Home / Berita / Internasional / Asia / Pembantaian Umat Islam di Myanmar Harus Dihentikan

Pembantaian Umat Islam di Myanmar Harus Dihentikan

Muslimah pengungsi dari Rohingya Myanmar, Amina Akhtar, memeluk anaknya yang baru lahir di Taknaf, Bangladesh, Jum’at 22/6/2012. Akhtar melahirkan anaknya di pulang St. Martin di Bangladesh setelah melarikan diri – bersama suaminya Mohammad Rafique dan dua anaknya – dari penindasan di Myanmar. (AP Photo)

dakwatuna.com – Jakarta. Presiden Parlemen Perempuan Dunia Nurhayati Ali Assegaf menyatakan pembantaian terhadap umat muslim Rohingya menunjukkan tidak berjalannya demokrasi di Myanmar dan aksi itu harus segera dihentikan.

“Demokrasi itu melindungi minoritas dan menghargai mayoritas. Pembantaian 6.000 umat sangat jauh dari demokrasi yang selama ini kita menghargai atau memberikan asistansi proses demokrasi di Myanmar,” kata Nurhayati kepada pers di Jakarta, Selasa (2/7).

Ia juga mendesak kepada Parlemen Dunia, Inter Parliamentary Union (IPU) untuk segera bersikap dan mengambillangkah tegas terkait pembantaian 6.000 umat muslim Rohingya, Myanmar.

“Saya sebagai Presiden Parlemen Perempuan Dunia berkirim surat kepada Sekjen IPU supaya menyikapi dan mengambil tindakan-tindakan untuk menyelamatkan kaum muslimin di Myanmar. Saya juga meminta Sekjen IPU supaya segera kirim surat kepada pemerintah Myanmar agar melakukan protes keras atas pembunuhan yang terjadi di Mynmar atas kaum muslimin,” kata Nurhayati.

Sebagai organisasi parlemen dunia, sudah seharusnya IPU menaruh perhatian terhadap masalah ini.

“Saya meminta dihentikan dan mengutuk keras pembantaian itu, apalagi pembantaian itu terjadi pada bulan suci Ramadhan dan ini sangat memprihatinkan,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Bidang Luar Negeri itu.

Dalam kondisi konflik seperti ini, lanjut Nurhayati, yang banyak menjadi korban dan dirugikan adalah perempuan. Oleh karena itu, aksi ini wajib menjadi perhatian dunia internasional.

Kaum Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine (Arakan), Myanmar dibantai oleh kelompok yang diduga dilakukan oleh etnis yang didukung pasukan gabungan keamanan Rakhine.

Jumlah kematian muslim di Arakan diperkirakan mencapai 6.000 jiwa. Selain dibunuh, juga terjadi pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, serta penangkapan Muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan (Rakhine). (Ant/Ol-3/MICOM)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,31 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • program yahudi

  • ngalak

    protas protes tapi aksi lain yang bermanfaat belum nampak, ditengah kata2 menyesalkan nyawa-nyawa orang islam di myanmar setiap menit melayang. orang-orang islam pada kemana? ingat suatu saat itu terjadi kepada kita…………orang islam mana yang mau bantu. ingat umat sedunia itu bersaudara karena iman dan islam. bukan dari gologan kami orang islam yang ga peduli kepada saudaranya yang lain sesama muslim.

  • pindahin itu saudara2 yang ada dari miyammar, katane ngaku saudara kok gak ada tindakan … pemerintah qi piye? ane malu gak bisa ngapa-ngapain. bangga sebagai negara muslim terbesar tapi tak peduli dengan saudara di belahan negara lain… njuk nko kalo ditanya diakhirat… apakah kamu sudah bantu saudaramu yang tertindas rep omong apa?

Lihat Juga

Protes Kekerasan di Rohingya, Timnas Malaysia Ancam Mundur dari Piala AFF 2016