Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bahasa Kesepakatan

Bahasa Kesepakatan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Satu Dhuha, sebagaimana kebiasaan harian di lokasi praktikum, kuisi dengan kunjungan ke masyarakat. Menggali datum sehingga terkumpul data dan mengolahnya dalam bentuk informasi, penyebab apa yang sebenarnya terjadi sampai muncul ketidakberfungsian sosialnya selaku individu dalam kehidupan bermasyarakat dan kondisi seperti apa yang mereka hadapi sekarang, serta wujud pelayanan kesejahteraan sosial apa saja yang sudah mereka dapatkan. Dan kali itu, sosok luar biasa yang penuh inspirasi ku temui, seorang agung yang tercipta untuk tempat pembelajaran bagi orang sekitar. Orang dengan kecacatan ganda (meski terpaksa menggunakan istilah ganda, karena kalau diperkenankan dan ada pedoman dari kementerian sosial tentunya aku akan menggunakan cacat triple). Ya, di hadapanku kala itu seorang yang saat kuucapkan sapaan ‘punten’ tak ada tanggapan. Saatku tersenyum dan mendekat tak ada satu balasan pasti yang kudapatkan. Hanya sebatas sentuhan yang bisa terbalaskan olehnya, seorang tuna rungu, tuna wicara dan tuna netra.

Muncul satu kegelisahan di sini, Yaa Rabb kuatkanlah ia….

Tidak selayaknya mungkin doa itu terucap dari seorang praktikan sepertiku, yang hanya bisa menyambanginya beberapa kali dalam masa ujiannya semenjak 54 tahun yang lalu. Ia habiskan waktu dengan perjuangan, berjuang dari titik marah, beranjak ke penolakan, tawar menawar dengan keadaan dan kodrat sampai di satu masa ia harus mencoba dan memaksa untuk menerima sampai ia ikhlas menjalaninya. Ikhlas menyandang label dari masyarakat sekitar sebagai seorang yang buta, tuli dan bisu. Batin pastilah sesak menerima, raga pastilah perih menanggungnya. Terkucilkan di tengah keramaian, memilih untuk menyendiri tanpa suami selamanya. Dan tentunya ia sudahlah merupakan sesosok pribadi yang sangat kuat. Seperti seorang tokoh yang sempat aku idolakan dalam sejarah Hellen Keller” saat itu berada di hadapanku. Dan Rabb, perkuatlah ketabahannya…

Seiring kegelisahan, satu keusilan yang senantiasa aku pertahankan di setiap waktunya dan terlampau penasarannya pada keadaan yang demikian. Ya, singkatnya muncul satu pertanyaan “Bagaimana ia bertahan untuk hidup?”

Jurusan di kampusku tidaklah ada spesialisasi komunikasi, namun dalam pembelajaran selama 8 semester ada satu semester yang disisipkan satu mata kuliah andalan “komunikasi dan relasi”, dan masih sedikit remang dalam ingatan ada penjelasan dosen ‘manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam pemenuhan kebutuhannya, dan untuk menyampaikan daftar kebutuhannya itu ia butuh komunikasi dengan yang lain, menyampaikan pesan kebutuhan agar lawan bicara tahu kebutuhan yang dimaksudkan. Ada penyampai, media dan penerima’. Itulah… Dan bagaimana sang nenek ini bisa berkomunikasi sebagai salah satu jalan pemenuhan kebutuhannya? Tak sadar dan tanpa sengaja pertanyaan ini kusampaikan kepada keponakannya. “Ya, dengan cara-cara dia teh, kalau mau ngale-et (Sunda: makan) meraba ke tempat piring dan memukul-mukulkan sendok pada piring agar orang yang ada di sekitarnya saat itu bisa tanggap dan bisa membantu mengarahkannya, sama kalau mau melakukan kegiatan-kegiatan yang lain”. Tuturnya dengan nada biasa dan datar menampakkan aura kepasrahan akan kondisi uwak nya.

Benarkah kalau aku menyebutkan perilaku yang demikian sebagai bahasa kesepakatan? Yang menjadi kesepakatan antara pihak penyampai dan pihak penerima. Agar maksud (pesan) diterima dengan maksimal meski dengan segala keterbatasan?

Lima puluh empat tahun dalam pengelolaan bahasa kesepakatan, antara penyandang cacat dengan orang yang awas, sungguh ini sebuah masa yang penuh dengan ujian. Betah atau tidak, tabah atau tidak, akhirnya akan sampai di kata ‘paham’ atau ‘tidak’ dengan bahasa komunikasi yang digunakan, bahasa ringan terwujud dari kesepakatan, sampai disebut sebagai bahasa kesepakatan.

Sejenak ternyata aku masih diberi kesempatan untuk merenung…

Banyak masalah lisan bagi mereka yang memiliki pita suara normal terjadi. Banyak masalah muncul disebabkan karena ketidaksesuaian antara informasi yang didengar dengan informasi yang diucapkan. Terlampau banyak masalah hadir karena kesalahpahaman justru dari kalangan orang-orang yang normal. Apakah mungkin yang normal harus menjadi cacat dulu untuk menyadari akan arti nikmat sehingga bisa dengan lancar memberikan pemahaman sebagai wujud rasa syukur? Tampaknya memang tak etis kalau aku memanjat doa demikian, pastilah segala hadir sebagai lahan pembelajaran. Masuk di dalamnya keberadaan sang nenek, sebagai lahan pembelajaran bagiku, kalian, mereka dan kita dalam melanjutkan amanah kehidupan.

Permasalahan seorang teman dengan karibnya akan bisa terhindar, perdebatan antara seorang pembicara dengan audiens bisa terelakkan, simpang siur pemerintah dengan rakyat akan bisa ditangguhkan, jarak kehangatan seorang anak pada orang tuanya bisa tersatukan, ketidakharmonisan istri dengan suami akan bisa diselaraskan, dan segala masalah lainnya akan bisa dipecahkan manakala kata kesepakatan di jauh waktu sudah ditetapkan. Menyandang perjanjian ringan dalam momen pemahaman, memahami bahwa pasangan butuh pengertian. Semoga senantiasa berada dalam ketenangan, cinta dan kasih sayang bukan hanya dalam keluarga di ranah kecil tapi keluarga dalam ranah luas dan terbentang. Wallahu ‘alam bishshawab…..

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Alumni Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung. Pekerja Sosial (Pemerhati Anak Jalanan)

Lihat Juga

Merancang Kesejahteraan Indonesia di Tahun 2016