15:13 - Senin, 22 September 2014
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.

Kemukjizatan Ayat Lebah

Rubrik: Pengetahuan | Oleh: Dr. Muhammad Widus Sempo, MA. - 24/07/12 | 12:30 | 06 Ramadhan 1433 H

قَالَ اللهُ تَعَالَى: )وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(. (Q.S. An-Nahl [16]: 68-69)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com - Sebelumnya telah ditegaskan bahwa setiap makhluk indeks kitab ketauhidan dan cermin kehidupan yang mengoleksi pesan-pesan kemanusiaan. ([1])Di sini lebah telah memerankan fungsi tersebut dengan sempurna. Jenis serangga ini menyembunyikan segudang rahasia penciptaan yang butuh sentuhan-sentuhan tangan ilmu pengetahuan dan telaah hati nurani yang qur’ani. Yang demikian itu, dikemas rapi oleh sistematika kedua ayat lebah di atas.

Kini, penulis mengajak pemerhati tema-tema Qur’an mengaca ke cermin kehidupan yang dibiaskan oleh komunitas lebah. ([2])

Setiap komunitas lebah terdiri dari tiga kasta: lebah ratu, lebah pekerja (betina), dan lebah jantan yang bertugas membuahi lebah ratu. Setiap kasta menjalankan tugas dan fungsi kehidupan mereka tanpa mengganggu fitrah penciptaan kasta lain, mereka memperlihatkan cara hidup rukun yang diayomi oleh kebersamaan dan keterpaduan demi satu tujuan, yaitu menyuguhkan produk-produk makanan bergizi kepada manusia demi kelangsungan hidup mereka sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Tentunya, ini bukti nyata bahwa setiap entitas kehidupan tercipta dengan teratur, apik, dan indah memesona.

Di sisi lain, desain kehidupan komunitas lebah yang rumit ini tanda bahwa tidak ada satu pun dari makhluk Allah, kecuali di dalam kendali pengetahuan, pengaturan, dan kebijakan-Nya. Apa yang terlihat oleh kasat mata dari makhluk-makhluk Allah yang sederhana pada hakikatnya mengemas segudang rahasia penciptaan yang butuh kajian dan sentuhan nurani. Penciptaan mereka tidak kalah sempurnanya dengan penciptaan manusia. Semuanya tercipta sempurna untuk memperlihatkan qudrah Allah yang mutlak.

Ustadz Said Nursi berkata:

“Kreasi-kreasi rabbani nampak secara mutlak dan menyeluruh di jagat raya ini, dan tidak ada yang membatasi kreasi-kreasi tersebut kecuali hikmah rabbani, kehendak Allah, dan sejauh mana kesiapan makhluk itu sendiri. Kebetulan semata, kekuatan alam yang buta, hukum kausalitas yang kaku, dan unsur-unsur kehidupan yang tercerai-berai, mustahil punya kemampuan mengulurkan tangan mereka atau mencampuri kreasi-kreasi rabbani ini yang terlihat sangat detail, penuh keseimbangan, dan hikmah. Olehnya itu, hukum kausalitas tidak lain kecuali hijab lahiriah saja yang dibentangkan oleh qudrah pelaku yang Maha Agung lagi Mulia dan ditundukkan oleh-Nya sesuai dengan perintah, iradat, dan kekuatan-Nya. Contoh terdekat dalam hal ini dapat ditemukan di ayat lebah berikut ini:

) وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ( (Q.S. An-Nahl [16]: 68)

Ya, sesungguhnya lebah mukjizat qudrah rabbani dilihat dari fitrah penciptaan dan tugas, sungguh mukjizat agung hingga namanya disandang oleh salah satu surah Al-Qur’an. Yang demikian itu karena merekam program tugas yang sempurna di kepalanya yang begitu kecil untuk menjalankan mini mesin madu yang ada di tubuhnya, meletakkan sari pati makanan dan memasaknya di mini mesin tersebut, memilih tempat yang tepat untuk menyembunyikan racunnya yang dapat menghancurkan anggota tubuh yang digigit tanpa memberikan pengaruh apa-apa terhadap anggota lain yang ada di tubuh, yang demikian itu tidak mungkin terjadi, kecuali dengan tingkat ketelitian dan ilmu yang tinggi, penuh hikmah dan iradat, serta keseimbangan dan keteraturan. Olehnya itu, mustahil adanya campur tangan dalam kreasi-kreasi sempurna seperti ini dari apa yang tidak punya perasaan, sistem, neraca, seperti kekuatan alam yang buta atau kebetulan belaka”. ([3])

Di samping itu, Lebah jenis serangga yang tercipta untuk memberi. Bukan hanya produk-produknya yang kaya gizi, tetapi ia pun telah menyelamatkan sepertiga dari sumber makanan manusia dari pembusukan dengan melakukan pembuahan, tanpa lebah manusia kehilangan sumber makanan tersebut. Di sini, ia seperti mengajak manusia untuk senantiasa berusaha memberi dan melakukan yang terbaik. Karena dengan seperti ini nilai-nilai kemanusiaan akan hidup. Yang mulai dari mereka adalah mereka yang senantiasa ingin memberi sesuatu yang terbaik demi kelangsungan hidup umat menjalankan fungsi-fungsi kehambaan.

Hakikat ini dapat dilihat di kelanjutan ayat lebah di atas:

)يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ (.

Artinya: dari perut lebah itu ke luar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

Yang menjadi pertanyaan di sini: “Mengapa sistematika potongan ayat ini datang dengan: (يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَاب) dan bukan dengan: (يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا عَسَلٌ) yang artinya: “dari perut lebah itu keluar madu?” Makna apakah yang tersirat di potongan ayat tersebut yang lebih memilih bentuk pengungkapan seperti ini?”

Dr. Hassan Samys Basya menjawab:

“Kemukjizatan ayat lebah bukan hanya karena madu punya khasiat penyembuhan terhadap penyakit manusia, tetapi kemukjizatannya lahir dari tiga sisi:

Pertama: yang demikian itu karena yang keluar dari perut lebah bukan hanya madu, tetapi di sana ada juga makanan lebah ratu (royal jelly), ([4]) propolis, ([5]) beeswax, ([6]) dan racun lebah. ([7]) Di sini manusia diberi peluang seluas-luasnya untuk menemukan keistimewaan setiap materi tersebut dan mengetahui komposisinya.

Kedua: dengan tidak adanya penekanan objek terhadap apa yang keluar dari perut lebah, maka label medis Al-Qur’an terhadapnya (sebagai obat yang dapat memberikan kesembuhan) meliputi segala sesuatu yang keluar dari perutnya, jadi bukan hanya madu yang dapat menyembuhkan, tetapi propolis, royal jelly, dan sengatan lebah juga dapat menjadi media penyembuhan.

Ketiga: penyakit yang dapat disembuhkan oleh produk-produk lebah tidak disebutkan. Ini terlihat di potongan ayat ini: (شِفَاءٌ لِلنَّاسِ). Tentunya, ini ajakan halus kepada ilmuwan-ilmuwan Islam untuk mengetahui lebih lanjut penyakit apa saja yang dapat diobati oleh setiap produk lebah tersebut.([8])

Hakikat penciptaan lebah tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi ia menjadi simbol kehidupan yang melukiskan kesyukuran, qanaah, ridha, dan sifat ingin senantiasa memberi.

Hakikat ini dijelaskan dengan begitu baik Ustadz Said Nursi berikut ini:

“Sesungguhnya balans kesyukuran itu adalah qanaah, hidup ekonomis, ridha, dan suka mengulurkan tangan membantu. Adapun balans hilangnya kesyukuran adalah tamak, boros, tidak punya perhitungan dan penghormatan, serta melahap setiap yang bergerak di jagad raya ini tanpa membedakan yang halal dari yang haram.

Ya, tamak bukan hanya berpaling dari kesyukuran, tetapi ia juga penuntun kepada kepapaan, kehinaan, dan kesengsaraan. Ini dicontohkan oleh komunitas semut –serangga penuh berkah yang memiliki kehidupan sosial sendiri- yang senantiasa diinjak oleh kaki, hanya karena ketamakan dan kurangnya sifat qanaah yang ia miliki. Yang demikian itu karena di saat ia hanya butuh beberapa butiran gandum dalam satu tahun, Anda melihatnya berusaha mengumpulkan ribuan butiran jika ia mampu melakukan itu. Sementara itu lebah yang murah hati, sifat qanaahnya menjadikan dia terbang tinggi di atas kepala mencari sari pati bunga yang kemudian disuguhkan kepada manusia dalam bentuk madu dengan perintah Allah yang Maha Agung.

Ya, sesungguhnya Ar-Rahman (الرحمن) dengan pengawasan-Nya meliputi segala bentuk rezeki. Olehnya itu, kita mampu mencapai cahaya-cahaya nama mulia ini dengan mensyukuri rezeki-rezeki tersebut, mengingat makna yang paling menonjol di Ar-Rahman adalah ar-Razzaq (الرزاق).” ([9])

Jika Anda bertanya: “yang dipahami dari potongan ayat ini: (فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ) adalah sifat penyembuhan dari apa yang keluar dari perut lebah terhadap semua penderita penyakit tanpa ada pengecualian, tetapi kenyataannya tidak semua yang menjadikan produk-produk lebah sebagai media pengobatan menemukan hasil yang memuaskan, bukankah ini menyalahi makna ayat tersebut?”

Syekh Mutawalli Sya’râwi menjawab pertanyaan Anda dengan mengatakan:

Firman-Nya :(يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا) , yang demikian itu karena lebah mengisap sari pati bunga dari sana-sini, kemudian diolah di perutnya dengan mekanisme rabbani hingga menjadi madu murni. ([10]) Makna ini diungkapkan dengan potongan ayat tersebut karena boleh jadi ada di antara mereka yang menduga bahwa sari pati itu dikunyah oleh lebah kemudian dimuntahkan menjadi madu. Olehnya itu, Al-Qur’an tidak mengatakan: (مِنْ أَفْوَاهِها) yang artinya: (dari mulutnya), tetapi ia datang dengan: (مِنْ بُطُوْنِهَا) yang artinya: (dari perutnya). Laboratorium rabbani inilah yang memberi kita madu yang dapat menyembuhkan pelbagai penyakit.

Olehnya itu, kami melihat mayoritas dokter -semoga Allah membalas budi baik mereka- sangat peduli terhadap madu lebah dengan melakukan uji coba untuk mengetahui khasiat medisnya, namun yang menjadi rintangan terhadap mereka adalah sulitnya mendapatkan asal murni seperti yang diciptakan Allah tanpa campur tangan manusia.

Meskipun demikian, bersamaan dengan campur tangan manusia di makanan lebah, tetap saja madu punya faedah medis yang dapat menyembuhkan.

Jika madu asli tercukupi dalam jumlah besar tanpa campur tangan manusia, maka pasti nampak di dalamnya hikmah Allah yang disertai dengan penyembuhan, akan tetapi, jika manusia mulai campur tangan dalam mekanisme rabbani ini, mereka pun pasti merusaknya. Yang diketahui bersama bahwa komunitas makhluk tertentu jika tidak dicampuri oleh tangan-tangan jahil manusia, ia pun berjalan dengan tegak dan tidak ketinggalan, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang, kecuali lingkungan kehidupan manusia yang senantiasa menyalahi garis kehidupan Allah.

Sesuatu yang ditakdirkan untuk dicampuri oleh Anda, apakah Anda mencampurinya dengan menerapkan metode Allah atau membiarkannya berjalan di atas roda fitrah penciptaannya sendiri. Sesungguhnya jika Anda mencampurinya dengan metode Penciptanya, ia pun akan memberikan Anda keselamatan dan kebaikan, lain halnya jika Anda mencampurinya dengan metode Anda sendiri, tentunya Anda merusaknya.

Allah SWT berfirman:

)إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ(.

Mereka itulah yang tidak dapat membedakan yang rusak dari yang baik.” ([11])

Di sini penulis menambahkan bahwa potongan ayat ini: (فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ) bukan jaminan mutlak kepada mereka yang berobat dengan menggunakan produk-produk lebah bahwa dia akan sembuh. Yang demikian itu karena kesembuhan datang setelah sebab lahiriah dan maknawi terwujud yang disertai dengan kehendak Allah. Sekian banyak yang berobat dengan obat yang sama, tetapi yang sembuh boleh jadi satu atau dua orang saja. Kadang kesembuhan seseorang lebih ditentukan oleh sejauh mana ia mengimani kemampuan obat tersebut sebagai media penyembuhan, kadang pula lebih melihat kepada sebab-sebab fisik dan maknawi pasien itu sendiri.

Jika Anda berkata: (فِي الاجْتِهَادِ نَجَاحُ لِلطَّلَبَةِ) yang artinya: “dalam kesungguhan itu ada keberhasilan bagi para mahasiswa,” atau Anda mengatakan: (فِي الرِّيَاضَةِ صِحَّةٌ لِلبَدَنِ)  yang artinya: “di olahraga itu ada kesehatan bagi tubuh,” Jika Anda berkata demikian, apakah semua yang bersungguh-sungguh itu berhasil dan apakah semua yang berolahraga itu sehat? Tentunya, tidak. Yang demikian itu karena keberhasilan dan kesehatan tubuh bukan hanya ditentukan oleh satu sebab saja, bukan hanya sebab fisik, tetapi di sana ada juga sebab-sebab maknawi. Jika demikian halnya, demikian pula cara Anda memahami potongan ayat tersebut.

Di akhir tulisan singkat ini, saya mengajak pemerhati kemukjizatan sistematika ayat lebah ini menyuarakan kesimpulan berikut:

Ayat lebah di Surah An-Nahl bukti nyata bahwa Al-Qur’an kitab pedoman hidup yang kaya pengetahuan dan hikmah. Yang merasakan kesejukannya adalah mereka yang senantiasa berusaha memahami pesan-pesan ketuhanan dan kehidupan yang dikoleksinya. Di samping itu, kemukjizatan sistematika Ayat lebah ini telah terbukti oleh dunia medis modern. Di sana Al-Qur’an tidak menyebutkan satu produk lebah tertentu, tetapi ia lebih menekankan sifat penyembuhan terhadap apa saja yang keluar dari perut lebah itu sendiri. Olehnya itu, mengacalah kepada kehidupan lebah, ia simbol kesyukuran, qanaah, ridha, dan sifat yang senantiasa ingin memberi yang terbaik, ia pun indeks kitab ketauhidan dan kaca mata kehidupan yang menyinarkan sejuta pesona hikmah-hikmah rabbani. Telaah makna ini dan biarkan kesejukannya meresap di setiap indera maknawi Anda sehingga Anda pun bangkit untuk menandingi lebah dalam memerankan fungsi suci ini.”


([1])   Lihat tulisan kami “jendela-jendela ketauhidan” yang dimuat di: www.dakwatuna.com/2012/06/21353/jendela-jendela-ketauhidan/

([2])   Jenis serangga ini terdiri dari 12.000 spesies, 6.000 di antaranya hidup dalam sebuah komunitas sosial yang berbeda-beda, dan selebihnya hidup menyendiri, jauh dari komunitas tertentu. Kelompok lebah ini lebih dikenal dengan lebah soliter. Semua lebah masuk dalam suku atau familia Apidae (ordo Hymenoptera: serangga bersayap selaput).

Lebah membuat sarangnya di atas bukit, pohon kayu, dan atap rumah. Sarangnya dibangun dari perekat getah pohon dan propolis (perekat yang diproduksi oleh kelenjar-kelelenjar lebah betina yang masih muda). Lebah memakan nektar bunga dan serbuk sari.

Dalam satu kelompok lebah (koloni) terdapat tiga kasta, yaitu:

1. lebah ratu, induk semua lebah. Tugas utama ratu lebah adalah bertelur. Perkawinannya pun hanya sekali seumur hidup dan itu berlangsung di saat cuaca bersih dan cerah, yaitu dengan terbang tinggi di angkasa dan pejantan yang bisa mengejarnya akan dapat mengawininya. Pejantan yang berbahagia itu tidak lama akan mati karena testinya lepas dan tertanam pada ovarium lebah ratu. Umumnya, lebah ratu yang aktif mampu bertelur kira-kira 2.000 butir telur sehari. Makanan ratu adalah sari madu (royal jelly). Lebah ratu ini dapat bertahan hidup hingga tiga tahun.

2. lebah betina atau lebah pekerja. Jumlah lebah pekerja bisa mencapai 30.000, mereka menempati 80% dari jumlah lebah yang ada dalam satu koloni. Tugas mereka adalah mengumpulkan serbuk sari dan nektar. Untuk memproduksi 1 kilogram madu para lebah betina (lebah pekerja) dituntut bertengger di atas 6-8 juta bunga. Tentunya, ini menghendaki mereka melakukan 600.000-800.000 gerakan, terbang (take off dan landing) dan bertengger di atas bunga memetik sari pati. Selain jenis lebah ini, ada juga lebah betina yang bertugas membersihkan sarang dan merawat telur dan anak-anak lebah. Umumnya lebah pekerja ini dapat bertahan hidup hingga tiga bulan saja.

Lebah pekerja terbentuk dari telur yang terbuahi dari sperma yang tersimpan dalam ovarium yang jumlahnya mencapai jutaan sperma, jenis kelaminnya sama dengan ratu lebah, bedanya lebah pekerja ini dari mulai telur menetes menjadi larva dan seterusnya, makanannya madu biasa, sedangkan ratu lebah mulai dari telur menetas menjadi larva sampai akhir hayat, makanannya sari madu (royal jelly).

Apabila kesuburan reproduksi telur sudah berkurang atau usia ratu sudah tua, maka secara naluri lebah pekerja mengadakan regenerasi pembentukan koloni baru dan mencari telur-telur yang terbaik, jika sudah menetas menjadi larva, ia diberi makan dengan sari madu (royal jelly) atau susu ratu. Mereka menyebutnya dengan susu ratu karena warnanya putih seperti warna susu. Calon ratu biasanya lebih dari satu, sarangnya paling besar dan paling menonjol, lebih panjang dari sarang lebah pekerja, terletak di bagian paling bawah sarang.

3. lebah jantan yang bertugas membuahi lebah ratu. Jumlah mereka hanya ratusan ekor. (lihat: an-Nidzâm al-Ijtimâi li Mujtama’ an-Nahl, Muktamar internasional tentang kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, halm. 4-5, dan Lihat juga: http://id.wikipedia.org/wiki/Lebah)

([3])   Lihat: as-Syuâât, hlm. 187

([4])   Royal jelly adalah cairan yang berasal dari perasan dua kelenjar makanan di kepala lebah, kedua kelenjar ini disebut dengan kelenjar royal jelly. Makanan lebah ratu sarat dengan senyawa kimia yang terdiri dari: 66% air, 12,5% Karbohidrat, 12% garam mineral, 3% zat lain yang belum diketahui jenisnya hingga saat sekarang. Royal Jelly ini kaya dengan vitamin dan hormon yang dapat mengaktifkan kelenjar prostat.

Di antara khasiat medis makanan ratu lebah (royal jelly): menyembuhkan tulang persendian, kanker darah dengan menurunkan tingkat kolesterol darah, menekan pengaruh bakteri, menjaga ginjal dari penyakit gula dan penyakit batu ginjal, mencegah penyumbatan sel-sel tubuh dan pembuluh nadi, mengobati penyakit jiwa, saraf, dan lemah syahwat, Menyembuhkan luka alat-alat pencernaan, mengaktifkan kinerja usus, mencegah kegemukan dan capek, mempercepat pertumbuhan anak, mengobati pelbagai penyakit wanita setelah melahirkan, mengencangkan kulit, menghilangkan keriput, meremajakan kulit, dan menjaga jantung dan otak dari stroke dan angina pektoris. (lihat: Abdullah Dabis al-Qarâfi, Mu’jizât as-Syifâ’ fi Muntajât an-Nahl min Tajârubihim, hlm. 35)

([5])   Propolis adalah bahan seperti lilin yang dikumpulkan lebah pekerja dari pohon kapas atau sumber tumbuh-tumbuhan lainnya. Ia berguna mengecilkan lubang satuan rumah-rumah, menyusun bingkai dan atap rumah mereka, dan mencegah pembusukan hewan-hewan yang menyelinap masuk di satuan rumah-rumah mereka setelah terbunuh dengan sengatan. Propolis memiliki kemampuan meregenerasi dan menyembuhkan jaringan yang cedera.

Di antara khasiat medis propolis: obat bius lokal atau obat penenang, anti biotik yang dapat mengobati pelbagai penyakit yang disebabkan oleh bakteri-bakteri, mengobati penyakit cacar, gangguan persendian, rematik, kanker yang tidak terlalu parah, meremajakan sel-sel yang telah mati dan membusuk oleh bakteri (gangrene), menguatkan kekebalan tubuh, mengobati keracunan makanan, mengobati penyakit kolon dan penyakit-penyakit lain. (lihat: Hassan Syams Basya, wa fil Akbar Asrâr wa I’jâz, Muktamar Internasional ke delapan tentang Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Qur’an dan Sunnah, hlm. 214)

([6])   Beeswax adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar beeswax yang terletak di bagian perut lebah, cairan ini langsung membeku jika telah bersentuhan dengan udara. Yang memproduksi cairan ini adalah para lebah pekerja, mereka memfungsikannya dalam membuat satuan-satuan rumah mereka yang berbentuk persegi enam. Setiap satuan rumah dibangun lebih dari 100 lebah pekerja.

Di antara khasiat medis beeswax: menjaga sistem tubuh, mengobati sakit dada, pembengkakan kulit, dan radang amandel, obat efektif terhadap luka bernanah dan pelbagai penyakit kulit, menghilangkan bau mulut dan penyakit-penyakit lain.

Sekarang, beeswax telah menjadi bahan utama produk-produk kecantikan, salep, krem, alat pemutih, dan parfum. (lihat: Abdullah Dabis al-Qarâfi, Op. Cit, hlm. 48)

([7])   Di antara penyakit yang dapat disembuhkan racun lebah: rematik, gangguan saraf, Sciatica, tekanan darah tinggi, dan migrain. Di samping itu, ia dapat menurunkan derajat panas, melebihi kemampuan obat penurun panas, seperti Aspirin atau asam asetilsalisilat (asetosal).

Komposisi senyawa kimia sengantan lebah:

1. asam format, asam hydroklorida, dan histamine.

2. protein dengan kadar tinggi.

3. minyak volatil (volatile oil) dengan kadar tinggi, minyak ini yang menyebabkan rasa sakit dari sengatan lebah.

4. kalsium, tembaga, triptophan, dan belerang.

5. enzim phosphalipase A dan Hyaluronidase, kedua enzim ini menguatkan kekebalan tubuh.

6. fosfat magnesium 0.4%. (lihat: Ibid, hlm. 29)

([8]) Hassan Syams Basya, at-Tib an-Nabawi baena al-Ilmi wa al-I’jaz, hlm. 103

([9]) Al-Maktubat, hlm. 462

([10]) Syekh Sya’râwi hanya menyebutkan madu sebagai produk lebah di saat menafsirkan ayat ini, sementara produk lebah bukan hanya ini, tetapi di sana ada produk lain yang telah disebutkan di atas. Hematnya, boleh jadi Syekh Sya’râwi melihat bahwa penggunaan madu jauh lebih dikenal dan meluas dari penggunaan produk-produk lain yang dihasilkan lebah sehingga ia pun hanya menyebutkan madu saja. Wallahu A’lam.

([11]) Lihat: Tafsir Syekh as-Sya’râwi, vol. 13, hlm. 8055-8056.

Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.

Tentang Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.

*B.A.Qur'an Exegesis (Tafsir), University of Al-Azhar, Cairo, Egypt. *M.A. Qur'an Exegesis (Tafsir), University of Al-Azhar, Cairo, Egypt. *PhD. Qur'an Exegesis (Tafsir), University of Al-Azhar, Cairo, Egypt [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (8 orang menilai, rata-rata: 8,75 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
57 queries in 2,828 seconds.