Home / Berita / Nasional / Inilah Tantangan Dakwah di Tengah Peningkatan Kelas Menengah

Inilah Tantangan Dakwah di Tengah Peningkatan Kelas Menengah

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ada dua dampak dari berkembangnya kelas menengah di Indonesia. Yaitu, positif dan negatif. Positifnya, dengan berkembangnya kelas menengah, berarti tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia meningkat. Negatifnya, membumikan dakwah akan menjadi sulit karena ada banyak tantangan baru yang muncul.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay, ketika menjadi pembicara Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah, “Strategi Dakwah di Kalangan Menengah,” di Aula Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih, Jakarta (Senin, 30/7).

Menurutnya, sedikitnya, ada lima tantangan dakwah yang muncul sebagai implikasi dari berkembangnya kelas menengah.

Pertama, terjadi shifting values(pergeseran nilai). Contoh pergeseran nilai itu antara lain adalah sepinya masjid dan musholla pada saat shalat maghrib. Dulu, pada waktu maghrib orang pergi mengaji, sekarang orang lebih senang menghabiskan waktu di depan TV.

Kedua, berkembangnya sikap individualisme. Agenda kelas menengah biasanya diarahkan pada pencarian kepuasan pribadi. Aktivitas di masyarakat menjadi berkurang sehingga kohesivitas sosial menjadi berkurang.

Ketiga, social pathology (penyakit sosial). Masyarakat kelas menengah tidak selamanya menghabiskan uang untuk hal-hal yang positif. Sebagian di antaranya ada juga yang menghabiskannya untuk maksiat seperti judi, minuman keras, seks bebas, narkoba, kenakalan remaja, dan lain-lain.

Keempat, unfair competition (kompetisi tidak sehat). Untuk menaikkan kelas, banyak di antara masyarakat kita yang melakukannya dengan menghalalkan cara. Akibatnya, terjadilah persaingan yang tidak fair di tengah-tengah masyarakat.

Kelima, cultural deviation (pembauran budaya). Teknologi komunikasi informasi yang banyak dipergunakan kelas menengah menyebabkan terbukanya sekat ruang dan waktu. Budaya yang datang dari luar dengan mudah berbaur dengan budaya Islam dan kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. Karena itu, tidak jelas lagi mana yang asli budaya Islam Indonesia dan mana budaya asing.

“Lihat saja, misalnya, fenomena Lady Gaga. Banyak sekali masyarakat kita, khususnya kalangan muda, yang merasa sangat terganggu dengan pembatalan konsernya. Atas nama kebebasan berekspresi, budaya-budaya seperti itu sudah dianggap tidak tabu lagi,” tandas Saleh. (zul/RMOL)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Hubungan Baik Dakwah Sekolah dan Kampus

Figure
Organization