Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cita-Cita Surgawi

Cita-Cita Surgawi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Bismillahirrahmaanirrahiim…
Sahabat-sahabatku para pengejar mimpi. Kalian para kesatria yang dalam proses menggapai cita-cita surgawi. Sebagai seorang insan yang terlahir sesuai fitrahnya; sebagai penyandang gelar pemuda-pemudi yang telah dewasa secara Biologis dan Fisikologis. Tak bisa dipungkiri, bahwa terkadang rasa sepi dalam kesendirian itu menyakitkan; sendiri dalam keramaian “trend masa kini” itu menggalaukan. Seakan hidup gersang, tak seindah yang dirasakan oleh mereka yang telah mendahului kita dalam menggapai sunnah Rasul-Nya itu. Dalam ikrar suci yang diridhai.

Tatkala semua kawan telah berlayar dengan bahtera indah itu, ketika mereka telah mereguk manisnya secangkir madu itu, kita semakin iri saja dibuatnya. Ya. Semakin iri, pasti kalian merasakannya.

Syair berirama dengan syahdunya: “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”, “Hidup tanpa cinta bagai jiwa tanpa raga” pasti selalu menemani hari-hari kita, jika cinta itu diartikan hanya kasih sayang sesama lawan jenis saja. mungkinkah sang taman terlihat indah jika tak ada setangkai bunga pun bersamanya; bagaimana kondisi jiwa tanpa raga. Mungkinkah telaga itu indah jika tak ada setetes air pun di dalamnya. Entahlah…!

Namun saat ini, banyak di antara kita yang terjebak dalam rasa itu. Ingin merasakan indahnya bunga-bunga cinta yang tersemat layaknya mereka yang telah halal dalam ikatan suci. Serta terbuai dalam sensasi yang sebenarnya bumbu-bumbu maksiat made in iblis yang terlaknat. Padahal mereka belum siap lahir batin melaju dalam ikrar suci yang diridhai. Yang akhirnya menjadikan mereka  Bermesra dalam label “cinta ilahi” dan “ta’aruf” ala remaja Islam masa kini. Yang tentunya hanya label belaka, karena prakteknya sangat jauh dari tuntunan yang ada (bahkan tidak ada). Bahkan terkadang yang mereka lakukan (maaf) sama sekali tak mencerminkan akhlak individu yang  beragama. Karena “cinta ilahi” (cinta karena Allah) tentu adanya setelah terucapnya ikrar suci bersama (nikah), dan “ta’aruf” dengan perantara orang lain yang dipercaya.

Berat pasti terasa untuk menghindar dari sebuah rasa itu. Rasa yang tak sekadar rasa, karena rasa itu fitrah dari Yang Kuasa, yang merupakan anugerah terindah dari-Nya. Namun tentu Dia punya aturan terindah atas anugerah terindah-Nya itu. Iya. Dia punya instruksi atas rasa itu.

Karana kasih sayang-Nya, Dia instruksikan aturan itu. Jagalah pandangan, peliharalah kemaluan, agar kita tak salah jalan. Sungguh indah aturan itu kala kita mampu merealisasikan. Tak ada “hubungan cinta” tanpa akad suci itu. Jangankan berpegangan tangan atau duduk berduaan. Memandang saja ada aturan. Bahkan terlarang.

Jika kita memang sedang dihadapkan oleh asa untuk mengejar cita-cita surgawi, atau waktu belum tiba menentukan saatnya. Di sinilah kita menguji kesabaran kita dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Yang untuk ukuran masa kini tentu sangat sulit sekali bagi kita untuk bertahan agar tetap istiqamah. Karena dari depan-belakang; kiri-kanan serangan trend masa kini, selalui membidik kita.

Tapi apalah mau dikata, demi cita-cita surgawi mari kita berusaha menepis bayangannya untuk sementara saja, karena takdir sudah tertulis rapi di lauh mahfudz, jika memang takdir itu tertulis untuk kamu dan dia, maka hati itu nantinya akan menemui tempat berlabuhnya yang terindah. Biarkan angin itu berhembus, biarkan air itu terus mengalir, biarkan proses itu berjalan berotasi.

Wahai para pengejar cita-cita surgawi, ketepikan cintamu untuk sementara terhadap  lawan jenis yang belum halal secara syariat kau berdua dengannya. Jangan biarkan cita-citamu hanya menjadi sebuah angan-angan belaka hanya karena seorang gadis atau jejaka yang belum halal oleh ikatan suci itu. Ingat, takdirmu sudah tertulis, jodohmu sudah ditentukan, bidadari atau kesatriamu akan setia menunggu. Tugasmu sekarang adalah membekali diri agar layak bersanding dengannya. Jika shalihah yang kau pinta maka keshalihanmu perlu ditempa; bila shalih yang kau nanti, maka keshalihanmu harus dipupuk dan dijaga, biar tak seperti punguk yang merindukan sang rembulan.

Bekali diri dengan mutiara-mutiara ilmu hikmah, agar bahtera yang kau bina nanti mampu berlabuh dalam lautan cinta mawaddah wa rahmah. Hiasi diri dengan mozaik-mozaik cinta pada sang ilahi, agar mahligai yang kau bina nanti diridhai dan kekal abadi. Hindari cinta nafsu tanpa ikatan suci itu, agar keberkahan cinta dalam bejana bening suci itu kau reguk bersama dalam naungan cinta Rahmaan-Rahiim-Nya yang tak terbatas.

Semoga kita selalu dijaga oleh-Nya, dari cinta nafsu tanpa ikatan suci itu, serta diberi kekuatan cinta untuk bertahan dalam tandus sahara trend masa kini yang jauh dari aturan-aturan syariat-Nya. Allahu musta’an.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa S1 Tahun Akhir Jurusan Studi Islam (Spesialisasi Fiqh-Ushul) Universitas Hassan Tsani, Mohammedia, Casablanca, Maroko.

Lihat Juga

Gambar 1. Persamaan Regresi Linier Sederhana. (Bayu Bondan)

Merangkai Mimpi