Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hari Keluarga Para Dai

Hari Keluarga Para Dai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (zawaj)

dakwatuna.com Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6)

“Saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin (sekian) dibayar tunai”, kalimat yang ditutup dengan pernyataan keabsahan para saksi dan lantunan bait doa “Barokallohulakuma wa baroka a’laikuma wa jama’a bainakuma fii khoiri” menjadi awal fase kehidupan yang baru.

Sepasang manusia memulai fase baru itu bersama. Bagi dua orang yang memiliki keistiqamahan/komitmen dakwah, pernikahan menjadi awal bergabungnya dua kekuatan yang saling mendukung dan siap ‘meledakkan bola api’ perubahan dan perbaikan. Hari-hari bergerak dengan visi dan misi kenabian yang terpatri dalam perjalanan hidup. Bukan sebaliknya, menurunkan semangat bahkan meniadakan gerak langkah dakwah.

Lalu bagaimana menyelaraskan langkah dakwah bagi keduanya? Pastinya setiap pasangan memiliki caranya tersendiri dan saling menyesuaikan sejak akad dilisankan. Begitu pula ketika buah hati mulai mewarnai kehidupan. Semua diputuskan oleh ‘pilot’ handal yang dibantu oleh ‘co-pilot’ yang bijak memberikan pertimbangan. Keduanya saling belajar dan terus memperbaiki. Kitab sirah dan yang lainnya, kajian, dan pengalaman langsung menjadi bekal yang sangat berharga demi mengoptimalkan potensi-potensi dalam keluarga. Semua dalam rangka penghambaan pada Allah.

Keluarga dan dakwah menjadi ‘headline’ yang tak habis-habisnya dipikirkan bersama. Keluarga dan dakwah menjadi ‘bumbu’ penyedap ‘sayur kehidupan’ yang tak akan bosan dimasukkan dalam relung kehidupan. Keluarga dan dakwah bagaikan pinang dibelah dua karena kedua-duanya sangat penting. Keluarga dan dakwah bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dari hati dan langkah para da’i. Keluarga dan dakwah begitu penting.

Bagaimana kita dapat menjaga keharmonian antara gerak dakwah dan keluarga? Jika tuntutan dakwah begitu banyak, sedangkan keluarga juga begitu penting. Kali ini, mari kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan bagaimana kita memupuk keeratan ikatan keluarga dan tetap aktif berdakwah. Salah satunya mungkin dengan menyediakan satu hari atau beberapa hari spesial bersama anggota keluarga yang kita cintai. Atau mungkin kita sepatutnya menjadikan tiap hari kita berarti bagi keluarga. Walau hanya dalam waktu singkat, yang terpenting kualitas hubungan dengan anggota keluarga terjaga.

Kita dapat mencoba mencontoh kisah-kisah para tokoh ketika mengisi waktu dengan keluarga. Diawali dari tauladan kita, ayah terhebat, suami yang penuh kasih sayang dan adil, pemimpin terbaik di jagat raya ini. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah Muhammad saw. Kita dapat bercermin dari kehidupan sehari-hari Rasulullah.

Ketika ditanyakan kepada ‘Aisyah RA, “Apa yang Rasulullah SAW lakukan dalam keluarganya?”, ‘Aisyah RA menjawab, “Rasulullah SAW memenuhi kebutuhan keluarganya. Apabila waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat.” (HR. Bukhari)

Dari Anas RA, ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih menyayangi keluarganya dari Rasulullah saw.” (HR. Muslim). ‘Aisyah RA berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Turmudzi dan Abu Dawud).

Begitulah Rasulullah, kekasih Allah, manusia terbaik yang tawazun (seimbang) antara kehidupannya dalam keluarga dan dalam syiar Islam. Tak pernah malu membantu istri dalam mengurus rumah tangga. Bahkan Rasulullah pernah mengajak A’isyah lomba lari untuk memupuk rasa cinta terhadap istrinya. ‘Aisyah RA bercerita, “Suatu hari Rasulullah menantangku lomba lari. Dan aku memenangkannya selama beberapa kali. Kemudian, ketika aku mulai gemuk, Rasulullah kembali mengajakku lomba lari. Dan sekali ini beliau berhasil mengalahkanku seraya berkata, ‘Kita telah imbang, ‘Aisyah’.”

Contoh selanjutnya dari kalangan sahabat Rasulullah. Istri Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, beliau dikabarkan kelak menjadi penduduk surga karena perilaku baiknya kepada suami. Para sahabat pun bertanya amalan apakah gerangan hingga Allah memberikan kabar gembira tersebut. Beliau RA pun menjawab, “Bila suamiku mencari kayu bakar, saat mencari rizki untuk kami, tentu ia merasakan kepenatan, teriknya matahari dan dahaga nyaris membakar rongga tenggorokkannya…di rumah, aku menyiapkan air dingin untuknya sehingga ketika ia pulang, air tersebut bisa langsung mengobati dahaganya. Aku juga telah merapikan perabotanku dan menyiapkan makanan untuknya. Setiap hari, aku menunggunya dengan mengenakan pakaian yang paling indah. Ketika ia sudah berada di depan pintu rumah, Aku menyambutnya bak seorang pengantin perempuan yang menyambut pasangan yang sangat dirindukannya. Aku siap menyerahkan jiwaku kepadanya. Jika ia hendak istirahat, aku pun akan membantunya. Jika ia menginginkanku, aku pun berada di tulang hastanya, seperti anak kecil yang sedang dihibur ayahnya…..”     

Lain lagi dengan Syeikh Hasan Al Banna rahimahullah, tokoh pergerakan dakwah di Mesir. Dalam buku “Cinta di Rumah Hasan Al Banna” tergambar jelas bagaimana seorang da’i yang masih menyempatkan makan pagi bersama keluarga walau agenda tiap harinya begitu padat. Tak segan membawa bekal makan ke sekolah putra putrinya, mengajak bermain dan berjalan-jalan, bahkan berbelanja kebutuhan keluarga. Tak segan-segan juga, beliau menyimak hafalan buah hatinya. Semua dilakukannya dalam rangka menjaga keseimbangan antara dakwah dan keluarga.

Lantas bagaimana para da’i saat ini? Urusan mencari nafkah, tuntutan dakwah, dan keluarga tentu sangat menantang kreativitas diri mengatur itu semua. Ketika para ayah giat mencari nafkah atau para ibu sibuk dengan urusan rumah namun kurang atau sama sekali tidak bergerak dalam kancah dakwah, sungguh sangat disayangkan. Nahnu du’at qobla kulli syai’i…kita adalah da’i sebelum menjadi apapun.

Demikian pula saat berkutat dengan agenda dakwah, namun lupa dengan amanah dari Allah yaitu keluarga. Padahal Allah meminta manusia menjaga diri dan keluarganya dari siksa neraka. Kita berdakwah kepada orang lain, namun keluarga diabaikan hingga rumah berantakan, sungguh sangat disayangkan.

Keluarga dan dakwah, semua dapat diselaraskan. Semua ini dapat dikomunikasikan dengan semua anggota keluarga. Mari para da’i teruslah bergerak dalam syiar Islam dan sediakan waktu kita untuk keluarga. Keluarga penuh keberkahan, keluarga para da’i. Wa Allohu a’lam.

Nb: Selamat hari keluarga (29 Juni)

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ist)

Bapak, Polisi Dalam Keluarga

Organization