Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Al-Quran Forever

Al-Quran Forever

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Sebuah perbincangan ringan di beranda membuat tulisan ini mengalir apa adanya dengan cinta. Sebuah pertanyaan polos dari anakku yang usianya belum genap 6 tahun. Dia sedang bermain menggali-gali tanah, sambil bertanya kritis, “Umi, di dalam tanah ini isinya apa? Kok aku gali terus isinya tanah lagi. Terus kalo aku gali sampai dalam lagi apa isinya?”

“Iya nak, yang pernah Umi tau tanah itu ada tujuh lapisan. Di antaranya Ada lapisan kedap air, lapisan berpasir, lapisan air di mana kita mengambil sumbernya dengan pompa, lapisan inti bumi yang isinya magma, dll. Jadi kalo mau menembus tanah paling dalam akan semakin panas, karna isinya cairan yang sangat panas”, jawabku.

“Ooo jadi di dalam tanah itu ada api yang panas ya mi. trus kalo kita dikubur di dalam tanah, akan jadi tulang belulang ya mi? Tapi Umi kan pernah bilang kalo kita menghafal Al-Qur’an, badan kita nanti tetap utuh. Umi bener, jujur kan?”, tanyanya penuh selidik. Aku sedikit termenung dengan pertanyaannya yang lugu itu.

“Umi jawab dong, Umi jujur kan kalo kita menghafal Al-Qur’an, nanti kalo dikubur badan kita tidak akan jadi tulang belulang?” kejarnya. Merinding aku dengan ungkapan fitrahnya itu. Adakah mungkin kita pernah memikirkan sejauh ini? Menjaga jasad kita di alam kubur nanti dari azab, siksa bahkan pernahkah tersirat agar tetap utuh seperti para syuhada??

Tertegun aku… hingga sejenak aku mantapkan hati untuk menjawabnya, “iya nak, Umi jujur… Banyak sekali keutamaan seorang yang menghafal Al-Qur’an bahkan sampai di alam kubur dijaga jasadnya, di akhirat dipanggil lebih dulu sesuai dengan jumlah hafalannya di dunia.” Jawabku haru. Masih terus berpikir bahwa anak ini punya sensitivitas akan kehidupannya nanti, dia ingin jasadnya tetap utuh dan tidak mau menjadi tulang belulang. Di usianya yang masih kanak-kanak. Dia memberi petunjuk, dengan pemikiran lugu yang belum pernah terlintas di benakku. Ungkapan yang Memacu diri untuk menjadikan Al-Qur’an akrab dalam keseharian dan kehidupan kita di tengah kesibukan. Bukankah kunci dalam menghafal Al-Qur’an karena kita sering dan rajin membacanya? Sehingga Al-Qur’an itu melekat dalam ingatan bawah sadar kita? Ya Allah… sungguh kami butuh petunjukMu dalam setiap nafas. Tidak akan tersesat seseorang yang berpegang kepada Al-Qur’an dan sunah (hadits). melalui anakku ini, Engkau ingatkan aku, sebuah petunjuk untuk istiqamah, padahal tentu kata-katanya itu bukan ukuran seorang ustadzah, atau guru besar, tapi perkataan murni seorang anak kecil yang bulan depan baru mau masuk SD kelas 1 dan hafalannya juga baru mau selesai 1 juz…

Setiap kali muraja’ah dan tadarus bersama ba’da Maghrib juga ba’da subuh, dia begitu bersemangat. Pernah aku diajak untuk tadarus dari al-fatihah sampai an-naas ketika ba’da Maghrib, tapi akhirnya dia menyadari bahwa waktunya tidak cukup khatam langsung sampai Isya. Yah namanya juga anak-anak belum punya prediksi waktu. Aku ikuti alurnya… karena sebagai orangtua kita dukung semangat positif itu. Hingga pas adzan Isya berkumandang, dia sadar bahwa tidak bisa menyelesaikan tadarus dari al-fatihah sampai an-nas dalam jangka waktu Maghrib sampai Isya. Begitu bersemangatnya hingga dia selalu mengatakan, ”Umi, aku ingin bisa menghafal dari an-nas sampai surat al-Baqarah yang panjang itu”, katanya suatu waktu. Menetes air mataku, tanpa dia tahu. Mendengar lantunan Al-Qur’an dari anak-anakku. Interaksi yang penuh keyakinan. Damai mendengar mereka mengaji setiap ba’da Maghrib ini. Bahkan ketika pernah mengantuk di motor, ketika anak-anak membonceng di belakang dan di depan, aku minta untuk muraja’ah hafalan agar hilang kantuknya, sehingga bisa konsentrasi. Sejuk dan damai sekali mengendarai motor, diiringi suara anak-anakku mengaji. Ya Allah jadikan kami keluargaMu di dunia ini sampai akhirat nanti…

Masih selalu terngiang, ”Umi, aku ingin bisa menghafal dari an-nas sampai al-Baqarah”. Lirih aku menjawab dalam hati, “ya nak, Umi juga ingin semangat itu. Semangat menjadi hafidzhoh. Kuncinya ikhlas. Bukan karena jumlah rentetan piala tahfizh yang pernah kau raih sejak taman kanak-kanak…Umi akan selalu berdoa untukmu. Al-Qur’an forever..!” selamanya di hatimu yang suci, Al-Qur’an selamanya di jiwamu yang fitrah… tetap selamanya… Al-Qur’an forever! Dalam setiap langkahmu. Al-Qur’an forever! Yang menjagamu sampai akhir hayat kehidupan dunia fana ini.

Hadiah milad untuk putriku tersayang.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Allahuakbar…
    ngiri dengan pernyataan sepolos namun isinya amat sangat dalem itu

  • Dewi Rohayati

    SubhanALLAH…hiks. Syukron, telah merecharge kembali semangat untuk melanjutkan tahfidz…

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Cara Rasulullah Mencegah Anak Muda Berzina