Home / Ramadhan / Renungan / Antara Wahn dan Zuhud

Antara Wahn dan Zuhud

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)

dakwatuna.com – Suatu hari Rasulallah SAW pernah berkumpul di hadapan para sahabat. Beliau menyampaikan satu kalimat yang membuat para sahabat cukup tercengang. Beliau bertanya tentang apa yang disebut sebagai al wahn. Sahabat pun bertanya-tanya apa gerangan yang dimaksud al wahn. Rasulallah saw menjawab, “Al wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati.”

Al wahn, pokok persoalan sebenarnya bukan pada cinta dunia, tetapi lebih kepada ketika hati sudah cinta dunia melebihi apapun. Di saat yang sama, Al wahn menyebabkan seorang mukmin takut pada kematian. Oleh karena itu, Al wahn menjelma menjadi sebuah penyakit yang bisa mematikan potensi keimanan. Tidak hanya itu, bahkan sampai pada potensi amal seorang insan. Lalu bagaimana agar hati tidak tertimpa penyakit al wahn. Jawabannya setiap kita harus memiliki satu sikap sebaliknya, yakni zuhud.

Zuhud sebagaimana Rasulallah saw sabdakan dalam bentuk perintah kepada kita, “Cukupkanlah dirimu terhadap apa yang ada di dunia, niscaya Allah swt akan mencintaimu. Dan cukupkanlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau akan dicintai oleh manusia.” Al wahn dalam istilah sekarang ini, kita bisa menyebutnya penyakit materialisme. Jika jiwa seorang insan sudah tertimpa penyakit materialisme, apalagi jika secara materi ditopang dengan kekayaan dan kekuatan militer, maka dampak yang paling berbahaya adalah kekuatan harta dan kekuatan militer ini bisa dijadikan sebagai sarana untuk membumihanguskan orang-orang yang zuhud. Orang yang tertimpa penyakit materialisme atau al wahn cenderung merasa cemas dan khawatir. Mereka khawatir jika keberadaan orang-orang zuhud di tengah kehidupan mereka akan mengancam eksistensi mereka.

Sebuah sejarah panjang yang telah menimpa kehidupan anak manusia, ada qabil dan habil bis menjadi contoh. Qabil adalah orang yang membunuh Habil disebabkan penyakit Al wahn yang menimpa jiwa Qabil. Qabil sangat cemburu dengan pasangan yang akan menjadi pasangan Habil dalam pernikahan sehingga ia tega membunuh saudaranya.

Dibangkitkannya para nabi dan rasul di tengah-tengah kehidupan umat manusia sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kezuhudan dan memerangi Al wahn. Kita lihat bagaimana nabiyallah Ibrahim as yang zuhud adalah orang yang tegas memperjuangkan tegaknya tauhidullah. Namun, raja Nambrud begitu khawatir jika kezuhudan yang dibawa oleh nabi Ibrahim as justru menghancurkan eksistensi kerajaannya. Dampaknya ialah Ibrahim as dimusuhi sedemikian rupa, bahkan nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup. Namun, atas pertolongan Allah swt, api yang membakarnya dijadikan dingin dan sebagai penyelamat bagi Ibrahim. Zuhud tidak identik dengan kemiskinan. Zuhud adalah identik dengan kekuatan di mana mereka menjadikan dunia sebagai ladang amalan sementara orang yang wahn menjadikan dunia sebagai tujuan amalan.

Saya Sukeri Abdillah berzakat di Dompet Dhuafa.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sukeri Abdillah

Lihat Juga

Ilustrasi, Hari Pahlawan (inet)

Meretas Cinta Jalan Kepahlawanan