Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Resep Rahasia: Ngejuz Setiap Hari

Resep Rahasia: Ngejuz Setiap Hari

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan demi tercapainya target mulia ini: Satu Hari Satu Juz (minimal). Kiat yang akan saya sebutkan tentunya bisa ditambah dan dikurangi sesuai dengan kesibukan masing-masing. Yang terpenting adalah komitmen untuk mencapai target dengan cara yang benar.

1. Komitmen

Komitmen membuat kita sungguh-sungguh. Ketika komitmen sudah sekuat baja, apapun halangannya insya Allah akan bisa diatasi. Komitmen yang baik hendaknya diupayakan keterlaksanaannya. Jangan jadikan keadaan sebagai alasan yang akan melemahkan kita.

2. Catat

Pencatatan diperlukan karena diri yang memang sering lupa. Pencatatan ini bukan tergolong dalam menghitung-hitung amal, karena hal itu wewenang Allah. Pencatatan hanya digunakan bagi diri yang belum terbiasa dan untuk memudahkan evaluasi.

3. Mulai dari yang kecil

Bagi pemula, jangan terlalu memaksa diri. Sesuaikan dengan kemampuan. Yang terpenting ada bacaan al-Qur’an setiap harinya. Bisa sehari satu halaman, satu hari satu lembar, atau satu hari beberapa ayat. Karena amal yang dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan, meski jumlahnya sedikit.

Sabda Nabi, “Orang yang MAHIR membaca Al-Qur’an akan dikumpulkan bersama para utusan yang mulia dan agung. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat, dan ia merasa kesulitan (dalam membacanya) akan memperoleh dua pahala.” (H.R. Bukhari – Muslim dari Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha )

4. Manfaatkan waktu mustajab

Allah telah mengalokasikan waktu yang terbaik untuk membaca al-Qur’an. “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (al-Muzammil [73]: 6) Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah ketika sepertiga terakhir. Di mana waktu itu merupakan waktu mustajab yang tidak ditolak setiap doa yang dipanjatkan. Udara masih segar, fisik masih fresh. Otak dan ruhani juga belum keruh. Sehingga bacaan suci itu akan mudah merasuk ke dalam hati setiap pembacanya. Penasaran? Ayo buktikan!

Waktu yang lain yang bisa dimanfaatkan adalah sesudah shalat subuh, ketika udara masih segar dan stamina masih penuh. Kemudian sebelum Maghrib sembari melepas lelah, sambil menunggu waktu berbuka puasa (sunnah atau wajib). Setelah Maghrib sambil menunggu waktu Isya’ juga merupakan waktu yang dianjurkan. Bisa dilaksanakan di masjid sambil i’tikaf.  Atau sebelum tidur barang beberapa lembar.

Ada baiknya juga memanfaatkan 5-10 menit setiap selesai shalat fardhu. Jika setiap selesai shalat bisa tilawah sebanyak 2 lembar, maka selama sehari tilawah 10 lembar. Di mana 10 lembar sama dengan 1 juz.

Yang terpenting, sesuaikan dengan kelonggaran waktu masing-masing. Sesuaikan dengan jadwal kerja, ngajar, kuliah dan aktivitas lain. Bagi yang bekerja dengan fasilitas komputer, manfaatkanlah al-Qur’an digital. Sehingga di sela-sela istirahat bisa sambil tilawah. Begitu pun dengan alat komunikasi kita. Isi dengan al-Qur’an baik audio maupun visual.

Dengan demikian, meminjam istilah Prof DR Quraish Shihab, Semoga kita bisa membumikan al-Qur’an. Agar diri ini hanya puas dengan ayat-ayat Allah. Bukan selainnya. Semoga.

5. Cari Pendukung

Hal ini lebih pada tujuan untuk saling mengingatkan. Adanya teman menjadikan diri terpacu untuk berlomba dalam kebaikan. Ketika tergelincir, harapannya teman kita itulah yang akan mengingatkan.

Buat program dengan orang-orang terdekat. Pasangan hidup, ayah, ibu, kakak, adik dan juga anggota keluarga lain. Teman-teman satu kos juga bisa diajak. Targetkan sesuai dengan kemampuan. Buat halaqah per pekan, isinya al-Qur’an. Baik tilawah, maupun pembahasan ayat per-ayat dan seterusnya. Jika kurang sumber daya, ikuti majelis taklim terdekat, yang penting shahih, sesuai sunnah.

6. Evaluasi

“Hisablah dirimu sebelum dihisab kelak di akhirat.” Kalimat ini sangat ampuh. Ia bisa membuat diri tidak berlama-lama dalam menuruti malas. Coba amati, bandingkan antara target dan realita. Catat selisihnya, evaluasi apa penyebabnya jika ternyata gagal. Jika berhasil, jangan berbangga diri. Komitmenkan untuk bertahan, syukur-syukur bisa terus membaik. Karena pekerjaan yang tidak pernah selesai adalah memperbaiki diri.

7. Libatkan Allah

Ini kiat pamungkas. Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kebaikan kita. Bayangkan Allah mendengarkan setiap tilawah kita. Bayangkan pula bahwa al- Qur’an yang kita baca adalah langsung dari Allah untuk kita. Jika hal ini berhasil kita lakukan, insya Allah keberkahan al-Qur’an akan semakin kita rasakan dalam setiap jenak kehidupan. Sehingga kita tak pernah bosan dengan al-Qur’an.

Sebagai penutup, mari renungi pesan suci dari sang Nabi dalam sebuah hadits panjang dari Abdullah bin Amr, … Rasul bertanya, “Bagaimana kamu berpuasa?” Jawab Saya, “Setiap hari.”  Lanjut Rasul, “Bagaimana kamu mengkhatamkan al-Qur’an?” Jawabnya, “Setiap malam.” Rasul bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan dan khatamkanlah al-Qur’an sekali setiap bulan.” Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap minggu.” Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Berbukalah selama dua hari dan berpuasalah sehari”.  Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Kerjakan Puasa yang paling utama, yaitu puasa Daud. Yaitu sehari berpuasa sehari tidak. Dan khatamkanlah al-Qur’an sekali dalam tujuh malam.” (H.R. Bukhari [5052])

Senada dengan hadits tersebut, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Makruh hukumnya bagi seorang muslim yang mengkhatamkan al-Qur’an lebih dari 40 hari tanpa adanya udzur syar’i.” 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 9,10 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional Secara Bijak