16:16 - Selasa, 02 September 2014
Eru Zain

Siapakah Negarawan Rabbani Itu?

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Eru Zain - 19/07/12 | 19:30 | 01 Ramadhan 1433 H

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Tahukah kita tentang arti dari negarawan?

Setiap orang mungkin berhak memiliki perspektif yang berbeda tentang sesuatu. Jadi, bolehlah saya ungkapkan pandangan saya mengenai arti negarawan dan siapakah negarawan itu. Kata negarawan berasal dari kata negara dan mendapatkan tambahan imbuhan wan. Negara sendiri mempunyai arti suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Negara juga berartikan suatu kelompok sosial yang menduduki wilayah atau daerah tertentu yang di organisasi di bawah lembaga politik dan pemerintah yang efektif, mempunyai kesatuan politik, berdaulat sehingga berhak menentukan tujuan nasionalnya.

Ada beberapa hal penting ketika akan memaparkan arti negarawan. Dalam ensiklopedian  dijelaskan ,seorang  negarawan  biasanya  merujuk  pada politisi atau tokoh yang  berprestasi  (berjasa)  satu  negara yang telah  cukup lama  berkiprah dan berkarir  di kancah politik  nasional dan internasional. “Negarawan adalah orang yang berjasa dan berkorban   demi bangsa dan negaranya, tidak memandang latar belakang politiknya” Negarawan adalah seorang yang ahli dan mempunyai peran besar dalam pengelolaan kehidupan suatu bangsa dan negara. Kemudian peran penting dan besar itu saya akumulasikan dalam sebuah kata yaitu pemimpin. Dari arti harfiah kita bisa memaknai bahwa negarawan adalah pemikir yang visioner dalam mengelola permasalah kenegaraan dengan karakter yang kuat sehingga kebijakan yang diambil merupakan kebijakan yang mulia dan berasaskan manfaat bagi seluruh kepentingan bangsa dan negara. Negarawan adalah orang yang berpikir secara luas dan mampu mengambil kebajikan lokal (local wisdom) sebagai salah satu pondasi kuat dalam menjalankan pembangunan bangsa.

Izinkan saya mengutip perkataan Drs. HMS. Suhary AM, MA seorang Direktur Pusat Studi Islam dan Politik Kenegaraan (PSIPK) Serang-Banten, untuk memperdalam lagi arti negarawan. Beliau berpendapat bahwa negarawan adalah seorang pemimpin kenegaraan atau orang yang memiliki komitmen yang tinggi (high commitment) terhadap negara dan rakyat serta berintegrasi dengan permasalahan kenegaraan. Selain itu, negarawan adalah pemimpin yang selalu memikirkan dan memperjuangkan kemajuan rakyat dan negaranya baik di pentas nasional maupun di dunia internasional. Kemampuan memimpin negara, mengorganisasi dan memobilisasi seluruh komponen rakyat serta mampu mengolah dan mengendalikan sumber daya alam demi untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya adalah ciri khas pemimpin negara yang berhasil karena memiliki karakter dan moral yang bagus (good moral and characteristics).

Ketika kita akan berbicara tentang siapakah negarawan itu, maka akan di dapat beberapa syarat yang membatasi karena sejatinya tidak setiap orang bisa di gelari negarawan. Negarawan itu adalah seorang manusia namun tidak semua manusia adalah negarawan. Negarawan bisa saja adalah kepala negara namun tidak semua kepala negara juga adalah negarawan. Negarawan adalah politisi namun setiap politisi bukan berarti negarawan. Negarawan adalah orang yang ahli namun tidak setiap orang yang ahli adalah negarawan. Namun kadang saya ingin merangkum semua tentang negarawan kedalam sebuah lingkup “kepemimpinan sejati”. Sebelum saya merangkumnya dalam “kepemipinan sejati” tentunya akan saya paparkan yang menurut saya adalah sebuah syarat atau profil dalam memandang lebih dalam siapakah negarawan itu. Beberapa syarat atau profil negarawan itu harus di lekatkan seluruhnya dan bukan dilekatkan secara parsial dan anda saya persilahkan untuk menambahkan pula namun jangan sampai berlebihan.

Negarawan itu adalah :

1. Negarawan itu adalah insan yang kokoh dalam berideologi

Ideologi menurut Cliffor Geertz adalah “sistem kultural”, Geertz memasukkan sistem religius dan politik kultural sekaligus dalam bingkai kerja. Bagaimanakah gambaran insan yang kokoh ideologinya. Saya akan gambarkan dengan teropong ideologi saya yaitu Islam. Seseorang yang berideologi adalah ia yang teguh dalam keimanan, dan ketika berbincang tentang keimanan pemahaman yang shahih berdasarkan pemahaman ahlus sunnah bahwa cakupan keimanan itu harus memenuhi tiga komponen ruang kerja yaitu mengakar dalam ruang hati, tegas dan lugas dalam ucapan dan realisasi yang komitmen dan konsisten dalam bentuk totalitas daya kerja.

Ketika ideologi keimanan yang kokoh telah merasuk ke dalam seorang negarawan maka ia akan melakukan perbaikan bukan merusak, ia akan mempersatukan bukan memecah belah, karena ideologi Islam tegak di atas warisan Ilahiyah seluruhnya berdasarkan teladan dari para utusan Allah seluruhnya.

Bagi seorang negarawan ideologi mempunyai beberapa urgensi hal ini saya analogikan dari konsep Islam, bahwa urgensi ideologi di antaranya:

  1. Ideologi merupakan fondasi utama dalam bangunan mendasar pandangan hidup negarawan, dari inilah terpancar seluruh aktivitas manusia, baik berupa ucapan, perbuatan bahkan keberadaannya di dunia
  2. Ideologi seseorang akan sangat menentukan kualitas amal perbuatannya, sah atau batal, diterima atau ditolak, dibalas atau terbuang sia-sia.
  3. Hati menjadi ruang bagi ideologi untuk tumbuh dan berkembang, menjadi kuat atau lemah sesuai dengan faktor-faktor pendukung yang mempengaruhinya.
  4. Ideologi adalah al ashl (fundamen), dan siapa pun tahu bahwa hal-hal yang fundamen jauh lebih harus diutamakan dari pada furu’ (cabang-cabang) apalagi komplementer lainnya.

Pengaruh Ideologi bagi amal kerja seorang negarawan .Akan ada beberapa pengaruh mendasar ideologi bagi seorang negarawan dalam ia menjalankan amal-amal kerja kenegarawanan, hal itu di antaranya:

a. Amal perbuatan yang dilakukan tidak berdasarkan Ideologi yang benar, maka amal itu tidak diterima Allah SWT.

“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti Abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS. Ibrahim: 18).

Hal ini menjadi pengaruh bahwa sejatinya seorang negarawan akan tunduk dan patuh menjadi seorang hamba Allah SWT dan menjadikan kerja kenegaraannya sebagai kerja totalitas untuk di persembahkan di hadapan Dzat yang Maha Sempurna.

b. Ideologi yang tidak kokoh akan menyebabkan semua amal perbuatan yang pernah diperbuat menjadi hangus dan sia-sia dan kerja sebagai insan bernegara tak akan membekas atau luput dari keberkahan.

c. Hubungan ideologi dan amal adalah bagaikan hubungan antara pohon dan buah. Sehingga buah-buah akan matan dan berasa manis ketika ideologi pun matang karena akar dan batangnya telah terkokohkan. Dari  itulah dalam banyak ayat Al Qur’an, amal perbuatan selalu dikaitkan dengan ideologi keimanan, mari kira resapi ayat-ayat berikut ini :

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu.” mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS. 2:25).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16:97).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang” (QS. 19: 96).

2. Negarawan adalah seorang ahli

Ketika berbicara tentang ahli maka izinkan saya mengalirkan arus ini kedalam makna yang erat kaitannya dengan kapasitas keilmuan. Sejatinya seorang negarawan adalah orang yang berilmu dan mumpuni pengetahuannya tentang negara, luas dan dalam pengetahuannya tentang wawasan kenegaraannya atau wawasan kebangsaannya. Seorang negarawan sudah mencapai tahapan seorang master namun bukan berarti pula ia sudah lulus S1 atau S3 dalam sistem pendidikan. Seorang negarawan harus berilmu karena peran ilmu begitu urgent dalam kehidupan begitupun dalam diri seorang negarawan. Mari kita tengok sejenak peran ilmu itu sendiri.

Pertama, ilmu akan menjadikan pembeda antara seorang pribadi negarawan dengan yang lainnya. Allah SWT berfirman :

(Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS Az Zumar: 9)

Ilmu merupakan salah satu nilai yang luhur yang berada di dalam diri seorang negarawan yang akan menjadikannya pembeda dengan yang lain.

Kedua, Ilmu adalah pemimpin amal/kerja. Ilmu berada di barisan depan. Ia mengarahkan, membimbing, dan memberikan koreksi bagi pelakunya. Muadz bin Jabal pernah berkata,

“Ilmu adalah imamnya amal dan amal menjadi pengikutnya.”

Imam Hasan Al-Basri berkata,

“Pelaku amal yang melakukannya tanpa ilmu, ibarat orang berjalan tidak pada jalannya. Pekerja tanpa ilmu lebih banyak merusak daripada memperbaiki”.

Maka dengan ilmu pula seorang negarawan akan mengekspresikan sifat kepemimpinannya dalam beramal. Karena beramal adalah realisasi nyata seorang negarawan.

Ketiga, Allah meletakkan orang berilmu di tempat yang paling tinggi. Keterangan ini terdapat di dalam firman Allah yang berbunyi:

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadalah: 11)

Seorang negarawan selayaknya harus memiliki derajat yang tinggi atau berada di tempat yang lebih tinggi. Bukan untuk menginjak rakyat yang ada di bawah. Posisinya di tempat yang tinggi selayaknya di tujukan agar ia lebih dekat dengan Tuhannya yang maha tinggi dan agar seorang negarawan mampu memandang sesuatu tujuan lebih jauh (visioner) dan menegakkan pandangan mata kepemimpinannya lebih luas.

Keempat, ilmu menjadikan penyebab kemuliaan dan kepercayaan Allah kepada manusia (Nabi Adam AS) menjadi khalifah walau manusia lebih sering berbuat kerusakan dan tentunya secara kesucian ada makhluk Allah SWT yang lebih suci dari dosa yang mungkin secara logika lebih berhak mewarisi pengelolaan bumi yaitu malaikat namun Allah memilih manusia. Hal ini di ceritakan dalam Al Qur’an:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana [35].” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (Al Baqarah: 30-33).

3. Negarawan itu adalah insan idealis dan konsisten

“Pencapaian idealitas negarawan adalah keniscayaan sebagai hamba yang bersyukur”

Negarawan akan memandang berbagai potensi sumber daya alam di negerinya tak ayal jika kita menutup mata akan kenyataan bahwa negeri ini memang mempunyai berbagai potensi. Seorang negarawan di butuhkan perannya, misalkan lihat saja salah satu negeri yang masih gandrung dengan masyarakat miskinnya, masih gandrung dengan generasi mudanya yang berpendidikan rendah, masih gandrung dengan ajaran pejabat-pejabatnya yang tiada henti menzhalimi rakyatnya, masih gandrung dengan berbagai kesengsaraan yang dialami bangsa ini, masih gandrung dengan masyarakatnya yang tak bermoral. Dan masih gandrung dengan orang-orangnya yang pintar namun pintar membodohi yang lain.

Untuk itulah negarawan harus berusaha menjadi insan yang beridealisme sebagai suatu modal perubahan. Tidak ada yang tidak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Namun suatu saat akan datang masanya di mana bangsa itu akan bangkit dan memimpin peradaban manusia dengan perantara kerja-kerja para negarawannya. Karena kepemimpinan bangsa-bangsa itu seperti roda, ada gilirannya di atas dan ada saatnya di bawah. Saat itu pasti akan datang karena selalu ada orang-orang yang bekerja untuk itu, untuk perubahan. Salah satu poin penting adalah, perubahan itu datangnya dari golongan elit. Jumlah negarawan itu sedikit, tapi daya aruhnya besar. Mengapa terjadi seperti itu? Karena yang sedikit ini memiliki peran yang penting disebabkan kualitas mereka yang mencerahkan. Bersyukurlah, karena dengan itu, kita masih bisa menghitung jumlah pahlawan yang harus kita hargai.

Negarawan merupakan golongan elit di bangsa ini. Dari sekian banyak orang di suatu negeri, merekalah yang memiliki kapasitas keilmuan lebih dari yang lainnya. Dan jumlah mereka sedikit. Sebenarnya, merekalah yang paling bisa diharapkan untuk memimpin perubahan bangsanya. Mari kita berbicara tentang sebuah idealitas seorang negarawan, banyak dari kita ketika ditanya tentang sebuah idealisme. Sungguh sebuah jawaban yang terlalu pesimistis. Hal ini menunjukkan mentalitas generasi kita dewasa ini. Generasi yang terlanjur trauma dengan beratnya jejak-jejak penjajahan kolonial, perekonomian yang kian memburuk dan krisis keteladanan dari generasi tua.

Ideal, idealis, idealitas adalah predikat bagi negarawan seharusnya. Menjadi ideal adalah sebuah pengharapan yang dibersamai dengan tindakan. Menjadi ideal menuju kesempurnaan adalah proses panjang yang harus dilewati kemudian diwujudkan. Terus berusaha, tanpa kenal kata henti adalah menjadi kata kuncinya yang harus di pegang oleh seorang negarawan. Kalau pepatah mengatakan, “No body perfect in the world”, Itu benar adanya karena memang sudah menjadi fitrah bahwa manusia itu ada pada kelemahan atau kekhilafan. Namun hal itu bukanlah berarti pasrah begitu saja, stop action? No. Sebuah hal yang ideal, untuk mencapainya butuh proses yang panjang, yang tak kenal lelah, yang terus melaju-fokus pada hasil akhir. Proses adalah segala-galanya bukan hasil. Proseslah yang menjadi parameter kesuksesan hakiki bagi seorang yang mengaku idealis.

Sebagai seorang yang mengaku berTuhan, kita akan teringat bahwa Allah melihat pada prosesnya bukan pada hasilnya. Proses yang baik dan benar serta hebat pasti membawa hasil yang baik, sekalipun secara lahiriah terlihat gagal dalam waktu tertentu tetap saja proses yang baik, benar dan hebat itu penuh keberkahan. Keberkahan-keberkahan itu semisal kesabaran yang patut dicontoh, kejujuran yang layak ditiru, kerja keras yang mesti dicontoh, kebahagiaan hati, dan ketenangan orang-orang sekeliling kita. Di sinilah akan lahir sebuah wahana yang dinamakan konsisten.

Proses yang baik dan konsisten, benar dan hebat itu cepat atau lambat pasti memberikan hasil yang mengagumkan. Ingat rumus berikut ini, keberuntungan adalah kesiapan yang bertemu dengan kesempatan. Kesiapan butuh proses yang panjang dengan konsisten yang kokoh. Nah, orang yang berproses sebenarnya tinggal menunggu waktu suksesnya. Sekarang begitu banyak parameter untuk menjadikan seorang negarawan yang ideal, mari tentukan sendiri parameternya yang seperti apa negarawan yang kita butuhkan. Intinya usaha seorang insan untuk menjadi seorang negarawan yang mengejar idealitas adalah sebuah cita-cita mulia dan itu ketika direalisasikan akan menjadi bentuk kesyukuran kita kepada Rabb kita Allah SWT atas anugerah yang diberikan kepada manusia dan inilah bentuk karya luar biasa untuk menjemput cinta dan senyuman dari Sang Rabb. Semoga selalu hadir dan terlahir negarawan-negarawan yang terus berusaha pantang menyerah menjadi manusia yang ideal untuk sebuah perubahan menuju negeri yang tersenyum.

4. Negarawan itu adalah perekat kehidupan bangsa

Di sini kita mencoba sedikit bersua tentang keberagaman. Sedikit menyinggung bagian sebelumnya yaitu tentang ideologi di salah satu ideologi yang pernah di dengungkan di dunia ini yaitu ideologi komunis. Di sana sangat kental sekali pengekangan terhadap arti keberagaman. Berbeda sekali dengan apa yang sejatinya telah Allah sampaikan. Bahwa Allah SWT menciptakan hambanya dari berbagai suku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan membuka diri dengan orang lain yang berbeda. Kekuatan negarawan di sini akan di uji bahwa semampu apa ia akan mempersatukan dan menaungi berbagai keragaman (pluralitas) yang sebenarnya ini adalah rahmat yang harus kita syukuri dan selayaknya seorang negarawan mampu melihatnya sebagai sebuah potensi kekuatan besar yang akan memanuveri kemajuan sebuah negara jika si kelola dengan baik.

Dalam keberagaman di tuntut terimplementasikannya nilai-nilai keadilan yang harus di tegakkan tanpa adanya intimidasi terhadap beberapa golongan saja. Nilai keadilan akan menjadi sebuah rahim tempat lahirnya kepercayaan terhadap seorang negarawan dan dari sinilah kekuatan sejati kerja politik yang cerdas hanya untuk mengelola bukan untuk di selewengkan dan ketika terselewengkan maka warna indah yang memancar dari dalam diri negarawan lambat laun memudar bersama menguapnya keberkahan.

5. Negarawan adalah seorang inisator sekaligus fasilitator penyelesaian problema

Masih ingatkah kita dengan semboyan yang pernah di dengungkan sebagai nilai aspirasi yaitu rakyat begitu menghendaki pemimpin yang merakyat. Namun bagaimanakah sejatinya pemimpin yang merakyat itu. Baiklah di sini sedikit akan coba saya integrasikan. Seorang negarawan ia adalah pribadi yang berinisiatif tanpa harus di suruh bersegera menyelesaikan permasalahan yang ada yang menyangkut permasalahan individu atau permasalahan orang banyak dan ia menjadikan langkah geraknya sebagai tugas panggilan jiwa dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Dan inisiatif ini melahirkan kepekaan yang tajam dalam jati dirinya. Seorang negarawan akan berproses untuk mengokohkan kepribadian kepemimpinannya dari jauh-jauh hari. Ia belajar dengan turun langsung untuk menyelesaikan permasalahan.

Ketika didatangkan suatu ujian permasalahan seorang yang mempunyai potensi kenegarawan ia akan bersyukur ketika ia dihadapkan permasalahan. Berpandanganlah ia bahwa masalah itu adalah ujian yang akan menjadi proses alih jenjang tingkat kesabarannya meniti kehidupan dan meningkatkan posisi dia agar lebih dekat dengan dekapan Allah SWT. Ia akan bersegera menyambut permasalahan untuk ia selesaikan. Dan semakin ia terjun ke permasalahan untuk menyelesaikannya dengan bijak maka ia semakin menikmati proses perjuangan. Tetap tersenyum dengan cerah dan penuh obsesi dan selalu ada hikmah dan pelajaran baru yang bisa ia unduh dari proses-proses hidupnya. Permasalahan adalah sunnatullah untuk kehidupan ia akan seal ada selama kehidupan ini berputar dan kita masih ada dalam lingkaran kehidupan itu, namun yang perlu kita cermati adalah bukan hanya permasalahannya namun bagaimanakah cara kita menyikapi permasalahan yang ada dengan sikap positif yang lahir dari perasaan dan pikiran yang positif. Semua di lakukan dalam sebuah koridor pengabdian diri kepada Allah SWT.

Eru Zain

Tentang Eru Zain

Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik: ,

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 6,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 3,329 seconds.