Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bukan Jamaah Malaikat

Bukan Jamaah Malaikat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Aku merasa hidupku dibesarkan Allah dalam naungan cinta ala tarbiyah, yah walaupun aku bukanlah seorang yang lahir dari rahim ibu yang tertarbiyah, tapi aku rasa aku besar dan terbentuk menjadi seseorang, dalam lingkup ruang tarbiyah. Teringat ketika tujuh atau delapan tahun lalu ketika aku memperhatikan mereka yang berjilbab sangat lebar untuk tataran ku yang berasal dari keluarga dengan kualitas keislaman yang biasa saja. Aneh, pasti sumuk banget tuh—pikiran di zaman jahiliyah.

Melihat mereka bergerombol, hanya satu hal yang aku pikirkan: EKSKLUSIF! Bahkan ketika aku alami satu moment yang membuatku saat ini sangat berusaha menyapa orang-orang di luar lingkup para jilbaber dengan lebih hangat dan ramah adalah ketika aku yang duduk berdua merasa tak dianggap karena si oknum jilbaber itu hanya menyapa teman ngobrolku yang notabene anak Rohis, sedangkan aku terabaikan.

Tapi suatu ketika, aku (dengan sangat aneh) ingin masuk dalam komunitas mereka (para jilbaber generasi awal di mataku), ada apa ini??? Aku kesambet atau terhembus angin apa sampai mendaftarkan diri dalam lingkup Rohis. Yah hanya ingin memperbaiki diri, kali aja jadi lebih bener. Pendek kata: ISENG, tapi rada seriusnya juga, rasanya saat itu aku butuh menjadi seseorang yang lebih baik.

Mulailah aku bertemu dengan si kakak jilbaber. Aku lupa bagaimana aku bisa membangun cinta untuk orang ini, awalnya seingatku hanya segaris rasa kasihan, terus-terusan menunggu dengan sabar adik-adik yang kadang memilih berbohong untuk kabur dari agenda mentoring. Namun, lama kelamaan sabarnya beliau menunggui aku yang acuh tak acuh datang liqa ceria membuat hatiku luluh, kata-katanya masuk dalam logikaku, dan emosinya satu frekuensi dengan perasaanku, maka jadilah aku rajin datang liqa ceria itu. Di samping aku juga butuh figur orang dewasa yang bisa mendengarkan celotehan remaja tanggung sepertiku saat itu.

Baiklah, mungkin itu sedikit cerita awal aku berkenalan dengan tarbiyah. Kembali lagi pada hal yang beririsan dengan tarbiyah. Ketika aku mulai memasuki tarbiyah lebih jauh, dalam bayangan masa muda yang penuh dengan idealisme dan gambaran kesempurnaan, maka aku mulai mematok bahwa siapa pun yang berada dalam barisan tarbiyah, orang-orang yang liqa, orang-orang yang ikut mentoring, berapa pun usianya maka ia pastilah manusia baik, yang pintar, ramah, murah senyum, tidak sombong, pengertian, lembut, dan perilaku baik lainnya. Intinya, tak mungkinlah ada cacat. Dan pemaknaan eksklusifku tentang para jilbaber mulai runtuh berganti kesempurnaan dan kemuliaan akhlak.

Namun, memasuki dunia kampus, saat bertemu dengan kakak-kakak atau senior kampus yang setahuku tertarbiyah, seakan melunturkan anggapan mengenai kemuliaan akhlak. Meluntur dengan kikisan, agak sakit, tapi masih tertahan. Seringkali aku marah ketika ada seorang ikhwah tak mau bergerak dalam jalan dakwah, padahal jelas itu adalah tanggungjawabnya, atau protes besar pertamaku ketika ada seorang kakak yang mengundurkan diri dan diri ku terancam menjadi penggantinya secara mendadak, kok bisa “dia” seperti itu sikapnya?  Padahal “dia” tertarbiyah? Baiklah, sampai akhirnya ku temukan istilah pendek, namun tak mudah untuk dipahami, dimengerti apalagi diimplikasikan olehku dan karakterku: “bukan jamaah malaikat.”

Memasuki hitungan tahun kedelapan mengenal tarbiyah, membuatku mengulas ulang berbagai macam pengalaman yang mendewasakan dan menguatkan. Mulai dari rasa nyaman yang membuat aman, hingga sakit perih yang membuatku berusaha lebih bijak dalam memandang. Semua aku alami dan aku rasakan karena hidupku beririsan dengan tarbiyah.

Dimulai dengan ketidaksiapanku melihat mereka yang tumbuh bersamaku atau malah lebih dahulu dari aku dalam mengenal tarbiyah mulai berguguran, satu demi satu. Kabar bahwa mereka tak lagi sejalan, bahkan tak lagi satu pikiran membuat ku menarik nafas lebih panjang. Fuh, memang istiqamah adalah sebuah kedahsyatan, layaknya berdiri di gempuran ombak (mulai lebay…) perlu upaya dan kesabaran untuk bisa berteman dengannya. Tapi yang harus aku pahami, berbeda jalan bukanlah membuat mereka kemudian lebih buruk ketimbang aku, karena jalan untuk menjadi baik, telah Allah janjikan terbentang selama perjalanan 70 tahun, maka tarbiyah hanyalah salah satu di antaranya, bukanlah satu-satunya.

Namun (lagi), nyata-nyata menerima kabar dan kenyataan yang ada cukup membuat aku berhenti sejenak untuk berpikir, apakah ada dari manhaj ini yang salah, ataukah ini adalah konsekuensi dari istilah “bukanlah jamaah malaikat”? Sehingga sepak terjang pelaku tarbiyah walaupun sumbernya satu, tapi karena bertemu dengan otak, cara pikir, karakter, daya nalar, atau budaya yang berbeda, maka ia menjadi berbeda? Allah…

Tak pantas rasanya aku menggugat mereka, karena “siapakah aku?” yang belum tentu juga lebih baik. Namun, mungkin ada yang sedikit aku tanyakan: “ke manakah semangat kita dahulu kawan? Semangat kita untuk menjadikan diri dan sekitar kita lebih baik…” entahlah, siapalah aku yang (kembali) entah pantas atau tidak mempertanyakan itu.

Satu hal yang kembali aku pelajari, ini benar-benar bukanlah jamaah malaikat, maka tentulah di dalamnya kita akan terus saja menemui ketidaksempurnaan dan cacat, tapi bukankah kita juga telah belajar dalam materi-materi hidup, bahwasanya hanya Allah lah yang Maha Sempurna, maka mungkin perlulah direvisi ketika sering merisaukan dan memasalahkan ketidaksempurnaan itu, titik tekankan pada: kelebihan yang bisa berlipat lagi kita lebihkan, positif yang bisa kita dua kali lipatkan, bahkan pun si negatif akan kita temukan sebagai positif bila kita tahu caranya, yaitu kuadratkan.

Sekarang, di tahun ke tujuh atau delapan terdekap dalam ukhuwah keluarga tarbiyah, aku masih belajar untuk menjadikan diri lebih baik, dan berusaha menularkan kebaikan.

Menularkan semangat… Bukanlah jamaah malaikat. Kesalahan dalam proses belajar (menjadi baik) adalah hal biasa, yang luar biasa adalah ketika kita terus saja tahan (istiqamah) dalam himpitan kemerdekaan yang telah dilamar.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nuram Mubina
Seorang yang mencintai dunia psikologi dan proses mempelajari perilaku manusia serta menyenangi ketika menemukan keunikan mereka. Akan terus belajar dan belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi sesama.
  • Dewi Rohayati

    Numpang singgah…Tetep semangat nulis ukht!!! Artikelnya mewakili apa yang dirasakan ana. Syukron

Lihat Juga

Polisi Rusia. (alukah)

Sampai di Moskow, Jamaah Haji Rusia Ditangkapi

Organization