Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Gema Hatiku Kepadamu Duhai Suamiku

Gema Hatiku Kepadamu Duhai Suamiku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com
Duhai sayangku…
Maaf jika aku harus mengungkapkan hal ini padamu,
di saat aku telah pergi jauh
Semua tak lain adalah karena rasa cinta ku yang begitu besar padamu…

Sayang…
Tahukah kau betapa aku mencintaimu?
Betapa aku sangat bersyukur akan ketetapanNya padaku, yang telah menetapkan engkau menjadi teman hidupku
Walau seringkali aku mengesalkanmu
Sering juga aku melukai hatimu dengan kata-kataku
Mengumpat dalam hati kala aku kesal padamu
Tapi sayang, jauh dari lubuk hatiku…
Sungguh aku bersyukur karena engkau lah yang Dia pilih untuk menjadi pasangan hidupku…

Sayang…
Allah kirimkan engkau untukku, tidak lain adalah untuk mengekang kebebasan liarku, mengatur dan mengarahkan hatiku yang keras, sekeras batu, membersamai langkahku untuk melihat dan belajar makna hidup yang sempat aku lupakan dulu.

Jika beberapa kali pernah kau tanya dan aku tidak menjawabnya…
“Menyesalkah kau menjadi istriku??”
Saat ini, dan biarlah Allah yang menjadi saksi
Lantang aku akan mengatakan
“Tidak sayang, sama sekali aku tidak menyesal”…

Tidak sayang, yang hadir justru rasa syukur yang berkepanjangan
Tidak sayang, karena inilah takdir, jalan hidup yang telah ditetapkan
Engkau adalah perantara yang telah diberikanNya padaku hingga karenamu, gerakku menujuNya makin menggebu”

Tapi Sayang, tahukah kamu?
Betapa dulu aku sempat membenci segala ‘peraturanmu’ itu?
Ego manusia ku berkata “mengapa harus menurut padamu padahal sebagai manusia derajat kita adalah sama?
Ternyata untuk menjawab satu pertanyaan itu, butuh pengorbanan cinta, rasa dan waktu hingga pada akhirnya aku paham makna yang seharusnya dapat ku petik dibalik semua ujian yang diberikan

Dari tegasmu, aku belajar arti lembut dan bersabar
Dari kecemburuanmu yang terkadang tidak masuk akal mengajarkanku untuk lebih ikhlas dan taat pada hal yang kau inginkan (ma’ruf)
Diam mu, menuntutku untuk bisa lebih pandai “merasa” daripada “berprasangka”

Sayang..
Hingga sampai Saat ini sebelum aku pergi pun aku masih terus belajar Untuk bisa menjadi istri idaman untuk mu…
Istri yang kau idam-idamkan di dunia dan akhirat
Istri yang kau harapkan dapat melimpahkan kebahagiaan
Istri yang mampu menjadi jalan kedekatanmu dengan Ar Rahman

Tapi sayang…
Jika pada akhirnya aku harus pergi meninggalkan
Jika pada akhirnya tiba waktu ku untuk menghadap pada Yang Maha Menggenggam
Aku berharap, amanahku dapat kau laksanakan

Jadilah engkau seorang imam dalam keluarga kita
Yang akan menyelamatkan aku dan anak anakmu dari siksa api neraka
Yang akan membimbing mereka semua menuju surgaNya
Yang akan menjadi madrasah, tempat mereka bertanya
Yang akan membersamai perjalanan mereka dengan limpahan kasih sayang yang kau punya
Engkaulah nahkoda kapal yang kami butuhkan agar kapal ini terus berlayar mencapai pelabuhan kebahagiaan

Carilah ia, pengganti ku dengan cinta yang hadir karenaNya
Carilah ia, yang lebih taat dan lebih cinta kepada Rabb-nya
Carilah ia, yang lebih merasa takut untuk berkhianat pada pencipta-nya…
Maka ketika engkau memilih nya,
Sungguh tidak akan ada kekhawatiran bagiku untuk melepaskan semua…

Sayangku…
Ketika sepi hadir di sini… Satu tanya terlintas dalam hati
“Adakah kau merasa betapa cinta itu selalu ada?”
“Adakah engkau tahu, bahwa engkaulah inti dari semua doa-doa yang kupanjatkan padaNya?”

Duhai cinta,
Sungguh aku berharap dan berdoa kepadaNya
Semoga kita bersama di dunia dan di surga
Adakah engkau berkeinginan menjadikanku bidadarimu di sana?
Jika iya adalah jawabannya…
Maka marilah kita bersama terus berusaha
Untuk menjadi yang terbaik di depan Nya
Menjadi tongkat yang akan mengarahkan jalan pada anak-anak kita menujuNya…

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (56 votes, average: 9,46 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Farah Satar
Terlahir di Jakarta pada tahun1980, sebagai anak tengah dari 8 bersaudara, ibu rumah tangga yang sangat tertutup dan menyukai dunia tulis, namun demikian dari beberapa tulisan yang ana miliki, hanya 1 yang ana kirimkan ke FLP Saudi Arabia dan di bukukan dengan beberapa penulis lainnya (Projek Nulis Buku Bareng, judul Antologi CUS - Curhat Untuk SBY), semoga untuk selanjutnya ana memiliki lebih banyak kemampuan untuk berkarya lewat aksara, dan memiliki keberanian untuk mengirimnya ke berbagai ajang dalam dunia tulis, aamiin.
  • ithe

    ko ga bs d copy paste

  • Dwi Haryati

    Subhanallah….aq merinding membaca.y….
    Cerita yg sgt mnyentuh kalbu…..bagus sekali….

Lihat Juga

Pernah Bernadzar Akan Berhenti Bekerja Setelah Melahirkan, Ternyata Gaji Suami Tidak Cukup, Bagaimana?