Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ibu, Sebuah Perenungan

Ibu, Sebuah Perenungan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comIbu, bukti nyata kasih sayang Allah untuk kita…
Sosok yang tak pernah jemu menyayangi dan melayani kita. Pernahkah kita mendoakan ibu di dalam sujud panjang shalat kita di sepertiga malam terakhir? Jika jawabannya iya. Anda sungguh beruntung.
Jika jawabannya tidak, mari kita renungi, ibu kita yang keringatnya adalah kebahagiaan kita, rela bangun di malam hari yang dingin, tak peduli betapa ia lelah karena pekerjaan rumah yang harus diselesaikan di siang hari, namun dia memilih bangun dari tidur lelapnya untuk menghadap Allah dengan penuh pengharapan, dengan sebait doa yang selalu dia minta pada-Nya, doa yang ditujukan untuk siapa? Untuk kita. Karena tujuannya hanya satu, karena keinginannya hanya satu, yaitu kebahagiaan kita.

Pernahkah kita melakukan sesuatu dengan tujuan agar ibu kita bahagia? Jika jawabannya iya. Anda sungguh beruntung. Jika jawabannya tidak, mari kita renungi, sosok yang paling tahu apa yang kita rasakan setelah diri kita sendiri adalah ibu kita. Prinsip seorang ibu adalah, ketika anaknya bahagia, di situlah letak bahagianya juga. Sungguh mulia hati seorang ibu, dia mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk membahagiakan kita, anaknya. Walau dengan hal sepele menurut kita, ibu rela beberapa kali terkena api kompor yang panas, tersayat mata pisau yang tajam, terciprat minyak goreng yang panas, hanya demi memasak makanan yang lezat untuk kita, walau sebenarnya ibu tak menyukai makanan itu sendiri, namun tak dipedulikannya selama itu dapat membuat kita senang, nyaman, bahagia.
Ah… memangnya sejak kapan ibu memikirkan perasaannya dan kesukaannya…
Karena tujuannya hanya satu, karena keinginannya hanya satu, yaitu kebahagiaan kita.

Pernahkah kita gelisah setengah mati ketika ibu kita terbaring sakit? Jika jawabannya iya. Anda sungguh beruntung. Jika jawabannya tidak, Mari kita renungi, Ibu mempunyai sisi hati yang dapat menembus hati kita. Karena ibu merasa kita adalah belahan jiwanya, ketika kita sakit, ibu akan ikut sakit, bahkan terkadang merasa lebih sakit dari kita. Ada dua beban yang dialami hati ibu ketika kita terbaring sakit, kegelisahan serta kekhawatiran yang berlebihan pada kondisi kita, ibu terkadang lupa kebutuhannya seperti makan dan mandi ketika mengurusi kita yang sedang sakit, karena di dalam pikirannya hanya ada satu hal, yaitu kesembuhan kita, anaknya. Beban hati ibu yang lain adalah pura-pura tegar di depan kita yang sedang terbaring sakit, ketika itu, ibu ingin sekali meluapkan kesedihannya karena melihat buah hatinya yang sedang sakit, namun dia simpan rapat kesedihan serta air matanya, dia menunggu saat-saat sunyinya malam untuk mengadu pada Allah, mengadukan apa yang dirasakannya, juga tak lupa mendoakan kesembuhan kita. Karena tujuannya hanya satu, karena keinginannya hanya satu, yaitu kebahagiaan kita.

Teman, Jika kita seorang anak yang cuek terhadap ibu kita, maka ubahlah sikap kita. Walau sebenarnya ibu kita menerima saja apapun sikap kita, namun jangan tunggu sampai semuanya terlambat. Jangan tunggu sampai kita tak mendengar lagi panggilan sayangnya untuk kita.
Jangan tunggu sampai kita tak mencicipi lagi masakan-masakannya. Jangan tunggu sampai kita tak melihat senyumannya di awal pagi kita. Jangan tunggu sampai tak ada lagi yang mengerti perasaan kita. Jangan tunggu sampai sosok itu pergi dalam hidup kita. Jangan tunggu malaikat Israil datang mengambil nyawa ibu kita. Jangan tunggu semua itu!

Berubahlah… Mulailah dengan ungkapan sayang ataupun permintaan maaf atas kecuekan kita selama ini.

“Ibu, maafin kesalahan ananda selama ini, ananda sayang ibu…”

Dengan mengungkapkan kalimat itu di telinga ibu kita, takkan merendahkan derajat kita, malah akan membuat ibu kita merasa berarti dan bangga mempunyai kita, serta Allah akan meridhai setiap langkah kita, insya Allah… aamiiin.

Ayo, tunggu apa lagi…

“Ucapkanlah kalimat itu pada ibu kita sehari 3 kali, atau sehari satu kali, atau sekali seminggu, atau sekali sebulan, atau sekali setahun, atau bahkan sekali seumur hidup,
Ucapkanlah.. sebelum kalimat itu tak bisa diucapkan lagi, karena takdir Allah yang mendahului.”

Dari sahabat abu Hurairah radiyalhu ‘anhu beliau berkata: Datang seorang pria laki-laki kepada Rasulullah kemudian dia bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik?” Beliau bersabda, “Ibumu”, Orang tersebut bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya lagi, “kemudian siapa?”. Beliau bersabda, “Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Orangtua adalah pintu surga yang paling tengah, apabila kau mau maka sia-siakanlah pintu tersebut atau peliharalah.”  (HR. Tirmidzi).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,57 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.

Lihat Juga

Ilustrasi. (islamicartdb.com)

Bu, Aku Menyayangimu

Organization