aku memanggilmu, rasanya ada risau di hati. Aku harus berbicara.

“Ya.” kau menoleh

“Besok wae ya.” ucapku.

Kau hanya mengangguk. Sejurus kemudian risau itu menjadi-jadi, entahlah.

Beberapa hari kemudian aku disibukkan menjadi panitia OKKA (Orientasi Kehidupan Kampus) BEM fakultas. Suatu malam aku susah tidur, hingga tiba-tiba aku terbangun jam 01.50 dengan keringat dingin, ada yang hilang seserpih di hatiku. Perih. Namun aku tidak tahu apa.

Paginya aku ke gedung rektorat bertugas jadi panitia OKKA. Tahu-tahu ada akhwat yang ingin menemuiku. Seorang anggota Menwa (resimen mahasiswa) memanggilku.

“Mbak ada yang mencari di pintu masuk.”

Aku melihat ada Isna, akhwat seangkatanmu

“Mbak, adik Mbak meninggal.” ia berkata pelan. Aku tak merasa keluargaku meninggal.

“Iwan Mbak.” lirihnya.

“Bapaknya?” tanyaku, ia menggeleng. “Ibunya?” aku bertanya kembali.

Aku berbalik segera kembali ke sekretariat PMB fakultas, perasaanku kacau.

“Mbak!” Isna berseru.

Aku menoleh.

“Iwan Mbak, yang ninggal Iwan.” ia berteriak.

Orang-orang melihat kami. Semua seakan berjalan lambat.

Berkaca-kaca aku menghampirinya “Bentar ya, Mbak izin dulu ke BEM Fakultas dan Racana. “Aku merasa agak limbung izin pulang kepada teman-teman panitia OKKA fakultas dan OKPT (Orientasi Kepramukaan Perguruan Tinggi) Racana universitas.

Aku pulang ke kos ditemani Isna, ia tampak khawatir. Sesampai di kos Indah, sahabatku yang juga dekat dengan Iwan, sedang menyetrika. Aku langsung menarik tangannya. Setelah di kamar, aku memeluknya, menangis. “Iwan, Iwan adik kita.”

Indah bingung. “Kenapa?”

“Iwan ninggal.” Aku tergugu. Indah ikut menangis.

Entahlah, rasanya berat menerima ini. Zhuhur aku dan teman-teman mau ke Batang, ke rumahmu naik mobil yang sama waktu kita mau rihlah. Kali ini-pun ditulisi takziah tapi kami bukan mau rihlah melainkan takziah di rumahmu, menghadiri pemakamanmu, Iwan.

Aku menemui ibumu, kami berpelukan. Rasa kehilangan menyatukan raga yang tak pernah bersua. “Dek Iwan, ninggal jam berapa Bu?’ tanyaku pelan.

“Jam 01.50.” ibumu menangis.

Aku ikut menangis, terhenyak. Jam itu aku terbangun, jam itu aku merasa ada yang hilang, dengan perih. Aku ke makammu, yang basah oleh hujan sore, yang basah oleh air mata orang-orang yang menyayangimu. Ada gadis berambut sepinggul di sebelahku. Kami berpelukan. Kami kehilangan orang yang kami sayangi.

Hari itu, 7 Juni 2005 kami kehilangan salah satu pejuang dakwah di kampus ungu ini.

 

Innalillahi wainna ilaihi raaji’un

Telah meninggal saudara kami

akhina Iwan S

Haaah…setiap aku lewati jalan ini, gang Kantil, belakang kampus FBS. Sepi selalu menegurku, mengingatmu, mengingat kalian, pejuang dakwah, adik-adikku yang kusayangi karena Allah. Tetaplah tegar di jalan ini meski terlempar, tertatih dan terpatah. Karena jalan yang begitu sukar oleh belukar ini lebih dicintai-Nya. Tetaplah di jalan para pejuang ini karena Allah mencintaimu, demikian juga aku.

Mengenang kepulangan adikku, pejuang dakwah. Akhir Safar yang menderu 1428.

 

Keterangan istilah:

Tadzkirah : pengingatan

Rihlah : refreshing

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Guru, Wirausaha. Senang belajar, membaca, menulis, meneliti, dan berpetualang.
  • annisa kha

    Subhanallah..
    ini cerpen penyampaiannya benar-benar serasa kejadiannya adlah nyata..
    pngen deh bisa menulis cerpen seperti mbak ini.. :)

    • Ata

      Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Alloh. Kisah ini memang berdasar kisah nyata ukhti :) Sebuah kisah yg semoga dapat diambil ibrohnya bersama.

Lihat Juga

3 Inilah yang Membuat Kita Bersatu