Home / Ramadhan / Tiga Golongan yang Merugi

Tiga Golongan yang Merugi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan kepada kita ayat-ayat-Nya di penjuru langit dan ufuk bumi, bahkan dalam diri kita sendiri. Allah ciptakan kepada kita matahari yang mengajarkan kepada kita untuk percaya diri dan tepat janji datang di pagi hari dengan sinar yang berseri. Allah ciptakan kepada kita juga purnama yang mengajarkan kepada kita untuk bersinar lembut dan bijaksana, berani tapi penuh kelembutan, lembut tapi penuh keberanian.

Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan ke hadirat Nabi Besar Muhammad SAW. Rasul yang mengajarkan kepada kita bagaimana menghadapi kehidupan yang begitu berat, ujian yang begitu dahsyat, dan cobaan yang begitu hebat dengan senyuman, dengan ketenangan, dengan keikhlasan yang bermodal dari keyakinan.

Manusia itu yang penting ketulusannya, bukan kemulusannya, tulusnya bukan fulusnya, budi pekertinya bukan body pekertinya. Rasul pernah mengingatkan kepada kita, khawatir Rasul jangan sampai apa yang kita miliki tidak ada gunanya. Untuk itu Rasul berkata, “Ya Allah lindungilah aku dari ilmu yang tidak ada manfaatnya.”

Jadi, semakin pintar bukan semakin benar, semakin pintar semakin kebelinger. Makin mengerti ilmu bukan makin lurus, makin rajin korupsi. Semakin banyak titelnya, bukan makin rendah hati, makin tinggi diri ilmu yang tidak ada gunanya.

Bahkan Rasul pernah mengingatkan tentang sebuah hadits, “Itu adalah tiga golongan yang pertama kali Allah ciptakan untuk Allah siksa di hari kiamat.” Siapakah mereka? Yang manfaatnya tidak ada karena tidak tulus, tidak ikhlas.

Di antaranya yang masuk pertama kali ke neraka adalah orang yang mati di jalan Allah. Ketika dia dimasukkan ke dalam neraka, dia berkata, “Ya Allah bukankah aku dulu berjihad di jalan-Mu? Aku membela agama-Mu, aku berperang dan mati dalam membela agamaMu.” “Engkau dusta. Engkau berperang supaya dianggap berani. Supaya dianggap jadi pahlawan.”

Jadi hati-hati kalau kita beramal supaya kelihatan orang, supaya dianggap hebat, supaya dianggap berani, supaya dianggap pahlawan. Bahkan mujahid Allah dikatakan Anda dusta, ditarik mukanya disungkurkan ke dalam neraka. Itulah akibat orang-orang yang suka cari popularitas, suka mencari tepuk tangan orang lain, dan kemudian bangga di hadapan orang lain.

Golongan kedua adalah orang penghafal Al Quran. Dalam surat lain disebutkan orang yang ahli agama. Dia termasuk pertama kali dimasukkan ke neraka di hari kiamat. “Ya Allah bukankah aku dulu belajar agama supaya aku bisa mengajarkan agama di jalan-Mu?” “Engkau dusta. Engkau belajar agama supaya bisa dianggap pintar. Engkau belajar agama supaya bisa dianggap alim. Engkau belajar agama supaya dihormati orang lain.” Oleh karenanya orang-orang yang belajar agama tapi niatnya bukan karena Allah SWT, tempatnya di neraka. Niatnya bukan untuk Allah, tapi untuk bangga-bangga dan kesombongannya.

Kemudian golongan ketiga adalah orang-orang yang banyak sekali hartanya dimasukkan ke dalam neraka. “Ya Allah, bukankah aku berbagi di jalan-Mu, aku memberi di jalan-Mu?.” “Engkau dusta. Engkau memberi supaya dianggap dermawan. Engkau memberi supaya dianggap orang kaya. Engkau memberi supaya dianggap orang yang paling mukhsin, paling baik kepada orang lain.”

Orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang tidak ikhlas. Makanya Allah mengingatkan “Barangsiapa yang ingin kelihatan orang, Allah perlihatkan aibnya. Barangsiapa yang ingin kedengaran aibnya, Allah perdengarkan aibnya.” Hati-hati, riya’ itu merusak amal.

Ada orang yang niatnya bukan karena Allah, padahal kerjaannya ibadah. Pahalanya hilang. Ada orang thawaf  karena Allah, dia pergi haji. Thawafnya pahala dia bawa ke surga. Ada orang thawaf tujuh kali, tidak dapat pahala karena dia berputar di sekitar Ka’bah karena dia mencari cincinnya yang hilang, istrinya yang hilang, duitnya yang hilang. Mendapat pahala? Tidak. Karena niatnya bukan karena Allah SWT.

Dan bukan hanya karena itu, amal tergantung dari niatnya. Luruskanlah keikhlasan kita. Barangsiapa yang niatnya karena Allah dan Rasul-Nya, dia mendapat Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang niat amal sedekahnya karena dunia, karena TV, karena mobil, karena ingin kaya, itu dia mendapat, dia tidak mendapat Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat amalnya karena perempuan yang hendak dia nikahi, maka dia tidak mendapat apa-apa di sisi Allah kecuali perempuan itu tadi. Kalau iman di sana berarti surga balasannya. Kalau hidup itu perahu mati dermaganya. Kalau Allah yang kita tuju insya Allah kita bahagia.  Wallohu A’lam.

Saya Ismeidas Makhfiansyah berzakat di Dompet Dhuafa.

Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 9,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Siapakah yang Merugi Itu?