Home / Berita / Opini / Kita dan Suriah

Kita dan Suriah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi – Peta Suriah (inet)

dakwatuna.com “Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk dalam golongan kaum Muslimin itu”(HR Ath-Thabrani)

Isu Arab Spring kini sudah bukan barang baru lagi. Bahkan ia menjadi salah satu topik hangat di berbagai media nasional maupun internasional. Mulai dari gejolak di negeri Tunisia, Libia, Mesir, hingga Suriah ramai dibincangkan khalayak. Ini seakan menguatkan hipotesis bahwa memang saat ini negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara sedang hamil tua, kata Ust. Fahmi Salim, M. A. Artinya, aroma potensi konflik vertikal antara ‘dinasti’ penguasa dengan rakyat jelata amat kentara. Itulah yang saat ini sedang berlangsung di negeri Suriah (Syiria). Demikian jebolan S2 Universitas Al-Azhar ini berkomentar mengawali pembicaraan dalam agenda “Mabit Peduli Suriah” yang digelar AQL (Ar-Rahman Quranic Learning) beberapa hari lalu.

Ust. Fahmi melanjutkan, bahwa sudah seharusnya krisis Suriah ini mendapat perhatian khusus. Dilihat dari jumlah korban yang berjatuhan, sudah selayaknya jika taraf perhatian kita tidak hanya pada level peduli, namun harus merambah ke tingkatan aksi. Tentu saja bentuk aksi yang harus kita lakukan boleh berbeda-beda, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Adapun hal ‘terkecil’ yang tidak boleh kita tinggalkan ialah mengirimkan doa, di samping bantuan riil lain tentunya.

Dalam laporan langsung melalui telepon dari Masjid Sultan Muhammad Al-Fatih, Istanbul (Turki), ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Ust. Ferry Nur (07/07/2012), menyampaikan bahwa dia melihat secara langsung bagaimana hasil kebengisan rezim Bashar Al-Assad (presiden Suriah). Kawasan Turki memang menjadi salah satu kamp pengungsian warga sipil Suriah yang lari dari negeri mereka yang sudah tidak aman. Tak sedikit anak-anak dan wanita yang menjadi korban baik dalam bentuk luka berat maupun meregang nyawa. Jumlah korban tewas menurut beberapa sumber terakhir menyatakan sudah mencapai sekitar 20.000 jiwa, sedangkan yang luka-luka menembus angka kira-kira 50.000 warga. Tentu jumlah ini masih ada kemungkinan bertambah mengingat hingga kini konflik belum berakhir.

Sementara itu, Ust. Farid A. Okbah menuturkan bahwa persoalan Suriah hendaknya menjadi peringatan bagi seluruh kaum Muslimin bahwa memang musuh Islam tak akan berhenti berbuat makar. Dalam hal ini, rakyat Suriah yang mayoritas Ahlus Sunnah menuntut adanya penyehatan birokrasi pemerintah sukses dibuat kalang kabut oleh pemerintahan Assad di bawah kendali Syi’ah. Dengan demikian, mengenali dan menetapkan dengan jelas siapa saja yang memang telah Allah nyatakan sebagai musuh kita tak boleh dilupakan. Hal ini membuat kita lebih waspada terhadap kejahatan yang bisa mereka rancang dengan bungkus rapi. Namun demikian, sudah kepalang tanggung. Ini adalah kelalaian bersama. Hal terpenting saat ini, menurutnya, ialah kita semua bahu-membahu membantu saudara seaqidah secara maksimal sesuai kemampuan masing-masing. Cukuplah janji Allah akan datangnya kemenangan dalam kubu Islam sebagai penyulut semangat juang tanpa henti membela yang haq.

Secara singkat memang apa yang terjadi saat ini di Suriah ialah laksana pembantaian massal penguasa terhadap rakyat. Terdengar tak logis memang. Namun, demikianlah faktanya. Hanya karena rakyat meminta hidup wajar dengan pemerintahan yang memihak kepada kepentingan rakyat dan anti dinasti kekuasaan, mereka harus menanggung akibat yang besar. Alih-alih didengar aspirasi yang sudah disampaikan dengan jalan damai, pemerintah melalui pasukan militer bersenjata lengkap membasmi rakyatnya sendiri secara membabi buta. Tak cukup orang dewasa, anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia pun tak lepas dari terjangan bodoh pemerintah Suriah. Bahkan dalam sebuah video dokumenter tampak mayat anak-anak dalam keadaan amat mengenaskan tergeletak di mana-mana. Belum lagi yang terluka parah sambil meraung-raung menahan sakitnya. Juga didapati seorang wartawan yang tertangkap basah meliput mendapat ‘imbalan’ dari militer Suriah. Dia dikubur hidup-hidup oleh pasukan Suriah. Betapa tak berperikemanusiaannya tindakan ini. Oleh karena itu, tak ada lagi yang boleh berdiam diri. Lakukan walau sekecil apapun yang bisa kita kerjakan.

Ya Allah, tolonglah saudara kami yang berada di Suriah sana.
Hancurkan pasukan Assad yang zhalim itu, Ya Rabb
Jadikan kemenangan selalu berada dalam agama-Mu ini, Ya Allah.
Engkaulah Penguasa Alam Semesta

*Disarikan dari penyampaian materi oleh ketiga pembicara tersebut dalam agenda “Mabit Peduli Suriah” sebagai salah satu rangkaian acara grand launching AQL Islamic Center sekaligus penggalangan dukungan terhadap perjuangan rakyat Suriah. Acara ini digelar pada tanggal 7-8 Juli 2012 di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan. 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Ilustrasi - Peta Suriah (inet)

Membaca Masa Depan Perang Suriah