17:42 - Rabu, 20 Agustus 2014

Sidang Itsbat: “Ternyata Pemerintah Salah”

Rubrik: Opini | Kontributor: M Saiyid Mahadhir, MAg. - 20/07/12 | 14:30 | 02 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi (photobucket.com)

Ilustrasi (photobucket.com)

dakwatuna.com – Negara kita memang belum bisa disebut dengan Negara Islam. Tapi setidaknya ini jauh lebih baik ketimbang kita tidak punya Negara. Iya kan? Belum lagi ditambah dengan kebijakan pemerintah yang jelas-jelas sudah banyak memberikan manfaatnya buat Islam. Pesantren tumbuh di mana-mana, kebebasan untuk menjalankan ritual ibadah agama Islam juga dilindungi oleh Negara, partai-partai Islam diberi ruang yang besar untuk tumbuh dan berjuang, ormas-ormas Islam juga sangat dihargai, jilbab sudah menjamur di mana-mana, dan sederet kebaikan lainnya yang sudah Negara ini berikan kepada Islam.

Alhamdulillah, semua itu sudah lama hadir bersama kita. Untuk itu adakah yang salah jika muslim di Indonesia ini hormat dan taat kepada pemimpin-pemimpin kita yang ada di Negara ini? Terutama ketika mereka semua sudah berusaha berjalan di atas kebenaran. Lain halnya jika mereka “dengan sengaja” ingin merusak umat ini.

Sidang Itsbat

Hampir setiap tahun kita mendengar kata sidang itsbat, mungkin semua kita sudah paham dengan maksud dari kata itu. Sidang untuk menetapkan. Iya, itu dia maksudnya. Secara umum ia berguna untuk menetapkan kapan kita puasa, dan kapan kita lebaran.

Mereka sidang, rapat, musyawarah. Setelah sebelumnya disebar petugas-petugas yang profesional bekerja untuk melihat hilal (bulan), sebagai standar waktu peribadatan dalam agama Islam.

Dan mereka yang bertugas bukanlah orang yang awam seperti kita ini. Mereka orang-orang pilihan, punya banyak ilmu tentang perbintangan (falaq), ditambah dengan ulama’-ulama’ yang paham ilmu syariah.

Melihat Bulan dan Tidak Melihat Bulan

Jika kita mau jujur, sebenarnya semua ulama sepakat bahwa penentuan Ramadhan dengan melihat bulan, bukan dengan keberadaan bulan. Jika standarnya keberadaan bulan, toh selama ini dan kapan pun bulan sudah pasti ada. Cuma masalahnya terlihat atau tertutup oleh awan.

Jika terlihat bulan baru, maka kita puasa, maka kita juga lebaran. Namun jika bulan tidak terlihat (walaupun keberadaannya ada), maka baru kita berpindah ke metode lain. Menggenapkan hitungan bulan atau dengan menggunakan ilmu hisab.

Inilah pemaknaan hadits nabi berikut:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُم فَاقْدُرُوا لَهُ

“Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka kadarkanlah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَال بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ  فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الشَّهْرَ اسْتِقْبَالاً

Berpuasalah kamu dengan melihat hilal dan berbukalah kamu dengan melihatnya juga. Tetapi bila ada awan yang menghalangi, maka genapkanlah hitungan dan janganlah menyambut bulan baru. (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)

Dan kesemuanya itu sudah dilakukan secara benar oleh pemerintah kita. Usaha ini dinamakan dengan proses ijtihad. Jika hasil keputusan yang diambil sudah sesuai dengan aturan-aturannya, maka apapun hasilnya, itulah yang terbaik.

Pemegang Keputusan

Tidak diragukan bahwa otoritas keputusan itu dipegang oleh pemimpin yang berkuasa, dulunya saja penetapan awal Ramadhan ini juga dipegang oleh Rasul SAW, tidak ada satu pun sahabat yang berani untuk meneriakkan tentang awal Ramadhan.

Jika di antara sahabat ada yang melihat bulan, maka berita ini mereka sampaikan kepada Rasul SAW, dan biasanya Rasul SAW akan memperjelas kabar ini, jika memang yakin kebenarannya, maka akan keluar surat perintah dari Rasul agar masyarakat diberi tahu bahwa besok sudah mulai puasa.

Keputusan yang kita serahkan kepada “pemegang keputusan” ini dimaksudkan agar masyarakat yang banyak ini tidak disibukkan dan dibingungkan dengan perkara ini.

Untuk itulah Rasul SAW bersabda dalam kaitan ini dengan:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

Hari puasa adalah hari di mana semua kalian berpuasa. Hari berbuka adalah hari di mana semua kalian berbuka (maksudnya berlebaran). Dan hari Adha adalah hari di mana semua kalian beridul-Adha. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa perilaku melawan arus orang banyak itu bukan sesuatu yang terpuji, terkhusus untuk masalah puasa dan lebaran.  Jadi tidak boleh puasa sendirian di saat masyarakat lainnya belum berpuasa, pun begitu sebaliknya jangan berlebaran sendirian di saat yang lain belum lebaran.

Namun ada hal menarik di negeri kita ini, justru perbedaan itu yang dicari dan dikejar, sehingga ‘mungkin’ ada rasa kebahagiaan dan bangga di dalam hatinya jika berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Ya, walaupun sah-sah saja berbeda, namun dalam beberapa hal ada baiknya kita bersama.

Ternyata Pemerintah Salah

Anggap saja setelah semua keputusan selesai diambil, dan ternyata pemerintah salah, maka pemerintah tetap benar. Karena ijtihad yang dilakukan oleh pemimpin, ketika itu sudah melalui prosesnya yang benar, tidak kata dosa di sana. Justru yang adalah pahala.

“Jika seorang pemimpin itu berijtihad, lalu hasil ijtihadnya benar, maka dia mendapatkan dua kebaikan. Namun jika ternyata hasil ijtihadnya salah, maka dia mendapat satu kebaikan” begitu Rasul SAW pernah memberikan penekanan terhadap hal penerimaan hasil ijtihad pemimpin, jika sudah dilakukan dengan prosesnya yang benar.

Ada ungkapan menarik yang dulu pernah dilontarkan oleh Ulama besar kita, beliau adalah salah satu Imam Mazhab, Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau pernah berpesan untuk kita semua dengan ungkapan: “Seseorang itu hendaknya berpuasa bersama penguasa dan jamaah mayoritas umat Islam, baik ketika cuaca cerah maupun mendung”. Pesan yang sangat bagus sekali, yang bisa menjadi pemersatu umat ini.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tentang M Saiyid Mahadhir, MAg.

Rumah Fiqih Indonesia, bersama Ustad Ahmad Sarwat, Lc. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (391 orang menilai, rata-rata: 9,13 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 265.882 Hits
  • Email 2 email
  • Cinta Rosul

    tolong judulnya dibenahi pak, ini tidak sesuai dengan isi dalam artikel,

    karena saya baca tidak ada peryataan yang menyatakan pemerintah salah.

  • El En We

    tinggal puasa saja ko ya msh eyel2 an,ada orang yang pro yang mengurusi kpan datangnya puasa dan lebaran,tinggal kita mengisi bulan puasa maunya seperti apa, untung,rugi,ato,impas…….gituaja kok repot…………peace……

  • Guest

    setelah saya baca” dakwatuna ini lama” saya menarik kesimpulan bahwa dakwatuna artikelnya mendahulukan OPINInya sendiri yang dianggap benar olehnya sendiri tanpa mempertimbangkan itu kebenaran yang sebenarnya dari apa yang disampaikan.. saya memilih TIDAK MENGHAPUS DAKTUNA DARI akun saya, saya anggap dia SPAM.

  • Fold

    setelah saya baca” dakwatuna ini lama” saya menarik kesimpulan bahwa dakwatuna artikelnya mendahulukan OPINInya sendiri yang dianggap benar olehnya sendiri tanpa mempertimbangkan kebenaran yang sebenarnya dari apa yang disampaikan.. saya memilih MENGHAPUS DAKWATUNA DARI akun FB saya. saya laporkan sebagai SPAM

  • apepetex

    yang duluan, ketinggalan atau barengan juga ga masalah mau ikut MUI atau ngga .. karna saat ini negara kita negara demokrasi… kalo dulu pas zaman rasul ga mandang salah atau benar,, yang di perintah rasul itu yang harus dilaksanakan… karna sistem yang diberjalankan sistem kepemimpinan islam bukan demokrasi… karna pada sdasarnya ibadah itu keta’atan terhadap perintah Allah–> Rasul–> ulil amri (zaman sekarang)

  • Miftakhul Huda

    ini mah xg bikin menarik judulx
    bkan isix, isix udah umum
    sidang isbat:”ternyata pemerintah salah”
    dan ini pun penulis gk jelaskan pemerintah salah cuma ada kata “anggap saja” di bab pemerintash salah paragraf pertama
    jadi gk ada xg perlu di permasalahkan

  • Budi

    Umat Iskam di Indonesia sebaiknya tidak usah berdebat tentang Ibadahnya,
    karena masing masing mau benar sendiri.. saran saya coba baca buku
    Pedoman puasa terbitan
    NV”Bulan Bintang” Jakarta tahun 1960 karangan
    M.HASBI ASH SHIDDIEQY..Insya Allah anda mendapat jalan yang terang dan
    mendapat berita yang benar.
    Terima kasih.
    Semoga anda semua mendapat Rahmat dari Allah swt.

  • Soldier of Allah

    Penentuan awal ramadhan dan 1 syawal yang benar yaitu seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhu

  • likebi

    jangan memberi pendapat dg hawanafsu kita… landasan kita umat islam cuma al quran dan hadist… jd jangan membenarkan atau menyalahkan tanpa kita punya ilmunya,hanya berdasar nafsu kita saja…semoga qt bukan golongan orNg2 yg merugi…amiiiin

Iklan negatif? Laporkan!
65 queries in 1,684 seconds.