Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pencicip Kebahagiaan Terakhir

Pencicip Kebahagiaan Terakhir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Jama’ah eks Masjid Al Ikhlas terpaksa shalat Jum’at di luar. (blogspot.com/fuisumut)

dakwatuna.com Siang itu saya berangkat untuk menunaikan shalat jumat di masjid tak jauh dari rumah 15 menit sebelum adzan berkumandang. Saya berjalan kaki yang membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai masjid. Singkat cerita adzan pun tiba dan tak lama khatib mulai berkhutbah, ternyata khatib menyampaikan sebuah risalah sifat kepemimpinan Rasulullah terhadap dalam kehidupannya. Entah ini mungkin ada hubungannya dengan pemilu Jakarta yang sedikit lagi akan dilaksanakan, tetapi yang jelas secara umum setiap insan manusia bukankah sudah jadi seorang pemimpin?

Sudah kita ketahui bersama, banyak pemimpin kita yang tersangkut masalah yang sangat kompleks, tentunya kita sebagai rakyatnya paham bahwa ini adalah ujian bagi bangsa yang sedang ingin menjadi bangsa yang besar. Ada sebuah cerita ketika Rasulullah sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat bersama para sahabatnya, pada saat itu sedang musim paceklik. Musim yang sangat kering, sungguh tidak bisa dibayangkan di daerah gurun pasir yang setiap harinya panas tidak seperti kita yang hidup di iklim tropis dilanda musim yang secara langsung membuat siklus kehidupan menjadi tidak semestinya. Paceklik yang berkepanjangan sudah mematikan banyak ternak peliharaan, kurangnya makanan, dehidrasi dan ancaman kematian manusia.

Sehingga para sahabat Rasul yang berkeluh kepadanya untuk mencari sumber makanan dan minuman, padahal Rasul sendiri pun merasakan hal yang sama namun hingga beratus-ratus mil jauhnya tak kunjung menemuinya. Kuda tunggangan pun tak sanggup untuk melanjutkan perjalanannya. Hingga pada suatu tempat Rasul dan para sahabatnya menemui sebuah rumah yang ternyata ditempati oleh seorang wanita. Persinggahan itu membuat asa para sahabatnya besar, berharap ada air dan makanan yang bisa dinikmati. Wanita pemilik rumah itu ternyata tak jauh beda keadaannya, merasakan kelaparan yang sudah dialami beberapa hari, sehingga wanita itu berkata kepada Rasul “Ya Rasul persediaan makananku habis, yang tersisa hanyalah satu kambing betina yang ada di halaman karena yang lain sudah mati yang juga kelaparan dan aku lihat sudah beberapa hari tidak mengeluarkan air pipis.” Kemudian Rasul mendatangi kambing tersebut dan memegang kantung air susu kambing tersebut.

Rasul pun berkata “Cepat ambilkan gelas karena kambing ini akan mengeluarkan susunya” Salah satu sahabatnya berkata “mana mungkin ya Rasul akan mengeluarkan air susu, pipisnya pun sudah tidak keluar lagi” Dengan pertolongan Allah swt air susu kambing itu pun keluar setelah Rasul memerasnya. Dan wanita pemilik rumah itu dan para sahabatnya pun terhenyak heran. Allah Maha Penolong.

Akhirnya Rasul membagikan terlebih dahulu air susu tersebut kepada para sahabat dan wanita itu yang intinya Rasul akan kebagian terakhir. Sahabat pun bertanya “Ya Rasul mengapa Engkau tidak minum duluan, mengapa Engkau memberinya kepada kami? Rasul menjawab “Engkau lebih haus dan lebih membutuhkan” Rasul pun hanya kebagian sedikit dari sisa perasan karena tidak banyak air susu itu keluar. Akhirnya air susu kambing itu sedikit mengobati rasa haus dan lapar para sahabat.

Sungguh sangat ksatrianya jiwa Rasulullah dalam kisah ini, Dia selalu mendahulukan para sahabatnya, sikap itsar yang patut dicontoh kepada para pemimpin di masa sekarang dari pribadi Rasul. Kita sangat merindukan sifat kepemimpinan seperti ini hadir di tengah-tengah masyarakat yang semakin hari semakin menuntut untuk sejahtera. Semoga Pemilukada Jakarta ini dapat mendapatkan pemimpin yang sadar akan hakikatnya pemimpin, selalu mendahulukan kepentingan rakyatnya, kebahagiaan rakyatnya dibandingkan kepentingan dan kebahagiaan golongannya.

Jika suatu saat nanti Allah berkehendak menjadikanmu seorang Qiyadah, maka aku pesan satu hal padamu jagalah setiap Jundi Allah yang Allah perbantukan untukmu. Hargai mereka, sekecil apapun peran mereka dan berlaku adillah karena mereka adalah eksistensi. Jika Allah memberikan keuntungan atas usahamu jadikan dirimu sebagai pencicip kebahagiaan terakhir sebagaimana Umar mencontohkan. Engkau bukan apa-apa tanpa mereka. Rendahkan hatimu di hadapan mereka sebagaimana Allah memerintahkan kepada Rasul untuk bersikap seperti itu kepada kaumnya. Ingat Allah hanya menerima kebaikan dan Maha Memiliki segala sesuatu, termasuk dirimu. Dan Allah membenci orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Ittaqullah haitsumakunta (Bertaqwalah di manapun kamu berada).

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mokhammad Sholeh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang senang membaca dan menulis. Juga sebagai salah seorang motivator.

Lihat Juga

Perjuangan Tak Berakhir Sampai Senja