Aku Kecewa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kawan, kita yang sering melakukan khilaf (terlebih saya), kerap dengan gampangnya melupakan kebaikan orang lain kepada kita hanya karena satu kekecewaan yang langsung mengena di dalam hati.

Adalah kita manusia, yang mudah melakukan kesalahan dan kerap mengulangnya. Antar manusia. Rasa sakit pun kerap singgah di dalam hati. Sepintar apapun manusia mampu menutupi, pasti pernah merasakan rasa sakit. Bedanya, ada yang memunculkan kebencian itu dengan hebatnya dan ada pula yang menyembunyikannya dengan sangat hebat.

Ya, itulah mengapa ketika ingin sekali bersandar pada manusia, maka akan kecewa yang didapat. Sekecil apapun, oleh siapapun. Meskipun dengan orang yang kita cintai sekalipun. Kecewa adalah hal yang lumrah, karena manusia memiliki rasa. Kekecewaan yang berlebihan mampu menimbulkan amarah atau dendam.

Setiap manusia pasti memiliki masalah. Setiap manusia pasti ingin didengar segala macam masalahnya. Tapi jika semuanya hanya ingin didengar tanpa mau mendengar, maka bisa menjadi salah satu penyebab kekecewaan.

Semaksimal mungkin bisa membiasakan diri akan sifat manusia yang beragam, supaya dapat menyikapinya dengan tidak berlebihan. Karena manusia terkadang sulit ditebak. Pada saat ini baik, sehingga kita mulai mengaguminya. Kemudian di lain waktu karena suatu kesalahan (entah sengaja atau tidak), maka kekaguman pun berubah menjadi sebuah kekecewaan.

Itulah mengapa hanya Allah saja yang pantas menjadi tempat bersandar (Allah tempat meminta), tidak ada yang lain. Karena dengan Allah, ketenangan yang akan diraih.

Namun, jika kekecewaan sudah terlanjur masuk ke dalam hati, simpanlah ia tetap di dalamnya. Jangan biarkan ia keluar, kecuali pada tempat yang sebenarnya (tidak merugikan siapapun). Serahkan kecewa kepada Allah. Mintalah kelapangan selalu kepada Allah. Hati yang lapang akan bisa memanage segala macam rasa dengan baik (insya Allah).

Manusia…

Makhluk paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah lainnya. Makhluk yang dititipi rasa untuk bisa digunakan sebaik mungkin. Baik dan buruk adalah pilihan, yang kemudian berasal dari manusia sendiri. Kebaikan adalah jalan yang selalu Allah tunjukkan untuk diikuti. Sedang nafsu sering membelokkan kebaikan kearah keburukan.

Allah, Rabb semesta alam. Pencipta segala macam keindahan. DenganNya adalah alasan segala keburukan harus berganti menjadi kebaikan. Hanya kebaikan. Meski terpaan rintangan menghadang. Berusaha dengan Asma Allah yang selalu bergema di dada. Hanya dengan Allah, hanya karena Allah.

Bagi saya sebagai manusia yang penuh dengan khilaf, yang seringkali menimbulkan kekecewaan pada hati kawan-kawan. Semoga tulisan ini pengingat diri sendiri, menjadi pribadi yang mampu meminimalisir kesensitifan, mengabaikan segala kerancuan hati dengan selalu mengingat Allah. Insya Allah.

Allahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Terkait Lurah Non-Muslim, Mendagri: “Saya Kecewa atas Kepongahan Ahok”