Home / Pemuda / Essay / Ketika Halaqah Menjadi Surga Dunia

Ketika Halaqah Menjadi Surga Dunia

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Pernahkah jenuh dan bete saat berkumpul? Sering ngantuk dalam halaqah atau merasa tidak bersemangat dari awal sampai akhir pertemuan? Merasa nervous dan takut yang teramat sangat, sampai-sampai jantung mau copot saat setoran hafalan? Pernahkah berpikir untuk gak datang halaqah karena belum mengerjakan tugas yang telah diberikan? Merasa gak enjoy dan gelisah saat murabbi memberikan materi? Atau merasa nggak fokus, gerah, capek, bosan dan maunya minggat aja deh?? Yah, itulah beragam perasaan sering terlontar dari beberapa teman.

Woke, sebelumnya kita pelajari dulu tipe suasana yang biasa dijumpai dalam suasana pembelajaran:

  1. Suasana kuburan. Suasana kaku, sunyi dan sepi. Ibaratkan bila ada seekor nyamuk yang terbang, maka dengungnya akan terdengar sangat nyaring sakingkan sunyinya. Hehe…Pada suasana ini kurang ada keceriaan dan komunikasi yang harmonis. Hal ini bisa terjadi karena berbagai kesenjangan yang ada baik psikologis, sosial maupun ekonomi.
  2. Suasana pengadilan. Dengan ini saya nyatakan bahwa saudara Fulan bersalah tok…tok…tok (suara ketukan palu). Wowww, suasana menyeramkan dan menegangkan di mana mutarabbi yang hadir seolah-olah tersangka yang melakukan tindakan kriminal. Mereka datang hanya untuk diadili sehingga kurang berani dan terbuka dalam menyampaikan pertanyaan apalagi gagasan.
  3. Suasana perang. Dor…dor…dor…Suasana apabila pembina hanya menempatkan mutarabbi sebagai orang yang disuruh-suruh semata. Pokoknya gak ada kompromi dehhh!
  4. Suasana ketoprak dan lawak. Waduuuhh, proses belajar bukannya untuk meningkatkan pemahaman dan membina ruhani, tetapi hanya untuk humor dan sekadar hiburan.
  5. Suasana loyo dan nglokro. Uaahh, di suasana ini pembina dan mutarabbi sama-sama lelah. Energi yang digunakan pun adalah energi sisa yang juga dikeluarkan secara terpaksa. Biasanya diisi dengan curhat dan menumpahkan problem semata.
  6. Suasana persahabatan. Nah, ini nih yang keren. Suasana yang didesain agar proses belajar bisa menyenangkan. Di dalamnya ada komunikasi timbal balik yang efektif antara pembina dan mutarabbi. Semuanya menjadi problem solver atas masalah yang sedang dihadapi.

Kurangnya gairah dan semangat belajar mutarabbi maupun murabbi bermula pada suasana yang kurang kondusif, kaku dan tidak mendukung pembelajaran. Nah, agar dakwah bisa berjalan dengan baik, perlu perubahan yang revolusioner dalam membangun dakwah seindah surga.

Ehmm, emang pernah ngerasain surga?

“Sesungguhnya di dunia ini ada taman-taman surga, barang siapa yang tidak dapat memasukinya di dunia ini dia tidak akan dapat memasuki surga di akhirat nanti” (Ibnu Taimiyah).

Tipologi hati manusia tidak suka pada sikap ekstrem, saklek dan berlebihan, baik terlalu keras maupun terlampau lemah. Yusuf al-Qaradhawi berkata bahwa Islam adalah agama istimewa dengan kecenderungan kemanusiaan yang jelas, tetapi tetap orisinil dalam aqidah, syariat, maupun orientasinya. Islam adalah agama manusia (Karakteristik Islam, 1995: 59).

Halaqah pun perlu kehangatan untuk mencairkan suasana yang terlampau tegang dan menggarami hidup agar tidak hambar. Taburkan garam tanpa melebihi dosis yang telah ditetapkan. Terlalu sedikit tak berasa, kebanyakan pun bikin muntah…Wuihhh

Mengapa suasana merupakan hal yang penting?

  1. Suasana interaksi yang hangat, akrab dan saling terbuka di antara sesama mutarabbi dan murabbi akan memungkinkan berlangsungnya pembelajaran yang efektif dan partisipatif. Gali inspirasi dengan pertanyaan segar seperti gaya Nabi, “Siapakah yang ingin menjadi pendampingku di surga?”
  2. Suasana segar akan menjalin persahabatan dan persaudaraan yang erat walaupun memiliki latar belakang yang berlainan. Berikut cara cerdas Nabi dalam memotivasi, “Aku di surga seperti dua jari ini… bagi yang memuliakan anak yatim.”
  3. Halaqah yang full semangat akan membantu mutarabbi untuk membuka diri, saling memahami, menggali potensi dan berani dalam mengemukakan gagasan. Berikut cara Nabi untuk memacu sahabat dalam mengemukakan gagasan. “Siapakah yang disebut orang yang bangkrut itu?”, tanya Nabi.
  4. Mengkondisikan mutarabbi untuk selalu semangat, senang, tanpa rasa bete untuk mengikuti pelajaran. Momen ini adalah momen yang paling pas untuk berkomunikasi lebih intens dengan mutarabbi sehingga dapat meminimalisasi hambatan yang muncul.
  5. Mengembangkan minat karena pada seyogianya minat akan berkembang pada suasana yang hangat dan penuh semangat, meskipun tantangan juga diperlukan untuk memberanikan mutarabbi “Unjuk Gigi” Hihi…Clingg!

Pesan Nabi kepada Ibnu Abbas, “Sesungguhnya engkau seorang anak pembelajar…”

Taman surga akan menumbuhkan potensi dan menggugah motivasi bila akhlak mulia menjadi brand image yang menyatu dengan kepribadian, seperti cara Nabi menginspirasi Amru bin Ash dan Zaid bin Tsabit. Ia menjadi “magnet” bagi orang-orang sekelilingnya untuk bergerak dalam kebaikan sehingga Abu Hurairah pun rela membawakan terompah Nabi demi meraih keberkahan. Majelis ini pula yang menggerakkan ruhiyah seorang sahabat untuk memilih menjadi teman dekat Nabi di surga saat dia diminta Nabi untuk meminta apa saja. Majelis ini pula yang menggerakkan Adi bin Hatim segera berislam setelah menyaksikan kepedulian Nabi dalam melayani curhatan seorang nenek yang tua renta.

“Tidaklah sebuah kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, yang dibacakan di dalamnya kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah menyebut-nyebut mereka kepada makhluk di sisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya” (HR. Muslim)

So, kita semua bisa membuat surga ini di dunia loh! Lalu, gimana caranya??

  1. Tunaikan 5 S: Senyum, sapa, salam, santun, setia. “Wahai manusia sebarkan salam, berilah santunan makan orang yang membutuhkan, silaturahimlah, dan dirikanlah shalat di waktu malam pada saat orang tertidur, niscaya engkau akan masuk surga penuh sejahtera” (HR. Tirmidzi)
  2. Jadilah problem solver. Halaqah adalah majelis solusi atas masalah mutarabbi. Yakinlah siapa yang membantu seorang muslim untuk menyelesaikan kesulitannya, maka Allah pun memudahkannya dari kesulitan di hari yang paling sulit.
  3. The law of attraction. Faman ya’mal mistsqoola dzarratin khairan yaroh, waman ya’mal mitsqoola dzarratin syarran yaroh. Allah akan membalas segala kebaikan dan kejahatan dengan sangat teliti dan sempurna.
  4. Inspiratif. Jadikan majelis untuk menginspirasi kebaikan bagi sesama. Jabat erat, kuatkan ukhuwah, dan berbagi serta bersinergi dalam memikul beban dakwah.

Sayyidina Ali berpesan, “Wahai anakku, carilah teman sebelum melakukan perjalanan, cari tetangga sebelum membangun rumah.”

Begitulah majelis halaqah terasa manis ibaratkan taman surga yang dapat menyenangkan hati bagi orang yang berkecimpung di dalamnya. Suasananya membuat rindu dan selalu ingin bertemu, menginspirasi, dan saling melindungi antar sesama.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,21 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Juli Trisna Aisyah Sinaga
Mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Telkom, Bandung. Berada di lingkungan pendidikan yang cukup kondusif dan penuh seni. Seseorang yang sedang aktif di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dan sedang berjuang untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta menebarkan manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain.

Lihat Juga

Ilustrasi. (almkohtsar.com)

Surga untuk Ayah

Organization