Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta dan Lupa Kepada Lima Perkara

Cinta dan Lupa Kepada Lima Perkara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (photobucket/ericalevell)

dakwatuna.comKehidupan di dunia sangatlah memperdayakan. Apalagi hiruk pikuk kehidupan dunia di era modern sekarang ini sungguh melenakan. Dengan adanya kecanggihan teknologi dan akses informasi yang serba gampang semakin menimbulkan kecintaan terhadap dunia. Berbagai macam wahana permainan online dan jejaring sosial terutama Facebook dan twitter yang menawarkan kesenangan membuat kehidupan ini seakan-akan abadi untuk selamanya. Dan kita pun kadang terlena dengan dunia maya tersebut sehingga lupa akan kehidupan selanjutnya.

Rasulullah SAW kurang lebih 14 abad yang silang telah menggambarkan bahwa manusia yang menyibukkan diri terhadap urusan dunia, mereka lebih mencintai lima perkara dan akan lupa terhadap lima perkara.“Akan datang kepada umatku suatu zaman, di mana mereka cinta kepada dunia dan lupa kepada akhirat, cinta kepada harta dan lupa kepada perhitungan, cinta kepada makhluk dan lupa kepada Sang Khaliq, cinta kepada dosa dan lupa akan taubat, cinta kepada mahligai dan lupa kepada makam (kuburan)”

Sungguh Rasulullah telah mewanti-wanti umatnya agar menghindari hal yang demikian. Tentunya ada maksud dan tujuan baginda Rasulullah saw berpesan demikian. Sebagaimana Anas telah meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa: ”Dihadapkan orang yang paling merasakan kenikmatan di dunia dari ahli neraka, lalu ia dicelupkan ke neraka sekali celup. Kemudian ditanyakan kepadanya. ’Wahai anak Adam, apakah kamu melihat satu kebaikan pun? Apakah telah berlalu di hadapanmu satu kenikmatan pun?’ Ia menjawab, ’Tidak, demi Allah wahai Robb,  Lalu dihadapkan orang yang paling menderita di dunia dari ahli surga. Ia dicelupkan sekali celupan di surga dan ditanyakan padanya, Apakah kamu melihat suatu penderitaan pun? Apakah pernah lewat di hadapanmu suatu penderitaan pun? Ia menjawab, Tidak, demi Allah wahai Robb, tidak pernah lewat di hadapanku suatu penderitaan pun, dan aku tidak pernah melihat suatu kesusahan pun” (HR. Muslim)

Hadits di atas telah memberikan penjelasan yang gamblang bahwa marilah kita menghindari cinta akan lima perkara yang telah Nabi sebutkan. Dengan harapan kita tidak termasuk orang-orang yang tidak menyesal di akhirat kelak. Sungguh cinta kepada dunia akan melalaikan hidup kita serta membutakan hati. Sebagian ahli hikmah berpendapat, cinta dunia mengakibatkan empat kerugian, yaitu di dalam hati akan timbul keragu-raguan terus-menerus, selalu merasa kekurangan, selalu direpotkan/disibukkan dengan berbagai masalah, dan selalu diganggu dengan keinginan-keinginan yang tiada henti. Rasulullah saw berkata: “Barangsiapa yang mendambakan kehidupan akhirat, Tuhan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dikumpulkan segala kepentingannya dan diberikan kepadanya kenikmatan hidup di dunia seperlunya saja. Dan barangsiapa menginginkan kehidupan dunia, Allah menjadikan kemiskinan antara dua matanya, dipisahkan darinya segala yang menjadi kebutuhannya, dan tidak diberikan kepadanya kenikmatan hidup, kecuali apa yang sudah ditentukan”

Selain cinta kepada dunia yang banyak merasuki manusia modern seperti sekarang. Satu hal yang sangat mereka cintai adalah harta benda. Cinta harga kini dipandang sebagai hal mutlak dalam menjalani kehidupan agar mudah mendapatkan apa yang diinginkannya. Mereka rela melakukan apa saja demi harta. Bahkan cara kadang cara haram pun dihalalkan demi harta tersebut. Begitu banyak manusia telah terpedaya akan kesilauan harta. Namun sadarkah kita bahwa harta dapat membutakan mata hati kita, menyibukkan pikiran kita, membuat kita menjadi was-was, dengki, tamak, bakhil dan kesengsaraan-kesengsaraan hati lainnya.

Kiranya memang benar apa yang telah ditulis oleh Ibnu Atho’illah dalam kitab Al Hikamnya. Beliau menerangkan bahwa jika ada manusia yang cinta akan sesuatu, maka ia akan menjadi budak/hamba dari apa yang dicintainya. Jika seseorang cinta kepada harta maka orang tersebut akan rela melakukan apa saja demi harta yang dicintainya. Mereka menjadi hina karena hartanya, bahkan yang lebih parah mereka menyediakan diri untuk dihinakan karena hartanya. Berapa banyak orang-orang yang menjilat orang lain lantaran karena dengan menjilat itu dia mendapatkan harta yang melimpah, bahkan mereka rela mengeksploitasi anak-anak, istri, dan seluruh keluarganya demi mendapatkan harta yang berlimpah. Padahal harta yang dibangga-banggakannya itu tidaklah sedikit pun menolong mereka dari siksa Allah.

Umar bin Khattab telah berpesan dalam khutbahnya, ”Buatlah perhitungan atas dirimu sebelum engkau diperhitungkan (dihisab) oleh Allah.”

Dari berbagai sumber.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Syarief Kate
Penulis.

Lihat Juga

Geliat Cinta Pejuang