Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Suka Rela Bermaksiat

Suka Rela Bermaksiat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ilusihatihafsah.blogspot.com)

dakwatuna.com Dalam kehidupan ini, kita tentu mengetahui definisi rumah; Rumah yang merupakan tempat tinggal, tempat bagi jasad untuk bernaung dari teriknya matahari, guyuran air hujan dan gangguan hewan buas. Allah SWT memberikan nikmat yang banyak pada muslim Indonesia, ketika seseorang ingin membangun sebuah rumah misalnya, ia tinggal memanggil seorang tukang bangunan atau pekerja jika sudah memiliki tanah untuk membangun rumah, meski ala kadarnya.

Jika dibandingkan dengan Saudi misalnya, seseorang yang ingin membangun sebuah rumah atau bangunan pribadi, harus melalui alur yang berbelit-belit. Dari tanah yang harganya teramat mahal, dan juga harus bekerja sama dengan kontraktor – karena tidak dibolehkan memanggil personal-personal (Tukang-red) -. Belum lagi jika nantinya si empunya meninggal, rumah yang tadinya dibangun itu dibagi menjadi dua. Separo milik Kerajaan dan separo milik hak warisnya.

Jika rumah adalah tempat bagi zhahir (jasad), maka sungguh hati adalah rumah bagi jiwa dan bahkan bagi jasad. Rasulullah SAW mensifatinya dengan sabdanya:

القَلْبُ ألا وَهِىَ كُلُّهُ الجَسَدُ فَسَدَتْ فَسَدَ وَإذَا كُلُّهُ الجَسَدُ صَلَحَتْ صَلَحَ إذَا

Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan apabila ia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati.

Sungguh beruntung jika hati itu bersih dari noda, sehingga seperti rumah yang nyaman untuk ditinggali. Tetapi alangkah celakanya jika hati itu kotor dan kering seperti bangunan tua, karena maksiat dan syubhat. Rasulullah SAW mengingatkan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبـًا نَكَـتَتْ فىِ قَلْبِهِ نُكْـتَةً سَوْدَاءَ، فَإِذَا تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صَقُلَ قَلْـبُهُ، وَإِنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى تَعْلُوَ قَلْـبَهُ، فَذٰلِكَ الرَّانُ الَّذِيْ ذَكَرَهُ عَزَّ وَجَلَّ: كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلىٰ قُلُوْبِهِمْ مَّاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan dosa, berarti ia telah memberi setitik noda hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, tidak meneruskan dan memohon ampunan, maka hatinya kembali berkilau. Akan tetapi, jika ia berulang-ulang melakukan hal itu, maka akan bertambah pula noda hitam yang menutupi hatinya, dan itulah “ar-Rân”, sebagaimana yang telah difirmankan-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS al-Muthaffifiîn [83]: 14) (HR Abu Daud, Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad)

Rasulullah SAW menggunakan huruf   (ت) tha’ pada kata nuktah bukan nuktoh dengan huruf tho’ (ط) meskipun memiliki arti sama yang artinya “titik”. Tetapi jika menggunakan huruf  (ط) tho’ itu adalah tanda titik dibuat dari sesuatu yang tidak buruk, misal membuat tanda titik dari: spidol, pulpen, pensil dan sejenisnya. Tetapi dengan huruf (ت)   tha’ merupakan tanda titik yang dibuat dari hal yang sangat buruk, misal: membuat titik dari kotoran hewan, atau sejenisnya.

Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita dengan gaya bahasa yang indah, bahwa sungguh maksiat apapun itu akan mengotori hati dan maksiat itu adalah hal yang menjijikkan, lebih menjijikkan dari kotoran apapun. Ketika jasad kita misalnya terkena lumpur yang notabene bukan kotoran, tentu kita segera membersihkannya cepat-cepat, apalagi terkena dengan kotoran?

Maksiat itu cerdas, boleh jadi maksiat yang kita lihat pagi tadi dengan mata ini – misalnya -, kemudian di malam hari saat hendak memejamkan mata untuk beristirahat dari aktivitas yang melelahkan, maksiat yang dilihat mata pagi tadi datang tanpa diminta, dan berdengung-dengung di pikiran. Padahal maksiat tadi sudah tidak ada di hadapan mata, bahkan bisa jadi saat seperti itu maksiat tadi jadi lebih mendetail. Dari yang “hanya” melihat wajah, bisa jadi sekujur tubuh yang digambar dengan imajinasi pikiran. Satu kali, mungkin ada hal yang mengganjal dalam hati, tetapi jika terus menerus dilakukan maka sadar atau tidak, kita akan “Rela bermaksiat” itulah yang dinamakan  rann. Hal yang salah juga adalah mengira bahwa ketika bermaksiat dengan satu anggota tubuh, maka anggota tubuh lain tidak berpengaruh, ini sama sekali tidak benar dan salah besar, justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Semoga Allah SWT dan diri kita ini dapat menjaga hati, sehingga menjadi hati yang nyaman untuk ditinggali dan bernaung darinya. Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Mahad Hasan bin Ali Samarinda & Pengajar di Mahad Tahfidzul Quran Subulana Bontang, Kalimantan Timur.

Lihat Juga

(Foto: Dena Fadillah)

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Guru Rela Berjuang Meski Tanpa Ada Uang