Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Resonansi Kebaikan

Resonansi Kebaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kumahasayahsajah.blogspot.com)

dakwatuna.comDalam fisika dikenal istilah resonansi, yakni bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lain dengan frekuensi yang sama atau kelipatan bulat dari frekuensi itu. Sehingga untuk menggetarkan suatu benda kita tidak harus menyentuhnya secara langsung, melainkan hanya dengan menggetarkan benda lain. Maka kita bisa menggetarkan beberapa benda sekaligus dalam satu tempo apabila benda-benda tersebut memiliki kesamaan atau kelipanan bulat frekuensi. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari adanya resonansi ini. Contohnya dalam pembuatan alat-alat musik, gitar, seruling, kendang, beduk dan sebagainya. Adanya lubang atau ruang dalam alat-alat musik tersebut memungkinkan adanya resonansi bunyi pada kolom udara.

Di kehidupan sehari-hari resonansi dapat kita praktikkan dalam pergaulan. Jika kita berkawan dengan orang-orang yang berkepribadian positif. Maka kemungkinan besar kita akan ikut tergetarkan untuk berkepribadian positif. Demikian juga bila kita bergaul dengan teman-teman yang rajin beribadah. Maka kita cenderung akan ikut juga rajin beribadah, karena perilaku dari teman-teman akan sangat berpengaruh kepada diri kita. Maka Rasulullah sangat menganjurkan agar kita berhati-hati dalam berkawan.

Rasulullah mengingatkan, ”Dan perumpamaan teman yang baik, ibarat seorang penjual minyak wangi. Kalaupun ia tidak memberikan minyak wanginya, setidaknya kita mendapatkan aromanya yang semerbak. Sementara perumpamaan teman yang jahat, tak ubahnya pandai besi. Kalaupun kita tidak terkena asap hitamnya, setidaknya kita akan mencium bau busuk dari tungkunya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Al-Adab.

Maksud dari hadits tersebut agar kita berhati-hati dalam berteman. Pilihlah teman yang akan meresonansikan kebaikan agar kita ikut pula berbuat kebaikan. Sebaliknya jangan sampai kita berteman dengan orang-orang yang mendorong kita untuk berbuat kejahatan. Karena lambat laun kita bisa terpengaruh oleh mereka. Bila memang mampu, jadilah diri kita menjadi sumber dari resonansi kebaikan itu, agar orang lain pun terinspirasi untuk berbuat kebaikan, dengan demikian kita bisa memetik pahala kebaikan itu.

“Siapa saja yang meretas jalan kebaikan di dalam Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Siapa saja yang meretas jalan keburukan di dalam Islam, baginya dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak keburukannya itu tanpa mengurangi sedikit pun dosa mereka.” (HR Muslim).

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

E Hamdani
Seorang lelaki dusun, eks pedagang kerupuk singkong keliling yang bercita-cita menjadi jurnalis. Pernah magang menjadi wartawan Harian Solopos, tetapi ternyata menjadi wartawan bukanlah jiwanya. Maka hobi menulisnya disalurkan dengan menulis artikel lepas di beberapa media dan menulis buku.

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa