Home / Berita / Opini / Jangan Khatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Jangan Khatamkan Al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Ramadhan disebut juga bulan-nya Al-Qur’an; karena memang pada bulan inilah Allah swt menurunkan ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw yang juga sebagai tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi Rasul untuk semesta alam ini.

Selain itu juga, karena memang pada bulan ini semua orang muslim menjadi sangat begitu dekat dengan al-Qur’an. Sehingga kita tidak bisa mendapati seorang muslim di bulan Ramadhan ini kecuali ia sedang menggenggam mushaf Al-Qur’an, baik itu dikantongi ataupun di-‘tengteng’. Itu saking giatnya mereka, sehingga mereka tidak ingin melewatkan kesempatan sedikit pun di waktu-waktu bulan Ramadhan ini kecuali ia manfaatkan dengan membaca mushaf Al-Qur’an.

Dan tidak jarang, bahkan hampir semua umat Islam mengusung target khatam Qur’an pada bulan suci ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada sekelompok pemuda atau remaja yang mengadakan perlombaan siapa yang paling banyak khatam-nya, dan menjadi sebuah prestise tinggi jika bisa mengatakan “Alhamdulillah saya sudah khatam 2 kali Ramadhan ini”. Begitulah kira-kiranya.

Tapi semangat ini, semangat mengkhatam-kan al-Qur’an di bulan Ramadhan hendaknya tidak digeneralisir untuk semua orang. Bagi mereka yang memang sudah mahir dan mengerti hokum-hukum Tajwid (kaidah membaca al-Qur’an) dan bisa membacanya dengan benar, ya sah-sah saja buat mereka untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Karena tidak akan menjadi masalah.

Tapi bagi mereka yang belum mahir membaca al-Qur’an atau bahkan tidak mengerti hokum-hukum tajwid (sebenarnya membaca al-Quran dengan tajwid itu –sesuai Ijma’ Ulama- hukumnya fardhu ‘Ain), maka program mengkhatamkan al-Quran ini sungguh tidak layak dikerjakan oleh mereka.

Al-Qur’an itu ada 30 Juz, berarti kalau kita ingin mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini, kita diharuskan untuk menghabiskan satu hari ini dengan membaca 1 juz AL-Qur’an (dengan asumsi bahwa 1 bulan Ramadhan itu 30 hari). Dan satu juz Al-Qur’an itu terdiri dari sepuluh lembar mushaf Madani (cetakan Arab Saudi) yang sama juga 20 halaman Mushaf. Berarti mau tidak mau, kita harus membaca 20 halaman mushaf setiap harinya.

Menurut pengalaman yang saya temui dari beberapa kawan yang memang sudah mahir membaca al-Qur’an dan tentu saja mereka sangat mengerti hukum tajwid, membaca 1 juz atau 20 halaman mushaf al-Qur’an itu membutuhkan waktu 60-90 menit (1 sampai 1,5 jam). Itu bagi mereka yang lancar membacanya.

Tentu bagi kawan-kawan yang belum lancer dan mungkin tidak mengerti hokum-hukum tajwid, tentunya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Tapi yang terjadi di lapangan, karena memang keinginan besarnya dan sudah menjadi target Ramadhan dari jauh-jauh hari, ia paksakan untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan suci ini, akhirnya ia membaca sesukanya, tanpa peduli dengan kaidah-kaidah hokum tajwid. Ia tergesa-gesa dan terus membaca al-Quran walaupun salah, yang penting bisa memenuhi target baca satu hari satu juz bahkan lebih.

Padahal Allah telah memerintahkan dalam ayat-Nya:

“Dan Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil)” (Al-Muzzammil 4)

Belum lagi mereka yang punya kesibukan, pekerjaan yang memang memakan waktu dan tenaga. Apa mungkin mereka kuat duduk 1 jam lebih dengan bacaan yang sudah tidak bisa dimengerti lagi? Yang terjadi akhirnya mereka bukan membaca Qur’an, tapi justru malah menghinakan Qur’an itu sendiri karena telah dibaca seenaknya, sesukanya, padahal ada kaidah yang HARUS diikuti. Alih-alih ingin menghargai dan menghormati al-Qur’an dengan mengkhatamkannya, tapi mereka malah menghinakannya.

“Loh bukankah baca Qur’an itu tetap mendapat pahala walaupun tidak mengerti artinya?”. Ya benar sekali. Siapapun yang membaca al-Qur’an pasti mendapat pahala walaupun ia tidak mengerti artinya atau tidak paham kaidahnya, malah mendapat 2 pahala, begitu hadits Nabi menjelaskan.

Tapi itu bagi mereka yang ma uterus belajar mempelajari kaidah-kaidahnya, bukan untuk kejar target khatam Qur’an tanpa mau belajar di sebelum bulan atau sesudah bulan Ramadhan seperti kebanyakan yang orang kerjakan belakangan ini. Mereka sepertinya menyepelekan al-Qur’an dengan ke-ogah-an mereka untuk belajar.

Lalu Bagaimana?

Semangat beribadah di bulan Ramadhan ini harusnya juga di implementasikan dengan melakukan ibadah sesuai kaidah yang telah ditetapkan oleh syariah itu sendiri. Dan di bulan Ramadhan ini, baiknya kita konversi semangat mengkhatamkan Qur’an itu menjadi semangat “BELAJAR TAJWID”. Jadi bulan Ramadhan ini sebutan barunya ialah “Bulan Tajwid”.

Tidak ada lagi cara kita untuk bisa lancer membaca al-Qur’an dan mengerti hokum serta kaidah-kaidahnya kecuali dengan kita mempelajari Tajwid itu sendiri. Karena ulama sejagad raya ini telah bersepakat bahwa mambaca AL-Quran dengan tajwid itu hukumnya Fardhu ‘Ain. Artinya kewajiban itu sama seperti kewajiban shalat 5 waktu yang harus dikerjakan oleh personal masing-masing muslim. Tidak ada tawar-tawaran lagi.

Waktu-waktu yang awalnya telah kita jadwalkan untuk berkhatam (tapi dengan bacaan salah), kita rubah dengan belajar tajwid, entah itu dengan mendatangi kawan yang mengerti guna meminta beliau mengajarkan kita tajwid. Atau mendatangi seorang ustadz/kiyai, atau juga kita mengikuti halaqah-halaqah tajwid yang biasa banyak digelar di masjid-masjid sekitar rumah kita masing-masing.

Satu bulan ini kita “khatamkan” ilmu tajwid itu, sehingga nantinya ketika keluar bulan Ramadhan ini kita sudah mampu membaca Qur’an dengan benar tanpa salah Insya Allah. Akhirnya bulan Ramadhan yang akan dating kita sudah siap dengan segudang target, baik itu meng-khatamkan al-Qur’an ataupun yang lainnya.

Akhirnya juga kita bisa tinggalkan kebiasaan buruk kita yang telah lama kita kerjakan, yaitu “masuk Ramadhan baca Qur’an nya begitu, keluar Ramadhan juga tetep ngga berubah, tetep salah. Tiap taon kaya begitu, trus buat apa ada kesempatan belajar di Ramadhan?”

 

Meng-Khatam-Kan Qur’an Itu Gampang Dan Tidak Perlu Nunggu Ramadhan

Urusan mengkhatamkan Qur’an itu buat saya urusan yang paling gampang di antara ibadah-ibadah yang lain. Jadi jangan takut nggak bisa mengkhatamkan Qur’an, karena mengkhatamkan Qur’an itu gampang, sebentar dan bisa kapan saja, nggak perlu nunggu Ramadhan untuk bisa khatam.

Percayakah Anda bahwa dalam satu hari saja, saya atau kita semua itu bisa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 70 kali bahkan seratus kali. Lah wong nggak butuh waktu lama kok, Cuma sekitar 3 sampai 5 menit kita bisa mengkhatamkan al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barang siapa yang membaca ‘qul huwallahu ahad’ (surat al-ikhlas) sekali berarti ia telah membaca sepertiga al-Qur’an” (HR Tirmidzi)

Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-Qur’an. Mudah bukan? Jadi tidak perlu nunggu-nunggu Ramadhan untuk kita bisa khatam Qur’an.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan “berapa kali sudah khatam?” tapi “sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?”.

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (251 votes, average: 8,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.
  • Dewi Rohayati

    Setuju Banget!!! Izin copas ya buat bahan kultum, artikelnya bermanfaat banget. Syukron

  • paling g suka judul yang g relevan,…emang si niatnya mgkin bagus, tp judul semacm bombastis begini, bnyak pembaca yg sudah langsung bs menerka apa isinya,…walau isinya bagus, tp bs2 langsung ditinggalkan,…judul seperti ini sudah bukan era nya lagi…*maaf cm sekedar unek2

  • Wah isin Narasinya baik dan benar Tuh tapi judulnya yg sbaiknya di rubah. karena kalo membaca judulnya saja seolah-olah tidak memperbolehkan Khatam Qur’an di bulan Ramadhan. supaya tidak salah tafsir dgn yg tidak paham, smoga info-info seperti ini dapat membantu.

  • betol..betol..betol…hasil pemikiran saudara sangat brilian..semoga makin banyak pemuda islam yg berfikir kritis sehingga tdk ikut ikutan dlm beribadah..

    • Asrul Armiska :maksut anda pada tulisan anda ?sehingga tdk ikut ikutan dlm beribadah?………….agama mengajarkan berlomba lombalah kamu dalam beribadah dan mencari pahala……itu sudah jelah…….coba d pikir ulang tulisan anda

  • Itulah keberkahan Al Quran, terbata-batanya pun mendapat pahala,..apalagi yang membacanya dengan tajwid,.
    Realita yang ada mas zarkasih, semangat berinteraksi masyarakat awam terhadap Al Quran saja masih rendah, apalagi terbersit ingin belajar tajwid,.
    Maka, jika ada yang bersemangat untuk mengkhatamkan Al Quran di Bulan Penuh Berkah dan Pengampunan ini dengan bacaan yang belum benar sekalipun itu sudah sangat baik bagi orang awam, tinggal tunggu waktu bagi orang yang tertaut hatinya pada Quran untuk memperbaiki bacaannya,..
    Pendek kata, yang harus dibenahi sekarang adalah semangat untuk berinteraksi dengan Al Quran di masyarakat kita,..
    masalah tajwid mungkin lebih tepat ditujukan pada kader-kader dakwah yang berdakwah di masyarakat,.. :-)

  • Hallo Moan

    : Judulnya Blo’on!

  • Utami Putri

    utk yg tidak setuju dengan judul, lihat sisi positifnya: judul yg
    menarik dan unik justru membuat pembaca tertarik utk klik link judul dan
    benar2 membaca isinya utk mncari pembenaran judul ini bkn? ini namanya
    strategi penulisan, juga strategi dakwah ^^

  • Bunyi hadits itu sebetulnya perumpamaan saja, begitu banyak bunyi hadits yang diumpamakan seolah/seperti dsb, tetap saja mengkhatamkan secara penuh merupakan keutamaan tersendiri, wallaahu a’lam.. :)

  • Sebenarnya tergantung niatnya seperti apa. Kan memang Bulan Ramadhan, bulan yang dijadikan ladang luas buat mencari pahala sebanyak-banyaknya. Siapa sih yang nggak mau dapat pahala sebanyak-banyaknya? Toh terkadang “target” itu bisa menjadi penyemangat buat seseorang lho. Yang namanya ibadah emang harus diniatkan karena Allah, tapi saya pikir untuk mentargetkan membaca Al-Quran, sekalipun masih terbata-bata membacanya, bukan suatu masalah dan tidak diperbolehkan. Terlebih lagi ketika seseorang yang masih terbata-bata membaca Al-Quran dan mempunyai target, saya rasa (apalagi di Bulan Ramadhan ini) tidak ada sekalipun berpikiran untuk menghinakan Al-Quran kan? (kata “menghinakan” AlQuran, saya rasa kurang pas digunakan dalam tulisan ini). Lebih baik memikirkan, “apakah setelah Ramadhan nanti kualitas dan kuantitas membaca Al-Quran saya masih memiliki semangat yang sama seperti ini?” dibandingkan hal-hal tersebut. :)

  • Di satu sisi, ide yang sangat bagus sekali, untuk menganjurkan belajar tajwid dan memahami Al-qur’an. tapi di sisi lain, saya khawatir, jadi meremehkan, mematikan semangat untuk mengkhatamkan qur’an. sebuah tulisan, bisa jadi membawa kebaikan, jika ada orang yang terinspirasi berbuat baik karena membacanya, dan kebaikannya akan diberikan pula pada penulisnya. demikian juga jika yang terjadi sebaliknya. maka berhati-hatilah. http://www.facebook.com/note.php?note_id=412833629650&id=203164362857

  • LiLium San

    saya tertarik membaca artikel ini sampai habis malah gara” judulnya yang rada “aneh” gitu.

  • isi tidak sesuai dgn judul…… sungguh sangat disayangkan metode da’wah seperti ini, ibarat seperti mencari sensasi supaya blog ini dibaca… mudah2an apa yg ditulis sesuai dgn apa yg diamalkan.. Amin..

  • Kurang sepakat. saya mencoba menekankan pentingnya target (bukan harus khatam ya) harian dalam Ramadhan. kalau memang sasarannya adalah orang-orang yang belum fasih membaca al-qur’an, itu akan membantu melancarkan bacaan mereka (dengan ditarget).

  • benar jika saya membaca Al – Qur’an saya sering terburu buru dan tidak terlalu memperhatikan hukum tajwid untuk mengkhatamkan al – Qur’an . tapi saya ingin mengkhatamkan al – qur’an jadi yang harus saya lakukan itu apa ?

  • Hudzaifah Al-Ayyubi

    Belajar tajwid oke..
    Banyak baca juga oke..
    Biar tokcer.. Belajar + Praktek..
    Kalo utk yg jago tajwid.. Imam Syafi’i aja bisa khatam 2x sehari..
    Kira2 realistis gk?
    Kecepatan ust ana aj ketika khataman bisa 5 juz / jam..

  • subhanallah..

  • sebaiknya belajar tajwid itu ya diluar bulan ramadhan, shg saat ramadhan tiba sudah siap trek2an dgn target khatam bbrp kali….. ramadhan itu even grand prix dimana semua berlomba utk mengkhatamkan…. baik pemula maupun yg sudah pro….. lihat kisah2 ulama terdahulu dlm mentarget khatam di bulan ramadhan….. usaha yg bagus bikin artikel spt ini, ttp sebaiknya diperdalam dgn wawasan….. salam…. :)

  • Joko Handoyo

    Menurut saya jangan mematikan semangat untuk membaca Al-Quran apapun alasannya. Contoh Bahasa Inggris ngomong dengan orang asing, walau grammar dan pronounciation berantakan mereka bisa mengerti, nah apalagi bahasa Al-Quran, Allah Maha Tahu… memang derajatnya beda, yang dengan ilmu tentu lebih tinggi derajatnya.

  • Alfurqan

    Coba sebutin dalilnya , supaya hati ikhlas terima pendapat ini .
    Klo ini cuma ‘menurut antum’ hasilnya cuma buat melunturkan gairah ramadhan kaum awam kyk ana ini .

  • choy

    Judulnya ganti tuh,jangan cuma cari sensasi, yg justru menyebabkan salah persepsi bahkan bisa2 menyesatkan…
    Walloohu a’lam…

  • Jimmy Oscar

    benar…membaca Al-qur’an itu memang harus dengan tajwid yg benar…
    .teguran ini sudah lama di singgung oleh para ust tahun2 yg sudah lewat…
    .namun setidaknya mereka yang belum dapat membaca nya dengan tajwid…mereka masih akan mendapatkan pahala ….urusan pahala dan dosa hanya Allah yang tahu…
    .smoga kita senantiasa mempelajari ilmu tentang Al-qur”an…baik tajwid maupun tafsirnya…

  • sameer karunia

    Assalamualaikum… Alhamdulillah.. Sgt brmanfaat,sy stju dgn comnt (UTAMI),penulisan judul adlh stratgi untuk mncri pmbenaran,,agar qita mau mmbaca/mnyimak isi dri judul trsbut.. Intinya adalah qita harus Terus & teruslah belajar,karna ilmu tidak ada UJUNG-nya.

    • Muhammad Fajar Ramadhan

      iiya juga yahh .ilmu itu nga ada batasnya / ujungnya. sepintar pintarnya orang tetap saja dia masih belajar !. saya setuju gan !😁👍👍

  • Mencari Jalannya

    Mungkin ada benarnya terhadap apa yang dituliskan melalui artikel ini, Tapi sebaiknya menggunakan judul yang lebih membuat pembaca yang mungkin mereka telah semangat menuju jalan Tuhan-NYA dan mungkin momentum ini akan menjadi pembuka jalan kepada-NYA, sehingga melalui bulan Ramadhan tahun ini akan menjadi WASILAH beliau-beliau yang kuat niatnya dalam memperbaiki atau memotivasi dirinya untuk dapat membaca Al-Qur’an lebih tartil lagi. Dan sehingga Ramadhan tahun berikutnya mereka yang dahulunya pernah dalam keadaan below average Tajwid sudah pernah senang dan bangga dengan keyakinannya 1, 2, atau 3 kali khatam, bisa jadi 1, 2, atau 3 kali khatam namun kondisi tajwidnya sudah lebih baik dan hanya Allah yang tau nilai yang akan di dapatkannya.

    Sekarang, menurut anda, anda berapa dan yakin dengan yang anda baca adalah benar dan tartil, sehingga tulisan artikel ini perlu di revisi?

    Wallahualam bishowaf…

    Al Maidah : 35… :D

  • Terima kasih sudah diingatkan :)

  • Haflah Garudany

    agak gmn gitu baca kesimpulan yg:

    “Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-Qur’an. Mudah bukan?”

    saya pikir walaupun al0ikhlas 3x dibacanya ya tetap aja sepertiga soalnya yg itu2 juga, kan 2/3 lainnya ga dibaca :)

    • Prime

      ya baca 3 x lah……

      • apri dinnur

        Baca tanpa pemahaman apakah sama dengan katam qur’an?

        Kalo sekedar baca aja 100x pun boleh,ngga mesti 3x sama artinya katam qur’an kan?

  • Alfaris Izza Hafizha

    Berati saya baca yang Al Ikhlas 3 kali aja

  • apri dinnur

    Assalamualaikum wr.wb

    Benar juga tu,Lalu bagaimana dengan shalat taraweh imamnya membaca bacaan shalat dengan cepat2,jika membaca Al-Qur’an tanpa tajwid berarti memperolok2kan Al-Qur’an,apakah Iman dan mukminnya membaca ayat bacaan shalat dengan tetgesa2 juga bisa di artikan sebagai memperolok2 ibadah shalat itu sendiri.

    Wallahu a’lam

    Mohon di balas,trimakasih
    wAssalamuaalaikum warah’matullahi wabarakatu

  • Boy Siregar

    salahlah, jangan begitu, kan kalau tidak bagus tajwidnya dapatkan pahala ibadahnya 1 dan kalau bagus dapat 2 perbandingannya. Inilah bisikan iblis yang membuat orang tidak mau atau segan membaca Quran. Dalam sholat safina bahkan di khatamkan quran dalam 4 malam. Jadi saya mohon Jangan membuat Ummat ini menjadi keder akan quran, Allah swt tidak pernah memberatkan Hambanya dalam melakukan kebaikan meskipun salah membacanya bila tidak ada maksud untuk memang membuat salah masih dapat amal ibadah 1 perbandingannya dengan yang benar membacanya, begitu hebatnya Hukum agama ini. Silahkan khatamkan Al quran sebanyak banyaknya kapan saja, lebih bagus di bulan yang dirahmati Allah yaitu bulan Ramadhan yang semua amalan ditimbang lebih, Tapi ingat, Jangan lupakan kewajiban dunia juga untuk diri sendiri dan keluarga, Ini yang dianjurkan.

  • Cynthia Ayu W

    kok judulnya?????!!!….
    yah gimana ya, baru baca sepenggal aja bikin org yang msh (kurang) fasih membaca Al-Quran namun ingin jadi down, emang bener tajwid itu harus benar. namun sepertinya judul topik ini enggak banget :-) ksh judul jangan yg bikin orang penasaran krn bukan buat promosi jualan, jangan yg bikin orang berselisih.
    saya pribadi ga setuju dgn tulisan ini hampir 80% :-)
    niat orang yg mau baca atau mengkhatamkan Al-Quran udah nilai plus, sisanya urusan hamba-Nya dgn Allah.

  • Sandy Mahardika

    pertanyaan nya, antum sudah ngajarin tajwid berapa orang??
    yang lembah lembut aja ala Rasulullah SAW :)

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Pasar Merespons Positif Aksi Damai Bela Al-Quran 4 November