Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pola Ungkapannya (Cinta)

Pola Ungkapannya (Cinta)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (flickr.com / Cmajor)

dakwatuna.com – Ada ungkapan “dari mata turun ke hati”.

Terlihat lebih sering berawalnya (cinta) dari mata. Tapi tidak melulu begitu. Itu hanya satu dari entah ke berapa permulaannya (cinta); terpikat dengan sosoknya yang ideal, jatuh hati dengan parasnya yang rupawan, tertarik dengan indah bola matanya, dengan senyum lembutnya menyejukkan hati. Itu sah saja. Maka tidak salah jika ada ungkapan “cinta pada pandangan pertama”. Tapi tetap, intinya (cinta) “dari hati ke hati“.

Buktinya bahwa di hati bermuaranya (cinta), lihat saja orang yang sedang dilanda rindu! Hatinya tidak pernah kosong dari yang didamba. “Jauh di mata dekat di hati”. Ini ungkapan yang ada di hatinya atau seperti itu bahasa hatinya.

Bermuaranya (cinta) di hati. Akhirnya, seringkali banyak yang tidak mampu memahami polanya (cinta). Lebih fatalnya hanya ungkapan hati yang kerdil yang terungkapkan, melankolis dan tidak berpola; “cinta itu buta”, “cinta deritanya tiada akhir”, “cinta ditolak dukun bertindak” dan sebagainya. Semestinya tidaklah seperti itu. Cinta dicipta dari sesuatu yang indah, sebagai sesuatu yang indah, untuk sesuatu yang indah dan menjadikan sesuatu menjadi indah.

Ungkapannya (cinta) tidak akan habis dengan hanya seribu kata atau sejuta bahasa. Ungkapannya (cinta) mewakili seluruh rasa; suka, asa, duka, lara, sedih, dan sejuta rasa lainnya.

Janganlah bersedih hati, sungguh Allah bersama kita”. Ini pola ungkapan cinta yang sangat dahsyat. Ungkapan cinta dari seorang kekasih yang sebenarnya. Ungkapannya (cinta) mendobrak sekat-sekat rasa kalut dan takut yang melekat menjadi puing-puing lembut bagai embun berkabut. Menjadikan dingin, menjadikan tenang, menjadikan damai, “menjadikan ujian berupa anugerah, menjadikan bala berupa karunia, menjadikan benci berupa cinta, kata ibn qayyim aljauzi”. Dengan syukur atas nikmatnya, seorang mukmin menjadi sangat menakjubkan. Dengan sabar atas ujiannya, seorang mukmin menjadi lebih sangat menakjubkan. Maka kala duka terasa semakin luka, ketika itu hanya cinta balut lukanya. Maka kala sedih makin terasa perih, ketika itu hanya cinta basuh perihnya. Ungkapannya (cinta) pun berbalas dengan ungkapannya (cinta) yang lebih dahsyat. Ungkapannya (Cinta) Menggetarkan hati seisi langit dan bumi; “wahai Rasulullah jiwaku hanyalah untuk aku sendiri sedang jiwamu untuk seluruh umatmu maka aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu dan aku bersedia mati hanya untuk melindungimu”. Begitu kiranya pola ungkapannya (cinta) Abu Bakar as-Shidiq saat hendak melindungi Rasulullah dalam perjalanan hijrah dari tangan orang-orang kafir.

Polanya (ungkapan cinta) sederhana. Namun membentuk aura yang menakjubkan. “Cinta tetaplah indah, menjadikan sesuatu menjadi indah”.  Sederhana saja polanya (ungkapan cinta); di setiap jedanya, ada cinta.

Allah a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

mahasiswa universitas al-azhar cairo tingkat 3 fakultas syariah islamiyah

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang