Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Membantu Suami Menjadi Ayah Yang Hangat

Membantu Suami Menjadi Ayah Yang Hangat

Ilustrasi (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Ibu dengan peran domestik yang melekat erat pada dirinya secara alami terlibat aktif dalam membesarkan anak.  Tidak demikian dengan ayah, kesibukannya bekerja, aktivitas hobi, sosial dan politik menyebabkannya baru sampai di rumah tengah malam hingga sedikit sekali waktu untuk bercengkerama dengan anak-anaknya. Padahal Rasulullah sendiri banyak mencontohkan interaksi yang hangat kepada anak–anak, cucu dan para remaja di lingkungannya.  Banyak sekali manfaat dari kehangatan seorang ayah pada anak-anaknya antara lain membantu dalam perkembangan kognitif, psikologis, sosial dan kesehatan fisik anak. Keterlibatan ayah dalam berinteraksi dengan buah hatinya biasanya tergantung sejauh mana ia melihat pentingnya melakukan hal itu dan memutuskan untuk terlibat langsung.  Oleh karenanya peran ibu sangat di anjurkan untuk membantu suami menjadi ayah yang hangat, menjadikan ayah peduli dan merasa penting untuk terlibat aktif.

Belum semua ayah terlibat dalam mengurus anak-anaknya.  Tidak hanya di Indonesia, peran ayah dalam keluarga pun menjadi isu penting di China.  Di sana para ayah untuk bekerja saja (belum dengan kegiatan sosial atau menjalankan hobi) meninggalkan rumah pukul 7 pagi   baru sampai di rumah pukul 23.  Qi Dahui, seorang ahli pengasuhan dan pendidikan keluarga dan presiden PKU College Education Research Institute, mengatakan

“Kurangnya sosok pria dalam pendidikan keluarga telah menjadi faktor penting dalam masalah memburuknya alienasi jenis kelamin anak, terutama pada keluarga yang memiliki anak laki-laki.”

Dahui merujuk pada masalah yang banyak dibahas dalam masyarakat tentang kelemahan dan kurangnya tingkat maskulinitas pada anak laki-laki dan pria muda di China karena hanya dibesarkan oleh ibunya dan kurangnya panutan pria dalam keluarganya. (artikel Detik Health Senin, 18/06/2012 15:02 WIB)

Kombinasi didikan ibu dan ayah sangat bermanfaat bagi anak. Kaum pria dalam mendidik memiliki ciri-ciri lebih condong kepada kemandirian, maka dia akan mendidik anaknya untuk mandiri. Sering ayah tidak mau mewakili anaknya untuk memborong pekerjaan, melainkan memberi semangat kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah secara mandiri, maka kadar untuk memanjakan anak agak sedikit. Sedangkan ibu lebih banyak memborong semua pekerjaan, misalnya tak mau anaknya ikut-ikutan mencuci piring, baik alasannya kasihan takut anak terlalu lelah, atau malah tak mau di repotkan karena dapur jadi becek.

Ibu tak senang bila anak belepotan lumpur, tapi ayah tak keberatan.  Sebenarnya ini baik sebab jika manusia ini terlalu bersih, jarang sekali ber-sentuhan dengan kuman dan virus, dalam tubuhnya tidak bisa timbul antibodi, sekali terserang oleh kuman segera akan jatuh sakit.

Bila anak terjatuh, padahal tidak menangis, ibu bergegas datang menghampiri memapahnya berdiri sambil menepuk-nepuk tanah dan mengusap-usap bagian yang terjatuh, mengusap keluar air mata sang anak dengan paksaan. Sedangkan ayah hanya berkata, “Hati-hati, ayo berdiri lagi, anak hebat pasti bisa.”

Dalam masyarakat kita masih banyak ayah yang beranggapan berinteraksi dengan anak secara intens adalah urusan ibu, ia harus terlihat kuat berwibawa. Kadang anak yang ingin bermain dengan ayah atau bertanya yang agak mendetail di anggap mengganggu waktu istirahat atau cerewet, padahal saat itu ayah hanya sedang sibuk dengan laptop atau gadgetnya.  Akibatnya menimbulkan jarak emosional dengan anaknya

Bantu Dia Meneladani Rasul

Untuk membantu suami bersikap hangat pada anak, ibu bisa membekali diri tentang pengetahuan dari hal-hal yang telah di lakukan Rasul terhadap anak.

  1.  Dari Abu Hurairah suatu hari Al Aqra bin Haris melihat Rasulullah saw sedang mencium al Hasan. Al Aqra berkata ia punya 10 anak tapi belum pernah mencium satu pun dari mereka.  Rasul bersabda : siapa yang tidak menyayangi , dia tidak di sayang ( Hr. Tirmidzi)
  2. Suatu kali Rasulullah di datangi penduduk desa yang tidak suka mencium anak-anaknya. Rasul bersabda: Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu. (HR. Bukhari)
  3. Anas bin Malik berkata tak ada orang yang paling sayang pada keluarganya melebih Rasulullah saw. Suatu hari beliau pernah menjulurkan lidahnya hanya untuk menggoda Hasan sebagai wujud kasih sayangnya.
  4. Al Haitsami dalam majma’uz Zawa’id dari Abu laila. Ia berkata: Aku sedang berada dekat Rasulullah, saat itu aku melihat Hasan dan Husein di bopong beliau. Salah satu anak itu pipis di dada dan perut beliau. Airnya mengucur, aku dekati Rasul. Rasul bersabda:” Biarkan kedua anakku jangan kau ganggu mereka, sampai ia selesai melepaskan hajatnya.”  Lalu Rasul membawakan air.
  5. Kadang rasul ketika melihat cucunya sedang bermain di jalan bersama teman-temannya, beliau membentangkan tangan hendak memeluk dan cucunya berlarian ke sana kemari.
  6.  Dari Anas bin Malik RA berkata: Sungguh Rasul bersabda kepadanya “Wahai pemilik dua telinga” selanjutnya Mahmud menjelaskan bahwa Abu Usamah berkata: maksudnya bersenda gurau. ( HR Tirmidzi)
  7. Ketika burung kecil peliharaan adik Anas bin Malik mati. Rasul menghiburnya, menyebutnya dengan panggilan orang tua.

Dari Anas bin Malik RA berkata: Sesungguhnya Rasulullah bergaul akrab dengan kami sehingga beliau bersabda kepada adikku yang masih kecil: “Wahai Pak Umair apa yang di lakukan burung kecil itu?” (HR Tirmidzi)

  1. Kadang Rasul memercikkan air ke muka salah seorang anak-anak dengan maksud bergurau.

Semua yang dilakukan Rasulullah tak sedikit pun mengurangi kewibawaan dan kemuliaannya.

Ayah Hangat, Anak Cerdas

Pernah bertemu dengan orang yang super sensitive, hati-hati mungkin karena pengalaman masa lalu. Keterlibatan ayah berinteraksi dengan anak memberi nilai positif pada berbagai perkembangan jiwa dan kesehatan anak. Beberapa penelitian menyebutkan hal tsb.

  1. Perkembangan kognitif.  Secara jangka panjang, anak yang dibesarkan dengan keterlibatan ayah  dalam pengasuhan akan  memiliki prestasi  akademik serta ekonomi yang baik, kesuksesan dalam karir, pencapaian pendidikan terbaik dan kesejahteraan psikologis (Flouri, 2005)
  2. Kesejahteraan psikologis .Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak, dan meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak (Rohner & Veneziano, 2001).
  3. Membantu perkembangan sosial.  Kehangatan, bimbingan serta pengasuhan yang diberikan oleh ayah memprediksi kematangan moral, yang diasosiasikan dengan perilaku prososial dan perilaku positif yang dilakukan baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki (Mosely & Thompson, 1995).
  4. 4.      Meningkatkan kesehatan fisik. Suami yang memberikan dukungan emosional kepada istri yang hamil, mengakibatkan terjadinya kondisi kehamilan prima dan proses persalinan normal serta anak yang sehat (Teitler, 2001). Horn dan Sylvester (2002) menyatakan anak-anak yang tidak tinggal bersama ayah, sebagian besar mengalami masalah kesehatan.

Ayah Hangat, Ayah Hebat

  1. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan, lebih matang secara sosial (Pleck,1997), merasa lebih puas dengan kehidupan mereka(Eggebean & Knoester,2001),
  2. Mampu memahami diri dan berempati dengan orang lain, serta mengelola emosi dengan baik (Heath, 1994).
  3. Keterlibatan ini akan menciptakan kekerabatan, serta interaksi yang erat dalam keluarga besar (Knoester & Eggebean, 2006).
  4. Kondisi ini juga turut berperan bagi partisipasi positif yang diberikan ayah dalam pekerjaan, sehingga mampu meningkatkan kondisi perekonomian keluarga (Lerman & Sorensen, 2000).
  5. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan, akan memberikan pengaruh terhadap kebahagiaan perkawinan. Kestabilan dalam perkawinan, akan memunculkan perasaan bahagia walaupun perkawinan tersebut telah dijalani hingga dua puluh tahun (Snarey, 1993).

Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?

Beragam hal bisa di lakukan ibu untuk mendekatkan ayah pada anaknya dan membuatnya bersikap hangat.  Berikut ini hanya beberapa ide yang mungkin bisa di terapkan:

  1. Laporkan semua tingkah polah anak pada hari itu, tentu dengan melihat kondisi ayah yang telah siap , misalnya ayah sudah mandi atau saat ibu  sedang melayani makan, tentu ibu yang paling tahu kapan saat yang paling tepat, karena tiap orang bisa berbeda moodnya. Tak peduli ibu mungkin terlihat cerewet, atau ayah kelihatan acuh dengan matanya menatap Koran atau gadgetnya ketika ibu bicara, paling tidak ayah jadi ikut menghayati apa yang terjadi pada anaknya.
  2. Katakan anak-anak rindu padanya, memanggil-manggil dan mencari-cari ayah siang tadi. Katakan betapa anak sangat sayang pada ayahnya.
  3. Meminta ayah mengantar anak ke sekolah, momen ini bisa di gunakan untuk mengobrolkan keadaan anak, muraja’ah hafalan, atau sekadar bercanda yang mengakrabkan.  Tapi ada kalanya anak malu di antar ke sekolah, dan mengaku pada temannya bahwa ia di antar sopir atau ojek hanya karena ayah tidak memperhatikan pakaiannya.
  4. Memberi kesempatan anak untuk menelepon ayahnya di siang hari saat ayah sedang di kantor. Atau sms ayah untuk sekadar “say hi” pertelepon untuk anaknya di siang hari.
  5. Biarkan ayah punya kesempatan beraktivitas dengan anak-anak, misal masak bersama (walaupun dapur jadi lebih kotor dari biasanya).  Membersihkan halaman bersama (dengarkan betapa cerewetnya ayah ketika menyuruh-nyuruh anaknya).
  6. Sekalipun ayah hanya punya waktu sedikit mintalah ia merencanakan waktunya untuk dekat dengan anak lewat canda, bercengkerama dan ciuman yang penuh kasih.
  7. Bila anak masih balita, mintalah anak agar ayah yang menceritakan buku kesukaannya walaupun setelah itu mungkin ayah akan bergegas untuk rapat urusan partai/sosial.  Bila sudah agak besar sarankan ayah untuk mereferensikan buku-buku yang bagus untuk anaknya, mereka bisa  membaca bersama sebentar, kemudian anak meneruskan membaca sendiri
  8. Jangan biarkan ayah terlalu sering memberi nasihat.  Rasulullah kadang menunda nasihat agar pendengarnya tidak jemu.
  9. Jangan terlalu banyak mencela, Imam Ghazali dalam ihya ulumuddin berkata: jangan ayah sering mencela anaknya/ karena keseringan mendengar cela menjadi biasa/menumpulkan hati dari nasihat yang mulia/ wahai ayah… jagalah kharisma nasihat dan kata/ berilah cela kepada anak sewaktu –waktu saja.

(Penyusun, RKI, BKK DPD: Dian Yasmina Fajri, pm 19.06.12)

Referensi:

Yusuf Qaradhawi, (1995), GIP.  Fatwa-fatwa Kontemporer

Adnan Hasan Shalih Baharits, GIP, (1996) Tanggungjawab ayah terhadap anak laki-laki,

Sheikh Abu Al Hamd Rabee’, LK3I, 2011Membumikan harapan keluarga Islam Idaman

Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No. 1, April 2011

Alfaro, E.C., Umana-Taylor, A.J. & Bamaca, M.Y. (2006). The influence of academic support on Latino adolescents’ academic motivation. Family Relations, 55 (3), 279-291

Eggebean, D.J. & Knoester, C. (2001). Does fatherhood matter for men? Journal of Marriage and the Family, 63, 381-393.

Flouri, E. (2005). Fathering and child outcomes. West Sussex, England: John Wiley & Sons Ltd.

Knoester, C. & Eggebeen, D.J. (2006). The effects of the transition to parenthood and subsequent children on men’s well-being and social participation. Journal of Family Issues, 27 (11), 1532-1560.

Lerman, R. & Sorensen, E. (2000). Father involvement with their nonmarital children: Patterns determinants, and effects on their earnings. Marriage and Family Review, 29 (2/3), 137-158.

Mosley, J. & Thompson, E. (1995). Fathering Behavior and Child Outcomes: The role of race and poverty. In W. Marsiglio, (Ed.), Fatherhood: Contemporary theory, research, and social policy (pp. 148-165). Thousand Oaks, CA: Sage, 1995.

Pleck, J.H. (1997). Paternal involvement: Levels, sources, and consequences. In M.E. Lamb (Ed.) The role of the father in child development (3rd ed., pp. 66-103). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Teitler, J.O. (2001). Father involvement, child health, and maternal health behavior. Children and Youth Services Review, 23(4/5), 403-425.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dian Yasmina Fajri

Lihat Juga

Merasa Bersalah Telah Mengkhianati Suami, Mohon Saran atau Masukan